Rangkaian lomba meliputi tarik tambang, estafet air, balap karung, kait kawat, kardus merangkak, tiup cup, Peraturan Baris Berbaris (PBB) tutup mata, hingga lomba menghias kelas bertema provinsi-provinsi di Indonesia.
Lomba terakhir menjadi sorotan karena mendorong kreativitas siswa sekaligus mengenalkan kekayaan budaya nusantara, sejalan dengan misi sekolah dalam menanamkan kebanggaan terhadap keberagaman bangsa.
Wakil Kepala Kesiswaan MTs Negeri Kota Cimahi, Amin Asnawi, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki nilai urgensi yang tinggi dalam konteks pendidikan karakter.
“Secara seremonial, kegiatan ini tetap menanamkan nilai kebangsaan, nilai persatuan pada siswa. Kebersamaannya, gotong royongnya, dan semangat bersama-sama inilah yang ingin kami tumbuhkan,” ujarnya.
Berbeda dengan perayaan serupa di banyak sekolah, kegiatan ini sepenuhnya dikelola oleh OSIS.
"OSIS yang merancang, kami dari pihak sekolah hanya mendukung saja. Ini murni dari siswa untuk siswa,” tambahnya.
Dengan melibatkan seluruh siswa, kegiatan ini juga berfungsi sebagai latihan kepemimpinan dan manajemen kegiatan bagi pengurus OSIS.
Antusiasme siswa terlihat jelas. Dari total 1.040 siswa, semuanya ikut terlibat tanpa terkecuali.
“Artinya keseluruhan siswa ikut terlibat, dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa,” jelas Amin.
Lomba menghias kelas bahkan memicu partisipasi spontan, begitu diumumkan, siswa langsung bergerak serentak menyiapkan dekorasi dengan bahan-bahan sederhana seperti kertas, agar tidak memberatkan peserta.
Pemilihan tema “Merdeka Ber-Bhinneka” selaras dengan visi sekolah yang menekankan penguatan nasionalisme. Amin menjelaskan, nilai persatuan dan cinta tanah air tidak hanya hadir di acara seremonial, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran formal di mata pelajaran PKn dan IPS.
Upacara rutin pada momen-momen penting, seperti Hari Kemerdekaan dan Hari Pramuka, juga menjadi media untuk menanamkan nilai ketahanan, disiplin, dan persatuan.
Dalam perspektif pendidikan, kegiatan seperti ini berfungsi ganda, mempererat interaksi sosial antar siswa dan menanamkan nilai kebangsaan melalui pengalaman langsung, bukan sekadar teori di ruang kelas.
Hal ini relevan mengingat tantangan globalisasi dan arus informasi yang berpotensi mengikis identitas nasional di kalangan remaja.
Amin berharap seluruh siswa, dan generasi muda secara umum, mampu menjaga semangat kebersamaan dan mencintai tanah air dengan lebih dalam.
“Harapannya, anak-anak lebih mencintai negara kita dengan menanamkan rasa kebersamaan dan persatuan sejak dini,” pungkasnya. (SAT)
0 Komentar