SURAT KABAR,KBB– Ketika malam turun di Jalan Terusan Gegerkalong Hilir, Kp. Lembur Tengah, Desa Sariwangi,Bandung Barat suasana berubah drastis.
Tak ada sinar lampu jalan yang menemani langkah atau laju kendaraan. Hanya pantulan cahaya dari rumah-rumah yang bisa dihitung dengan jari.
Dan sesekali sorot lampu motor atau mobil yang melintas cepat di jalur sempit itu.
Bagi Hanif Alfarizi (21), seorang montir muda yang tinggal dan membuka bengkel di kawasan RW 08, Desa Lembur Tengah, Desa Sariwangi, hari-hari seperti itu sudah menjadi bagian dari rutinitas.
Namun, ia tak menampik ada rasa cemas yang terus mengintai setiap kali malam menjelang.
“Ya kalau malam hari di sini itu gelap banget, bahkan penerangan pun hanya dari rumah warga yang terhitung jari dan dari cahaya kendaraan yang lewat,” ujarnya lirih kepada wartawan, Kamis 7 Agustus 2025.
Di balik ruang bengkelnya yang sederhana, Hanif harus menghadapi kenyataan lain, saat hujan deras datang, air dari jalan yang tak tertampung drainase kecil meluap, masuk tanpa permisi ke dalam bengkelnya. Beberapa peralatan rusak. Barang-barang harus ia selamatkan tergesa-gesa.
“Waktu hujan besar sempat air meluap ke dalam (bengkel), bahkan warung sebelah bengkel saya pun terkena imbasnya,” keluhnya.
Tak jauh dari sana, Santoso (36), warga yang setiap hari melintasi jalur tersebut, membagikan kekhawatiran yang sama.
Ia bukan hanya takut soal banjir. Ketakutannya jauh lebih mendasar, keselamatan.
“Intinya takut kecelakaan saja, soalnya kan ruas jalan juga agak sempit terus dua arah, dari Sariwangi menuju Bandung. Kalau malam hari, dengan kondisi gelap seperti ini takutnya terjadi tabrakan,” katanya.
Santoso sudah lama tinggal di kawasan ini. Dan selama itu pula, ia menyaksikan jalan yang sama terus rusak, berlubang, tergenang, dan dibiarkan seolah tidak ada yang peduli.
Ia mengaku seperti tinggal di sudut yang terlupakan meski sejatinya wilayah tersebut adalah simpul penting yang menghubungkan Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat.
“Jalan rusak, bolong, tergenang air, licin, solokan sempit juga tersumbat, parah deh pokoknya. Seolah kawasan (Lembur Tengah) ini tidak diperhatikan sama sekali, padahal jalur krusial untuk memutar jalan dari tanjakan Endog,” katanya, suaranya meninggi sedikit, tanda geram yang tertahan lama.
Lebih dari sekadar rasa lelah, warga di kawasan ini menyimpan harapan yang terus mereka perjuangkan.
Mereka tak meminta fasilitas mewah mereka hanya ingin penerangan yang cukup, jalan yang aman dilalui, dan perlindungan dari ancaman kecelakaan maupun kejahatan di malam hari.
“Pengennya sih pemerintah bertindak cepat memperhatikan dan memperbaiki kawasan di sini. Kami juga warga mengeluhkan terus karena lampu penerangan enggak ada. Ada juga dari beberapa rumah warga, terus jalan yang rusak enggak dibenerin terus,” tutur Santoso, menutup percakapan dengan nada pasrah.
Berdasarkan pantauan di lokasi, menunjukkan kondisi kawasan tersebut memang sangat memprihatinkan.
RW 07 dan RW 08 di Desa Lembur Tengah terjebak dalam gelap yang sunyi, rusaknya infrastruktur jalan, dan kecilnya saluran air yang tak sanggup menampung debit hujan.
Kendaraan kerap terperosok di lubang besar yang tergenang air, tak jarang harus mendorong atau memperbaiki langsung di pinggir jalan.
Di tengah segala keterbatasan itu, warga hanya berharap suatu saat ada yang mendengar jeritan mereka.
Bahwa hidup di perbatasan bukan berarti harus hidup dalam kegelapan, genangan, dan kekhawatiran yang tak kunjung usai. (SAT)
0 Komentar