SURAT KABAR, CIMAHI – Peristiwa amblesnya badan jalan di kawasan Sangkuriang, Kelurahan Cibabat, Kota Cimahi, diidentifikasi sebagai akibat dari sejumlah faktor alamiah dan teknis yang bersifat multidimensional.
Salah satu penyebab utama adalah curah hujan yang sangat tinggi dalam periode cuaca ekstrem, ditambah dengan kondisi saluran drainase yang tidak optimal.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fitriandy Kurniawan menyatakan, fenomena tersebut terjadi secara alami, namun diperparah oleh hambatan pada saluran air yang membuat aliran mencari jalurnya sendiri, dan melewati celah-celah bawah tanah yang berada persis di bawah badan jalan.
"Jadi kejadian di Jalan Sangkuriang, Kelurahan Cibabat itu, jalan raya yang amblas tersebut kejadiannya alami ya. Kembali saya sampaikan, itu adalah multifaktor, di mana curah hujan yang cuaca ekstrem pada saat itu memang ada saluran drainase terhambat sehingga air mencari jalannya sendiri," ujarnya.
Ia menjelaskan, aliran air yang tidak tertampung dengan baik telah menggerus struktur bawah tanah yang secara alami sudah ada, dan kebetulan di atasnya terdapat badan jalan.
Jalan tersebut juga dikategorikan sebagai jalan provinsi, sehingga memiliki intensitas lalu lintas yang cukup tinggi.
"Kemudian mengaliri saluran-saluran air bawah tanah alami, yang kebetulan di atasnya terdapat jalan. Itu termasuk jalan provinsi, sehingga terjadilah amblas," tambahnya.
Meski demikian, pemerintah kota telah mengambil langkah cepat untuk menanggulangi peristiwa tersebut. Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Cimahi, proses perbaikan kini hampir rampung.
"Sekarang setelah ditangani, kita asesmen, tanggalnya sudah dikerjakan oleh DPUPR Kota Cimahi. Dan sekarang pengerjaannya sudah hampir 90 persen, kalau tidak salah lihat dari pengamatan saya di lapangan. Jadi boleh dikatakan hampir tuntas penanganannya dan sekarang perbaikannya selesai,” ungkapnya.
Mengenai kondisi struktur tanah, ia mengakui dirinya tidak memiliki kapabilitas atau kompetensi dalam bidang geoteknik, sehingga diperlukan kajian ilmiah lebih lanjut dari institusi yang berwenang.
"Konstruksi tanah saya tidak berkapabilitas dan tidak berkompeten, terutama ya apabila untuk keterangan mengenai tanah mungkin harus diadakan penelitian oleh yang membidangi," ujarnya.
Namun secara garis besar, lanjutnya, memang tanah di Cimahi bisa dikatakan cukup gembur. Ditambah lagi curah hujan yang tinggi, jadi di beberapa tempat saya dengar ada kejadian longsor kecil, tanah amblas.
"Demua kebencanaan yang diakibatkan oleh pergerakan tanah walaupun minimal, kecil," kata Fitriandy.
Ia menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana alam di wilayah Kota Cimahi. Upaya mitigasi, menurutnya, tidak dapat hanya mengandalkan institusi pemerintah.
"Antisipasi mengharapkan kesiapsiagaan masyarakat dalam peran mitigasi, terutama bukan hanya pergerakan tanah, tapi juga keadaan kesiapan masyarakat dalam menghadapi semua bencana yang ada di Kota Cimahi," tuturnya.
Dalam konteks teknis, ia juga menegaskan bahwa tidak bisa serta-merta menyatakan kondisi geologi sebagai penyebab utama tanpa riset mendalam dari dinas teknis seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan.
"Saya tidak bisa mengatakan itu, sebetulnya tidak bisa berstatemen itu. Ini juga, barangkali, jangan dikutip. Karena ada yang di bidang pertanahan, kontur tanah, dan kan perlu penelitian, perlu survei oleh dinas terkait. Tapi secara garis besar seperti itu saya lihat," ujarnya.
Terkait jembatan yang berada dalam pengelolaan Pemkot Cimahi, ia menjelaskan kerusakan yang terjadi juga dipengaruhi oleh kombinasi dari cuaca ekstrem, saluran drainase yang kurang optimal, serta umur konstruksi yang sudah lama.
"Termasuk jembatan Pemkot itu, multifaktor, cuaca, saluran yang kurang berfungsi, kemudian hujan yang tinggi, dan mungkin juga umur konstruksi ya memang sudah lama," katanya.
Namun ia memastikan bahwa berdasarkan hasil asesmen teknis bersama DPUPR, kondisi struktur utama jembatan masih dalam keadaan baik.
Fokus saat ini adalah pada penguatan elemen penunjang seperti tembok penahan tanah di sisi kiri dan kanan jembatan.
"Kembali saya sampaikan, sesuai asesmen kami bersama DPUPR, konstruksi jembatan tersebut, sloof, kolom, kemudian pondasi dan sebagainya, itu dalam keadaan baik, masih sangat baik. Yang harus diantisipasi adalah kondisi tembok penahan tanah di kedua sisi jembatan," pungkasnya. (SAT)
0 Komentar