SURAT KABAR, BANDUNG — Persoalan disleksia tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan kemampuan membaca dan menulis seorang anak. Sistem pendidikan juga dituntut mampu mengenali kebutuhan belajar yang beragam agar anak dengan disleksia tidak semakin tertinggal atau justru mendapatkan stigma di lingkungan sekolah.
Pengamat pendidikan sekaligus Majelis Pakar Dosen Lintas Kolaborasi Perguruan Tinggi, Billy Martasandy, mengatakan sekolah memiliki peran penting dalam memastikan anak dengan kesulitan belajar mendapatkan ruang pendidikan yang sesuai.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar adalah pola pembelajaran yang masih cenderung menggunakan ukuran kemampuan yang seragam untuk seluruh peserta didik.
“Ketika semua anak diukur dengan standar dan cara belajar yang sama, anak dengan kebutuhan belajar tertentu bisa terlihat tertinggal. Padahal, belum tentu persoalannya ada pada kemampuan berpikir mereka,” kata Billy.
Billy menilai disleksia perlu dipahami sebagai bagian dari keberagaman proses belajar. Karena itu, guru tidak cukup hanya memberikan tambahan tugas atau meminta anak lebih banyak membaca ketika menemukan siswa yang mengalami kesulitan membaca.
Pendekatan tersebut justru dapat menjadi beban apabila tidak disertai pemahaman mengenai kondisi anak.
“Menambah beban latihan tanpa memahami penyebab kesulitan anak bukan selalu menjadi solusi. Guru perlu melihat pola kesulitannya, kemudian menentukan strategi pembelajaran yang lebih tepat,” ujarnya.
Menurut Billy, guru menjadi salah satu pihak yang memiliki posisi strategis dalam mendeteksi kemungkinan adanya kesulitan belajar. Guru dapat mengamati perkembangan kemampuan membaca, menulis, mengeja, memahami instruksi, hingga konsistensi kesalahan yang dilakukan siswa.
Meski demikian, Billy menekankan bahwa guru bukan pihak yang melakukan diagnosis medis atau psikologis.
Temuan di kelas seharusnya menjadi pintu masuk untuk melakukan komunikasi dengan orang tua dan, apabila diperlukan, melibatkan tenaga profesional untuk melakukan asesmen.
“Sekolah perlu membangun mekanisme rujukan. Ketika guru menemukan pola kesulitan yang menetap, jangan langsung memberikan label. Komunikasikan dengan orang tua dan libatkan profesional untuk mengetahui kebutuhan anak,” katanya. Ia juga menyoroti pentingnya mengubah budaya sekolah terhadap anak yang mengalami disleksia.
Menurutnya, ejekan, perbandingan dengan teman, atau pemberian label seperti “malas membaca” dan “lambat belajar” dapat memperburuk kondisi anak. Sekolah harus menjadi tempat yang memberikan rasa aman sehingga anak tidak takut melakukan kesalahan ketika belajar.
Billy mengatakan, pendidikan seharusnya tidak hanya mengejar kemampuan akademik, tetapi juga memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya.
“Sekolah jangan hanya bertanya, ‘Seberapa cepat anak ini membaca?’ tetapi juga harus bertanya, ‘Bagaimana cara terbaik agar anak ini bisa belajar?’ Itu dua pertanyaan yang sangat berbeda,” ujarnya.
Ia menilai diperlukan kolaborasi antara guru, orang tua, psikolog, tenaga pendidik, serta pihak lain yang berkaitan dengan perkembangan anak.
Kolaborasi tersebut penting agar penanganan disleksia tidak berjalan sendiri-sendiri.
Sekolah memahami kebutuhan akademiknya, orang tua memberikan dukungan di rumah, sementara profesional membantu melihat aspek psikologis maupun perkembangan anak secara lebih komprehensif.
Billy juga mengingatkan agar keberadaan disleksia tidak dijadikan alasan untuk menurunkan ekspektasi terhadap seorang anak.
Sebaliknya, pendekatan pendidikan harus membantu anak menemukan cara belajar yang paling sesuai tanpa menghilangkan standar perkembangan yang ingin dicapai.
“Memberikan akomodasi bukan berarti memanjakan anak atau menurunkan standar. Justru kita sedang memberikan kesempatan yang lebih adil agar anak dapat menunjukkan kemampuan sebenarnya,” kata Billy.
Menurutnya, semakin cepat lingkungan pendidikan memahami disleksia, semakin besar peluang anak untuk berkembang tanpa membawa stigma negatif sepanjang perjalanan pendidikannya.
“Anak tidak boleh kehilangan masa depannya hanya karena sistem pendidikan gagal memahami cara dia belajar,” pungkasnya. (DAM)


Posting Komentar