SURAT KABAR, BANDUNG — Disleksia masih kerap disalahpahami sebagai bentuk kemalasan, kurangnya kemampuan belajar, hingga kebodohan pada anak. Padahal, kondisi tersebut merupakan gangguan belajar spesifik yang dapat memengaruhi kemampuan membaca, menulis, mengeja, maupun memproses informasi berbasis bahasa.
Psikolog sekaligus Direktur PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy, mengatakan salah satu persoalan terbesar yang dihadapi anak dengan disleksia bukan hanya kesulitan akademik, tetapi juga respons lingkungan yang belum memahami kondisi mereka.
Menurutnya, anak dengan disleksia membutuhkan pendekatan yang berbeda. Ketika kesulitan membaca atau menulis terus-menerus dianggap sebagai kemalasan, anak berpotensi mengalami tekanan psikologis dan kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan dirinya sendiri.
“Anak disleksia bukan anak yang malas atau tidak mau belajar. Mereka memiliki cara kerja dan proses dalam menerima serta mengolah informasi yang berbeda. Karena itu, yang perlu diubah bukan hanya anaknya, tetapi juga cara lingkungan memahami dan mendampinginya,” kata Billy.
Ia menjelaskan, tanda-tanda disleksia sebenarnya dapat mulai terlihat sejak usia dini. Anak bisa mengalami keterlambatan dalam mengenali huruf, kesulitan menghubungkan bunyi dengan simbol huruf, sulit mengingat urutan, hingga mengalami hambatan ketika mulai membaca dan menulis.
Memasuki usia sekolah, gejala tersebut dapat semakin terlihat. Anak mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk membaca, sering keliru mengenali atau menukar huruf, kesulitan mengeja, serta membutuhkan pengulangan instruksi lebih sering dibandingkan teman seusianya.
Namun, Billy mengingatkan orang tua agar tidak terburu-buru memberikan label kepada anak.
“Deteksi tanda bukan berarti orang tua kemudian mendiagnosis sendiri. Kalau ada pola kesulitan yang menetap dan mengganggu proses belajar, sebaiknya dilakukan asesmen oleh tenaga profesional agar anak mendapatkan penanganan yang sesuai,” ujarnya.
Menurut Billy, keterlambatan dalam mengenali disleksia dapat membuat masalah berkembang menjadi persoalan psikologis. Anak yang berkali-kali mengalami kegagalan ketika membaca atau mengerjakan tugas dapat mulai membandingkan dirinya dengan teman sebaya.
Pada kondisi tertentu, anak dapat merasa dirinya bodoh, tidak mampu, atau berbeda dari lingkungan.
“Yang harus kita cegah adalah munculnya keyakinan dalam diri anak bahwa dirinya tidak pintar hanya karena dia kesulitan membaca. Kesulitan akademik tidak boleh diterjemahkan menjadi penilaian terhadap harga diri anak,” katanya.
Karena itu, Billy mendorong orang tua dan guru memberikan penguatan terhadap kemampuan lain yang dimiliki anak.
Anak dengan disleksia tetap dapat memiliki kemampuan berpikir, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, maupun potensi lain yang berkembang dengan baik. Pendekatan pendidikan yang hanya mengukur kemampuan anak dari kecepatan membaca atau menulis dinilai berisiko mengabaikan potensi tersebut.
“Jangan sampai kita hanya melihat apa yang tidak bisa dilakukan anak, lalu lupa melihat apa yang sebenarnya bisa dia lakukan dengan sangat baik,” kata Billy.
Ia menambahkan, dukungan psikologis harus berjalan beriringan dengan intervensi pendidikan. Anak membutuhkan lingkungan yang aman untuk belajar, tidak mempermalukan ketika melakukan kesalahan, serta mendapatkan metode belajar yang disesuaikan dengan kebutuhannya.
“Anak membutuhkan pendampingan, bukan penghakiman. Ketika lingkungan memahami kondisinya, anak memiliki ruang untuk berkembang tanpa terus-menerus merasa gagal,” tuturnya.
Billy pun mengajak orang tua untuk lebih peka terhadap pola kesulitan belajar anak. Menurutnya, mengenali disleksia lebih awal dapat membantu menentukan strategi pendampingan sekaligus mencegah munculnya dampak psikologis yang lebih berat di kemudian hari. (DAM)


Posting Komentar