SURAT KABAR, CIMAHI – Membangun budaya literasi di tengah derasnya penggunaan gadget bukan pekerjaan yang cukup dilakukan dengan menyediakan rak dan koleksi buku. Perpustakaan Kota Cimahi memilih cara berbeda dengan menghadirkan beragam aktivitas yang membuat anak-anak merasa nyaman, senang, sekaligus memiliki alasan untuk kembali datang.
Di balik layanan tersebut, ada semangat para pustakawan dan
staf yang setiap hari menyiapkan berbagai kegiatan agar perpustakaan tidak
sekadar menjadi tempat membaca.
Anak-anak yang datang tidak langsung diarahkan untuk membaca
buku. Mereka terlebih dahulu diajak mengikuti ice breaking, permainan edukatif,
kegiatan motorik, mendongeng hingga menonton film di bioskop mini.
Konsep itu menjadi bagian dari upaya Perpustakaan Kota
Cimahi mendekatkan literasi kepada masyarakat, terutama anak-anak sejak usia
dini.
Kepala Disarpusda Kota Cimahi, Dyah Anjuni Lukitosari, mengatakan tantangan membangun minat baca anak pada era digital bukan hanya bagaimana membuat mereka membaca buku. Menurutnya, langkah pertama yang perlu dibangun adalah keinginan anak untuk datang dan mengenal perpustakaan.
“Yang sekarang sedang diupayain untuk ditingkatkan adalah
rasa ingin berkunjung ke perpustakaannya dulu. Seperti bagaimana caranya
perpustakaan kita menarik dengan kegiatan-kegiatan yang udah dijelasin,”
jelasnya saat diwawancarai Surat Kabar di kantornya, Kamis (17/9/2026).
Karena itu, berbagai kegiatan di Perpustakaan Kota Cimahi
juga diperkenalkan melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok.
Harapannya, masyarakat mengenal perpustakaan bukan sebagai ruang yang kaku,
melainkan tempat belajar yang menyenangkan dan terbuka bagi semua.
“Selain layanan langsung, masyarakat juga dapat memanfaatkan
aplikasi Cimalib untuk mengakses layanan perpustakaan melalui perangkat
digital. Aplikasi tersebut tersedia di Play Store,” terang Dyah.
Perpustakaan Kota Cimahi sendiri melayani masyarakat pada Senin hingga Jumat mulai pukul 08.00 sampai 15.00 WIB. Sementara pada Sabtu, layanan dibuka mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Untuk menjalankan pelayanan tersebut, bidang perpustakaan memiliki 13 orang staf. Ketika menerima kunjungan rombongan sekolah, jumlah petugas yang diterjunkan disesuaikan dengan jumlah peserta.
Untuk rombongan sekitar 50 orang, biasanya lima staf
ditugaskan memberikan pelayanan. Sedangkan jika jumlah peserta lebih dari 50
orang, hingga delapan staf dapat dikerahkan agar seluruh rangkaian kegiatan
tetap berjalan lancar.
MENGUBAH PERPUSTAKAAN MENJADI RUANG YANG MENYENANGKAN
Semangat menghadirkan literasi yang dekat dengan anak terlihat dalam program Tour Library Perpustakaan Kota Cimahi. Sebelum berkunjung, pihak sekolah terlebih dahulu mengirimkan surat kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah atau Disarpusda Kota Cimahi.
Setelah surat diterima, pihak perpustakaan kemudian
menghubungi sekolah untuk memastikan jadwal, waktu kedatangan serta jumlah
peserta. Pengaturan jadwal dilakukan agar kunjungan antarsekolah tidak saling
berbenturan.
Salah satu staf Bidang Pelayanan Perpustakaan Kota Cimahi,
Emilia Angelina, yang mulai bertugas sejak 2025, mengatakan seluruh rangkaian
kunjungan telah dipersiapkan berdasarkan arahan dan petunjuk Kepala Dinas serta
Kepala Bidang Perpustakaan.
“Dengan teknisnya supaya nanti pas hari H lancar. Terus
sesuai sudah dipersiapkan sebelumnya. Kita juga biasanya bikin jadwal kunjungan
supaya tidak bentrok antara sekolah satu dengan sekolah lainnya,” ujar Emilia.
Saat rombongan tiba, anak-anak terlebih dahulu disambut dan diarahkan untuk berbaris, melepas sepatu serta menyimpan tas sebelum memasuki ruang anak. Staf kemudian memperkenalkan perpustakaan, mulai dari ruang baca, koleksi buku hingga berbagai kegiatan yang dapat diikuti pengunjung.
“Intinya dibuat dulu nyaman anak-anaknya. Terus
diperkenalkan dulu perpustakaannya, kita punya banyak buku, punya banyak
kegiatan,” tutur Emilia.
Suasana kemudian dibuat lebih cair melalui ice breaking.
Anak-anak diajak bergerak, berjoget hingga melakukan senam sederhana sebelum
mengikuti kegiatan berikutnya.
“Biasanya kita senamnya juga, kalau sekarang lagi ditekankan
yang 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat,” kata Emilia.
Setelah itu, anak-anak diajak berkeliling melihat sejumlah
area perpustakaan. Mereka tidak hanya diperkenalkan dengan ruang anak, tetapi
juga ruang dewasa yang menyimpan ribuan buku.
Kesempatan tersebut sekaligus dimanfaatkan petugas untuk
mengajak anak-anak kembali ke perpustakaan bersama keluarga.
“Nanti bawa ayah ibunya ya buat berkunjung ke perpustakaan.
Baca buku bareng sama ayah ibunya,” ujar Emilia.
Tour Library kemudian dikemas seperti permainan. Anak-anak
mengikuti sejumlah aktivitas edukatif, mulai dari menangkap bola hingga
memasukkan bola.
Setelah rangkaian permainan, anak-anak diberikan waktu
sekitar 30 menit untuk membaca buku atau menggunakan permainan edukatif yang
tersedia. Puzzle dan permainan menyusun bentuk menjadi beberapa aktivitas yang
dapat mereka pilih.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi mendongeng.
Pustakawan atau pegawai membawakan cerita sederhana yang disertai pesan moral
untuk anak-anak.
LITERASI SEKALIGUS MENGENALKAN SEJARAH CIMAHI
Rangkaian Tour Library tidak berhenti di ruang anak. Peserta kemudian diajak menuju lantai atas. Dalam perjalanan tersebut, petugas sekaligus memperkenalkan sejumlah bangunan bersejarah yang ditampilkan pada bagian dinding Perpustakaan Kota Cimahi.
“Di atas itu ada bangunan-bangunan bersejarah di
tembok-temboknya. Sambil naik ke atas, kita jelaskan juga 12 bangunan
bersejarah di Cimahi,” ungkap Emilia.
Dengan konsep tersebut, kunjungan perpustakaan tidak hanya
mempertemukan anak dengan buku. Mereka juga mendapatkan pengenalan mengenai
sejarah Kota Cimahi melalui visual dan cerita yang disampaikan petugas.
Sesampainya di lantai atas, rombongan memasuki Bioskop Mini Perpustakaan Kota Cimahi. Sebelum film diputar, anak-anak kembali mendapatkan penjelasan mengenai aturan selama berada di dalam ruangan.
Film yang ditayangkan disesuaikan dengan usia anak dan memiliki unsur edukasi. Salah satunya Super Neli, karya anak Cimahi, serta film bertema dinosaurus. Film berdurasi sekitar 20 menit itu menjadi bagian dari pengalaman literasi yang dirancang agar anak-anak tidak merasa sedang mengikuti kegiatan belajar yang monoton.
Usai menonton, anak-anak diajak mengabadikan momen melalui photobooth yang tersedia. Perpustakaan Kota Cimahi memiliki dua photobooth dengan tema Bioskop Mini dan Library Funtastic. Setelah seluruh rangkaian selesai, rombongan kemudian diarahkan kembali menuju lantai bawah.
DI BALIK SENYUM ANAK, ADA TANTANGAN PETUGAS
Menghadirkan kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak bukan tanpa tantangan. Salah satu persoalan yang dihadapi petugas adalah keterbatasan ruang ketika jumlah peserta kunjungan cukup banyak. Kondisi tersebut membuat staf harus mampu mengatur kegiatan sekaligus menjaga suasana agar anak-anak tetap nyaman.
Staf Bidang Pelayanan Perpustakaan Kota Cimahi, Hera
Septiani, mengatakan keterbatasan ruang menjadi tantangan tersendiri dalam
melayani rombongan anak.
“Kadang dengan ruang yang terbatas, kita kesulitan untuk
mengatur anaknya. Kita selalu upayakan apa yang bisa kita lakukan supaya
anak-anak tetap senang, tetap happy sampai rangkaian kegiatannya selesai,”
tutur Hera.
Karakter anak yang mudah kehilangan fokus juga membuat
petugas harus menyiapkan aktivitas secara bervariasi. Setiap sesi dirancang
agar perhatian anak tetap terjaga sampai seluruh rangkaian Tour Library
berakhir.
Di sisi lain, meningkatnya permintaan kunjungan juga membuat pengelolaan pelayanan harus semakin matang. Petugas perlu membagi tugas mulai dari koordinasi, persiapan ice breaking, pengaturan peserta hingga memastikan setiap spot dalam program Tour Library Funtastic dapat digunakan dengan baik.
Bagi para staf, pekerjaan tersebut tentu menguras tenaga.
Namun, kelelahan itu seolah terbayar ketika melihat anak-anak menikmati
pengalaman mereka di perpustakaan.
Hera mengaku senang dapat terlibat langsung dalam upaya
menumbuhkan kegemaran membaca pada anak. Menurutnya, tugas sebagai pustakawan
bukan hanya memberikan pelayanan, tetapi juga mengambil bagian dalam membangun
budaya literasi.
“Pokoknya kayak ada sesuatu yang bikin diri aku tuh senang
karena aku juga berkontribusi buat membangun negeri ini, salah satunya dengan
literasi,” ujarnya.
Antusiasme anak-anak yang kembali berkunjung juga menjadi energi tersendiri bagi petugas. Menurut Hera, pengalaman positif yang dirasakan anak selama berada di perpustakaan dapat membuat mereka tidak ragu untuk datang kembali.
“Kadang akhirnya mereka nanti datang lagi ke sini, mereka
happy. Terus apa pun yang ada di perpustakaan mereka suka. Walaupun memang
capek, tapi melihat anak-anak senang, capeknya hilang,” ungkapnya.
Semangat itulah yang menjadi bagian penting dari layanan
Perpustakaan Kota Cimahi. Literasi tidak hanya dibangun melalui ajakan membaca,
tetapi juga melalui pengalaman yang membuat masyarakat merasa dekat dengan
perpustakaan.
Buku, permainan, dongeng, sejarah hingga bioskop mini
menjadi cara yang ditempuh untuk membuka pintu literasi lebih lebar.
Sebab, bagi Perpustakaan Kota Cimahi, menghadirkan literasi
untuk semua tidak cukup hanya dengan menyediakan bahan bacaan. Yang tidak kalah
penting adalah membuat masyarakat, terutama anak-anak, merasa diterima, nyaman
dan memiliki keinginan untuk datang kembali.
Di balik setiap kegiatan yang terlihat sederhana, terdapat kerja para petugas yang terus berupaya menjaga agar perpustakaan tetap hidup sebagai ruang belajar, bermain sekaligus tumbuh bersama masyarakat Cimahi. (SAT)


Posting Komentar