Pendidikan Inklusif Tak Cukup dengan Akses, Universitas Paramadina dan Martasandy Psychology Soroti Kebutuhan Peserta Didik

Admin
Tambahkan
...
0
Universitas Paramadina melalui Magister Psikologi Pendidikan bersama PT Martasandy Psychology Indonesia ke SLBN A Pajajaran Bandung.

SURAT KABAR, BANDUNG - Pengembangan pendidikan inklusif tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap layanan pendidikan, tetapi juga membutuhkan pemahaman mengenai kebutuhan, potensi, perkembangan, dan kesejahteraan setiap peserta didik.

Perspektif tersebut menjadi salah satu fokus kunjungan akademik Universitas Paramadina melalui Magister Psikologi Pendidikan bersama PT Martasandy Psychology Indonesia ke SLBN A Pajajaran Bandung.

Kunjungan ini merupakan bagian awal kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dirancang untuk mengenali kondisi nyata di lingkungan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Melalui observasi dan dialog dengan pihak sekolah, kegiatan tersebut diarahkan untuk memahami konteks pembelajaran sekaligus menjajaki peluang pengembangan program berbasis psikologi.

Pendekatan ini menempatkan pemahaman terhadap kebutuhan peserta didik sebagai dasar dalam merancang intervensi atau kegiatan pendampingan yang relevan. Dengan demikian, program pengabdian diharapkan tidak sekadar menghadirkan kegiatan sesaat, tetapi juga mampu memberikan manfaat sesuai dengan kondisi lingkungan pendidikan.

VP Growth & Partnership PT Martasandy Psychology Indonesia, Dian Rahmawati, mengatakan bahwa psikologi memiliki peran penting dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih suportif.

“Psikologi tidak hanya berperan dalam memahami perilaku dan perkembangan individu, tetapi juga dapat membantu membangun lingkungan yang lebih suportif,” ujar Dian.

Menurutnya, pemahaman terhadap kebutuhan di lapangan perlu menjadi titik awal sebelum suatu program dikembangkan. Karena itu, dialog dengan pihak sekolah dan perguruan tinggi menjadi bagian penting untuk menjajaki kontribusi yang relevan bagi pendidikan inklusif.

Director PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy, menambahkan bahwa pengembangan program pendidikan perlu memperhatikan kebutuhan nyata sekaligus potensi peserta didik.

Ia menilai, sinergi antara dunia akademik dan praktik psikologi dapat membuka ruang untuk merancang kegiatan pengabdian yang lebih kontekstual.

“Melalui kolaborasi, perspektif psikologi dapat menjadi bagian dari upaya mengembangkan program yang sesuai dengan konteks serta potensi peserta didik,” kata Billy.

Kunjungan ke SLBN A Pajajaran Bandung pun menjadi ruang awal untuk membangun pemahaman bersama mengenai kemungkinan dukungan yang dapat dikembangkan. Penjajakan tersebut diharapkan membantu mengarahkan kegiatan lanjutan agar lebih sesuai dengan kebutuhan sekolah dan peserta didik.

Ke depan, Universitas Paramadina dan PT Martasandy Psychology Indonesia berharap dapat membuka ruang kerja sama yang konstruktif dengan lingkungan sekolah, dengan tetap menjadikan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik sebagai perhatian utama.

Semangat yang diusung dalam kegiatan ini adalah mengamati untuk memahami, memahami untuk berkolaborasi, dan berkolaborasi untuk menghadirkan dampak nyata bagi pendidikan inklusif. (SAT)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar