SURAT KABAR, CIMAHI - Dua hari berada di alam terbuka menjadi pengalaman berbeda bagi 350 siswa MTsN Kota Cimahi. Bukan sekadar mendirikan tenda dan mengikuti kegiatan Pramuka, para siswa diajak belajar mandiri, bekerja sama, memecahkan masalah, hingga berkreasi tanpa ditemani telepon seluler.
Suasana itu terasa dalam Perkemahan Pramuka Kreasi MTsN Kota Cimahi yang digelar di Bumi Perkemahan Pakuhaji, Kabupaten Bandung Barat, pada 19–20 September 2026. Mengusung tema “Satu Tenda Seribu Cerita”, kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar di luar kelas.
Lewat Perkemahan Pramuka MTsN Kota Cimahi, para siswa tidak hanya menerima materi kepramukaan. Mereka juga berhadapan langsung dengan berbagai aktivitas yang menuntut kekompakan, keberanian, kreativitas dan kemampuan menyelesaikan persoalan.
Di bawah tenda dan langit terbuka, Perkemahan Pramuka Kreasi menjadi bagian dari upaya sekolah membentuk karakter peserta didik. Nilai kemandirian, kebersamaan, religiusitas dan kepedulian terhadap sesama ditanamkan melalui aktivitas yang dilakukan bersama.
Kepala MTsN Kota Cimahi, Rubaitun, mengatakan Perkemahan Pramuka MTsN Kota Cimahi memang diarahkan untuk melatih kemandirian siswa. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi juga dapat diperoleh melalui pengalaman langsung.
“Tujuan pendidikan itu salah satunya menginginkan peserta didik bisa menjadi mandiri. Dengan Pramuka itu tentu mengajarkan kemandirian,” ujar Rubaitun saat ditemui Surat Kabar di lokasi kegiatan, Minggu (20/9/2026).
Namun dalam Pramuka MTsN Kota Cimahi, kemandirian bukan satu-satunya karakter yang dibangun. Para siswa juga diajak memahami arti kebersamaan dan kerja sama.
“Selain kemandirian yang dilatih, juga harus ada kebersamaan. Pramuka juga akan mengajarkan kebersamaan. Inginnya anak-anak itu bisa bekerja sama,” katanya.
Nilai religius turut menjadi bagian penting dalam Perkemahan Pramuka Kreasi MTsN Kota Cimahi. Nilai tersebut diselaraskan dengan Dasa Darma Pramuka sekaligus visi pendidikan sekolah yang menekankan pembentukan akhlak.
“Tujuannya, pertama pasti religius sesuai Dasa Darma Pramuka. Mereka menjadi orang yang bertakwa. Kemudian Pancasila, dan visi-misi kita juga pertama itu berakhlak,” ucap Rubaitun.
Bagi MTsN Kota Cimahi, Perkemahan Pramuka menjadi salah satu cara memberikan pengalaman kepramukaan yang berbeda kepada siswa. Kegiatan ini juga menjadi alternatif dari aktivitas ekstrakurikuler yang disesuaikan dengan minat peserta didik.
Rubaitun menjelaskan, nama KREASI dipilih sebagai identitas kegiatan, yakni singkatan dari Kemah Religius, Edukasi, Aktif, dan Sinergi.
“Makanya dibuatlah kegiatan seperti ini, perkemahan. Kalau umumnya di sekolah misalkan Persami, Sabtu-Minggu. Namun kita kasih nama KREASI, perkemahan religius, edukasi, aktif, dan sinergi,” tuturnya.
Dalam Perkemahan Pramuka MTsN Kota Cimahi, siswa mendapatkan berbagai materi dasar kepramukaan. Mulai dari Morse, sandi, ketangkasan halang rintang, kerja sama kelompok hingga aktivitas yang menuntut kemampuan memecahkan masalah.
“Mereka dikasih edukasi, jadi tahu ilmu Pramuka, termasuk dalam kegiatan ini ada ilmu Pramukanya seperti kode-kode Pramuka lalu ada Morse, Sandi Rumput,” jelasnya.
Berbeda dengan kegiatan yang lebih banyak berlangsung di dalam ruangan, Perkemahan Pramuka Kreasi tahun ini justru memperbanyak aktivitas luar ruang. Outbound, permainan, dinamika kelompok dan kegiatan pos membuat siswa lebih banyak bergerak dan berinteraksi secara langsung.
Ada pengalaman lain yang membuat Perkemahan Pramuka MTsN Kota Cimahi 2026 terasa berbeda. Sebanyak 350 siswa menuju lokasi perkemahan menggunakan truk TNI.
Sekitar 10 truk digunakan untuk mengangkut peserta dari titik kumpul di kawasan Lapang Tembak Gunung Bohong menuju Bumi Perkemahan Pakuhaji.
“Saat ini kita menggunakan kendaraan TNI supaya ada lebih merasa naik truk. Dengan TNI, jadi kebersamaannya lebih banyak,” ungkap Rubaitun.
Namun, pengalaman yang paling terasa justru ketika para siswa harus meninggalkan telepon seluler mereka.
Selama mengikuti Perkemahan Pramuka MTsN Kota Cimahi, peserta tidak diperbolehkan membawa HP. Selama dua hari, siswa benar-benar diarahkan untuk menikmati kegiatan secara langsung bersama teman, pembina dan lingkungan alam.
“Jadi mereka setidaknya dua hari ini lepas dari HP. Mereka tidak boleh bawa HP,” tegas Rubaitun.
Jika orang tua ingin berkomunikasi dengan anak, pihak sekolah menyediakan jalur komunikasi melalui wali kelas atau pembimbing yang mendampingi peserta.
Aturan tanpa HP dalam Perkemahan Pramuka Kreasi tersebut bukan tanpa alasan. Sekolah ingin siswa lebih fokus pada kegiatan lapangan, interaksi sosial dan kreativitas.
“Selain itu juga banyaknya kegiatan lapangan. Jadi mereka tidak boleh bawa HP,” katanya.
Rubaitun berharap pengalaman selama Pramuka MTsN Kota Cimahi tidak berhenti ketika siswa meninggalkan Bumi Perkemahan Pakuhaji. Nilai yang diperoleh selama kegiatan diharapkan terbawa ke lingkungan sekolah maupun keluarga.
“Harapannya, mereka berakhlak, berkarakter yang baik. Kemudian mereka menjadi anak-anak yang mandiri, terus bekerja sama dalam hal-hal yang baik,” ujarnya.
Ia juga melihat para siswa memiliki potensi kreativitas yang besar apabila diberikan ruang untuk berkembang.
“Anak-anak ini sebenarnya asal kita fasilitasi, kita beri ruang untuk berkreativitas, itu punya kreativitas,” kata Rubaitun.
Ketua Panitia Perkemahan Pramuka Kreasi MTsN Kota Cimahi, Ridhwan Ahmad Nurdiyana, menyebut kegiatan tahun ini diikuti 350 siswa kelas VII.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 212 peserta merupakan siswa putri dan 138 siswa putra. Mereka kemudian didampingi sekitar 60 kakak pembimbing dari kelas VIII dan IX yang berasal dari ekstrakurikuler Pramuka, OSIS serta PMR.
“Untuk jumlah peserta, dari kelas 7 itu siswa putri berjumlah 212, siswa putra berjumlah 138. Semuanya total 350 untuk pesertanya,” kata Ridhwan.
Ridhwan mengatakan, konsep Perkemahan Pramuka MTsN Kota Cimahi tahun ini lebih banyak menghadirkan aktivitas luar ruangan.
“Perbedaannya untuk tahun ini kegiatannya banyak di luar ruangan. Seperti outbound, kemudian pos to pos, game. Jadi anak lebih bebas bergerak aktif,” ujarnya.
Selama dua hari, Perkemahan Pramuka Kreasi diisi dengan berbagai kegiatan yang menggabungkan keterampilan, edukasi, kreativitas dan nilai religius.
Sementara itu, Koordinator Acara, Sera Meliati Sutaryo menambahkan, hari pertama dimulai dengan keberangkatan peserta dari kawasan Gunung Bohong menuju Bumi Perkemahan Pakuhaji. Setelah tiba, siswa langsung mengikuti dinamika kelompok.
“Kita fokusnya sekarang kegiatan mengasah keterampilan anak, edukatif, kreatif, tapi di alam terbuka. Jadi mengandalkan keterampilan-keterampilan dasar kepramukaan,” ujar Sera.
Melalui Pramuka MTsN Kota Cimahi, siswa didorong menggunakan pengetahuan yang mereka miliki untuk menghadapi persoalan di lapangan.
“Setidaknya anak-anak mampu menyelesaikan masalahnya dengan pengalamannya di lapangan, ilmu-ilmu dasar kepramukaan,” katanya.
Selain keterampilan Pramuka, unsur keagamaan tetap menjadi bagian dari Perkemahan Pramuka MTsN Kota Cimahi. Para siswa mengikuti salat berjamaah, tadarus, tausiyah dan renungan.
Sejumlah materi utama juga diberikan, di antaranya dinamika kelompok, lomba Peraturan Baris-Berbaris atau PBB, hingga Jejak Pramuka.
Kegiatan Jejak Pramuka dirancang untuk melatih kemampuan berpikir kritis atau critical thinking. Para siswa harus menganalisis situasi dan mencari jalan keluar dari persoalan yang diberikan.
“Tujuannya, bagaimana mereka yang paling baik dalam analisisnya, pasti mereka yang akan mampu memecahkan masalah di lapangan,” jelas Sera.
Materi lainnya adalah Pramuka Mandiri dengan pemateri dari Kwarcab Pramuka Kota Cimahi. Malam kemudian dilanjutkan dengan kegiatan api unggun yang menjadi salah satu agenda yang paling ditunggu peserta.
“Api unggun yang paling menarik. Kegiatan api unggun sangat dinanti-nantikan anak-anak,” ujarnya.
Dalam kegiatan api unggun Perkemahan Pramuka Kreasi, siswa mengikuti upacara, pembacaan Dasa Darma serta mendapatkan pembekalan mengenai nilai-nilai dasar kepramukaan.
Malam belum selesai setelah api unggun. Para siswa kembali diberi ruang untuk menunjukkan kreativitas melalui unjuk kreasi.
Masing-masing kelas menampilkan kemampuan mereka. Ada yang memilih tari, drama, menyanyi hingga musikalisasi puisi. Dari berbagai penampilan tersebut, panitia kemudian memilih tiga penampilan terbaik untuk mendapatkan apresiasi.
“Jadi masing-masing kelas menampilkan kreasi masing-masing. Ada yang menampilkan tari, drama, ada juga yang menyanyi, ada yang puisi,” kata Sera.
Setelah unjuk kreasi, kegiatan Perkemahan Pramuka MTsN Kota Cimahi dilanjutkan dengan renungan.
Pada sesi ini, siswa diajak melihat kembali pengalaman yang mereka jalani selama kegiatan. Mulai dari arti kebersamaan, kepedulian terhadap teman, hingga rasa hormat kepada orang tua dan guru.
“Mereka diberi kesadaran untuk semakin menumbuhkan empati terhadap teman-temannya, kemudian cinta kepada orang tua, guru, dan sebagainya,” tuturnya.
Memasuki hari kedua Perkemahan Pramuka Kreasi, kegiatan diawali dengan salat tahajud, renungan, tausiyah, olahraga pagi dan sarapan.
Setelah itu, siswa mengikuti Jejak Pramuka atau kegiatan post to post yang terdiri dari 10 pos. Di setiap pos, peserta kembali diuji melalui permainan dan materi yang mengandalkan kerja sama serta kemampuan berpikir.
Sera memastikan seluruh rangkaian Pramuka MTsN Kota Cimahi dikemas sebagai kegiatan edukatif dan menyenangkan tanpa unsur perpeloncoan.
“Di sini enggak ada (unsur perpeloncoan), semuanya dilaksanakan posnya ada 10, semuanya ceria. Jadi enggak ada perpeloncoan, pembelajaran yang menyenangkan, dan aman,” tegasnya.
Pada akhirnya, konsep “Satu Tenda Seribu Cerita” dalam Perkemahan Pramuka Kreasi MTsN Kota Cimahi 2026 bukan hanya soal kehidupan selama dua hari di perkemahan.
Ada cerita tentang belajar mandiri, bekerja bersama, menyelesaikan masalah, berani tampil, menghargai orang lain, hingga menikmati kebersamaan tanpa harus terus terpaku pada layar HP.
Di alam terbuka, 350 siswa kelas VII MTsN Kota Cimahi pun mendapatkan pengalaman yang tidak selalu bisa ditemukan di dalam ruang kelas. (SAT)




Posting Komentar