Billy Martasandy Hadiri 18th ICHiSS 2026 di Kuala Lumpur, Dorong Kolaborasi Lintas Disiplin Hadapi Perubahan Global

Redaksi
Tambahkan
...
0
Billy Martasandy Hadiri 18th ICHiSS 2026 di Kuala Lumpur, Dorong Kolaborasi Lintas Disiplin Hadapi Perubahan Global

SURAT KABAR, BANDUNG – Perhelatan 18th International Conference on Humanities and Social Sciences (ICHiSS) 2026 resmi terselenggara di Concorde Hotel, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (15/9/2026).

Konferensi internasional tersebut mengangkat tema “Harmonizing Security, Culture and Life Long Learning in a Changing World”, dengan mempertemukan akademisi, peneliti, pendidik, mahasiswa pascasarjana hingga praktisi dari berbagai bidang.

ICHiSS 2026 diselenggarakan oleh Faculty of Defence Studies and Management, National Defence University of Malaysia (UPNM) bersama Faculty of Liberal Arts, Prince of Songkla University, Thailand. Forum ini menjadi ruang untuk mempresentasikan perkembangan riset, temuan akademik, praktik pedagogis serta inovasi di bidang humaniora dan ilmu sosial. 

Salah satu tokoh Indonesia yang turut hadir dalam kegiatan tersebut adalah Billy Martasandy, Ph.D, yang juga merupakan Majelis Pakar Asosiasi Dosen Kolaborasi Lintas Perguruan Tinggi (DKLPT).

Kehadiran Billy dalam forum internasional tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring akademik sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan antara akademisi dan praktisi Indonesia dengan komunitas pendidikan dan penelitian di tingkat global.

Menurut Billy, konferensi seperti ICHiSS memiliki arti penting karena persoalan dunia saat ini tidak lagi dapat dilihat hanya dari satu disiplin ilmu.

“Perubahan dunia berlangsung sangat cepat. Karena itu, pendidikan dan riset juga harus mampu bergerak lebih terbuka, kolaboratif dan lintas disiplin. Keamanan, budaya, pendidikan, psikologi, teknologi dan kehidupan sosial saling berkaitan satu sama lain,” ujar Billy.

Ia menilai tema yang diusung ICHiSS 2026 relevan dengan tantangan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia saat ini. Menurutnya, konsep lifelong learning tidak cukup dimaknai sebagai proses belajar di ruang kelas, tetapi sebagai kemampuan individu dan institusi untuk terus beradaptasi sepanjang kehidupan.

“Lifelong learning bukan hanya tentang menambah pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan manusia untuk beradaptasi, berpikir kritis, memahami perubahan dan tetap memiliki karakter di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat,” katanya.

Billy juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, peneliti, praktisi, pemerintah dan dunia industri.

Menurut dia, perguruan tinggi tidak boleh berjalan sendiri dalam menjawab persoalan masyarakat. Hasil riset harus mampu diterjemahkan menjadi gagasan dan solusi yang dapat memberikan dampak nyata.

“Kolaborasi lintas perguruan tinggi dan lintas bidang menjadi semakin penting. Kita membutuhkan ekosistem yang mempertemukan teori, penelitian dan praktik agar ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang akademik, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutur Billy.

Pandangan tersebut sejalan dengan posisi Billy sebagai bagian dari Majelis Pakar DKLPT yang mendorong penguatan kolaborasi akademik dan pengembangan pendidikan tinggi. Nama Billy juga tercantum dalam struktur resmi DKLPT sebagai anggota Majelis Pakar. 

Sementara itu, penyelenggara menyebut ICHiSS 2026 menjadi forum bagi berbagai kalangan yang memiliki perhatian terhadap isu bahasa, pendidikan, inovasi serta perkembangan ilmu humaniora dan sosial. Konferensi ini juga memberikan peluang publikasi bagi artikel yang diterima melalui jurnal yang terindeks MyCite.

Bagi Billy, keikutsertaan dalam forum internasional seperti ICHiSS bukan sekadar menghadiri agenda akademik, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membawa perspektif Indonesia ke ruang diskusi global sekaligus menyerap berbagai gagasan baru yang dapat dikembangkan di dalam negeri.

“Kita harus hadir dalam forum-forum internasional bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai bagian dari komunitas global yang ikut menawarkan gagasan. Indonesia memiliki banyak potensi akademik dan sumber daya manusia yang bisa berkontribusi dalam percakapan global,” pungkasnya.

Dengan berakhirnya rangkaian 18th ICHiSS 2026, forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan selama konferensi, tetapi dapat melahirkan jejaring kolaborasi dan penelitian baru yang berkelanjutan di bidang humaniora dan ilmu sosial. (DAM)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar