SURAT KABAR, KBB – Perjalanan menuju sekolah bagi belasan anak di Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), bukan sekadar berjalan kaki atau naik kendaraan. Setiap pagi, mereka harus menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit bambu demi bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Sekitar pukul 06.00 WIB, ketika matahari belum sepenuhnya muncul, anak-anak berseragam sekolah mulai bergerak menuju tepian Waduk Saguling. Di sana, rakit bambu telah menunggu untuk membawa mereka menuju Kampung Gombong, Desa Budiharja.
Tidak adanya jembatan penghubung Kampung Sadang dan Kampung Gombong membuat rakit menjadi satu-satunya akses penyeberangan. Padahal, jarak kedua wilayah tersebut melalui jalur waduk hanya sekitar 250 meter.
Bagi anak-anak Kampung Sadang, jarak 250 meter itu harus ditempuh dengan rakit. Sementara bagi orang tua, setiap perjalanan anak sekolah menyeberangi Waduk Saguling selalu disertai rasa cemas, terutama ketika cuaca buruk.
Ketua RT 05 Kampung Sadang, Agus Sumpena, merupakan salah satu warga yang setiap hari membantu menyeberangkan siswa menggunakan rakit.
“Kalau pagi sekitar pukul 06.00 WIB saya antar anak-anak ke seberang. Setelah itu saya kembali lagi ke sini dan siang harinya menjemput mereka pulang,” kata Agus saat ditemui, Jumat (28/8/26).
Rakit bambu tersebut bukan sekadar sarana transportasi bagi warga. Selama puluhan tahun, rakit menjadi akses utama warga Kampung Sadang untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.
Menurut Agus, tradisi anak-anak menggunakan rakit untuk pergi ke sekolah telah berlangsung sejak sekitar 1990 atau kurang lebih 36 tahun. Pada awalnya, para orang tua mengantar anak mereka satu per satu menyeberangi waduk.
Seiring bertambahnya kebutuhan, pihak sekolah kemudian menyediakan rakit yang dapat digunakan bersama. Rakit berukuran cukup besar tersebut mampu membawa sekitar 15 hingga 20 anak dalam satu kali perjalanan.
Bukan hanya untuk akses sekolah di Kampung Sadang, rakit juga digunakan warga untuk menuju kebun hingga membawa hasil kerajinan bambu. Sebagian masyarakat setempat bekerja sebagai petani dan perajin bambu.
Agus berharap pemerintah dapat menghadirkan jembatan penyeberangan di Waduk Saguling. Menurutnya, keberadaan jembatan tidak hanya akan memudahkan anak-anak bersekolah, tetapi juga memperlancar aktivitas ekonomi warga.
“Sebenarnya jaraknya dekat, hanya sekitar 250 meter. Tapi karena belum ada jembatan, anak-anak dan warga harus mengandalkan rakit. Harapannya ada jembatan supaya anak sekolah lebih aman dan aktivitas warga juga lebih mudah,” ujarnya.
Kisah perjuangan siswa menyeberangi Waduk Saguling kembali menjadi perhatian setelah sebuah video perjalanan mereka menggunakan rakit viral di media sosial.
Video yang diunggah akun Instagram @official_desabudiharja memperlihatkan sejumlah siswa SD hingga SMP menaiki rakit setelah pulang sekolah. Rekaman singkat itu memperlihatkan bagaimana rakit bambu menjadi bagian dari keseharian anak-anak Kampung Sadang.
Kepala SD Negeri Budiharja, Kecamatan Cililin, Taufik, mengatakan hingga kini masih ada 16 siswa yang menggunakan rakit untuk pergi dan pulang sekolah.
Ke-16 siswa tersebut terdiri dari tiga siswa kelas 1, empat siswa kelas 2, tiga siswa kelas 3, tiga siswa kelas 5, serta tiga siswa kelas 6.
Bagi pihak sekolah, kondisi akses pendidikan di Kampung Sadang tersebut bukan hanya berkaitan dengan persoalan jarak. Faktor keselamatan dan kenyamanan siswa menjadi perhatian utama.
“Ada 16 siswa yang setiap hari masih menggunakan rakit. Kami berharap ada jembatan penyeberangan agar perjalanan mereka lebih aman, cepat, dan mudah. Mudah-mudahan ini juga bisa menambah semangat anak-anak untuk bersekolah,” kata Taufik.
Jika menggunakan jalur darat, perjalanan siswa Kampung Sadang menuju sekolah justru menjadi jauh lebih panjang. Jaraknya hampir mencapai empat kilometer dengan waktu tempuh berjalan kaki sekitar 30 menit.
Kondisi itu membuat rakit menjadi pilihan paling praktis bagi anak-anak, meski tetap menyimpan risiko keselamatan.
“Sejak sekitar tahun 1990, sekolah memang sudah membuatkan rakit untuk membantu anak-anak menyeberangi Saguling. Sampai sekarang akses itu masih digunakan karena belum ada jembatan,” tutur Taufik.
Kekhawatiran serupa dirasakan orang tua siswa. Santi Nur Setiani, warga Kampung Sadang, setiap pagi memastikan anaknya yang duduk di kelas 3 SD bersiap sejak sekitar pukul 06.00 WIB.
Untuk menuju sekolah, anaknya biasanya diantar Ketua RT menggunakan rakit. Hingga kini, belum tersedia transportasi penyeberangan lain di Waduk Saguling bagi warga Kampung Sadang.
“Setiap pagi anak saya berangkat sekitar jam 6. Biasanya diantar Pak RT karena memang tidak ada transportasi lain untuk menyeberang,” kata Santi.
Kondisi penyeberangan anak sekolah di Waduk Saguling menjadi semakin mengkhawatirkan ketika hujan deras turun. Permukaan waduk juga terkadang dipenuhi eceng gondok yang dapat menghambat perjalanan rakit.
Santi mengaku selalu merasa waswas ketika anaknya harus menyeberangi waduk dalam kondisi tersebut.
“Kalau hujan deras atau eceng gondoknya sedang banyak, saya khawatir. Anak-anak masih kecil, takut terpeleset saat berada di atas rakit,” ujarnya.
Meski begitu, tidak banyak pilihan bagi anak-anak Kampung Sadang untuk berangkat sekolah. Ketika tidak ada yang mengantar menggunakan rakit, mereka harus berjalan kaki memutar melalui jalur darat.
Perjalanan yang semestinya hanya sekitar 250 meter melalui waduk pun berubah menjadi hampir empat kilometer. Puluhan tahun berlalu, tetapi rakit bambu di Waduk Saguling masih menjadi bagian dari perjalanan anak-anak Kampung Sadang menuju pendidikan.
Harapan warga kini sederhana, yakni hadirnya jembatan yang dapat menjadi akses aman bagi siswa sekolah dan masyarakat Kampung Sadang. Jembatan tersebut diharapkan bukan hanya memudahkan anak-anak pergi ke sekolah, tetapi juga membantu warga menjalankan aktivitas bertani, berkebun, serta membawa hasil kerajinan bambu tanpa harus bergantung pada rakit.
“Kami berharap ada jembatan. Bukan hanya untuk anak-anak sekolah, tapi juga untuk warga yang setiap hari bekerja dan beraktivitas di seberang. Kalau ada jembatan, semuanya akan lebih mudah dan aman,” tandas Santi. (SAT)


Posting Komentar