SURAT KABAR, BANDUNG - Persoalan kesehatan mental di Kota Bandung tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap layanan psikologis, tetapi juga soal keberanian masyarakat untuk mencari pertolongan.
Di tengah tekanan kehidupan perkotaan, anak muda menjadi salah satu kelompok yang rentan menghadapi persoalan psikologis. Tekanan akademik, pekerjaan, ekonomi, hubungan sosial hingga tuntutan media sosial dapat membuat seseorang mengalami stres, kecemasan maupun persoalan emosional lainnya.
Namun, tidak semua orang yang membutuhkan bantuan kemudian datang ke psikolog.
Salah satu penyebabnya adalah stigma yang masih berkembang di masyarakat bahwa datang ke psikolog berarti seseorang mengalami gangguan jiwa.
Tim Psikolog PT Martasandy Psychology Indonesia, Farah Dhiya Zahra, S.Psi., Psikolog mengatakan stigma tersebut masih cukup kuat, meskipun perlahan mulai berubah, khususnya di kalangan anak muda.
“Stigma tersebut masih cukup berkembang, meskipun mulai berubah. Anak muda kini lebih terbuka untuk membahas kesehatan mental, tetapi masih ada yang beranggapan bahwa ke psikolog berarti mengalami gangguan jiwa,” ujar Farah.
Padahal, menurutnya, konsultasi psikologis tidak selalu berkaitan dengan gangguan mental berat.
Seseorang dapat mendatangi psikolog ketika menghadapi persoalan keluarga, hubungan, pekerjaan, pendidikan, stres maupun ketika ingin lebih memahami dirinya sendiri.
“Datang ke psikolog juga dapat membantu menghadapi masalah keluarga, hubungan, pekerjaan, pendidikan, stres, atau memahami diri sendiri. Konsultasi seharusnya dipandang sebagai bentuk menjaga kesehatan mental, bukan tanda kelemahan,” katanya.
Persoalan stigma tersebut menjadi penting di tengah tingginya masalah kesehatan mental pada kelompok usia muda.
Secara nasional, Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menemukan sekitar 34,9 persen atau 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental pada anak muda bukan persoalan kecil.
Di Kota Bandung, Dinas Kesehatan juga mencatat kasus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berat meningkat dari 4.261 kasus pada 2022 menjadi 5.272 kasus pada 2025.
Pemerintah Kota Bandung kemudian memperluas akses layanan kesehatan jiwa. Pada 2026, layanan psikologi klinis telah tersedia di 12 puskesmas, sementara layanan kesehatan jiwa secara umum tersedia di seluruh puskesmas.
Meski akses mulai diperluas, persoalan biaya dan kemudahan mendapatkan layanan masih menjadi tantangan.
Farah mengatakan masyarakat sering kali tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan untuk mendapatkan bantuan, tetapi juga kemampuan finansial, lokasi layanan hingga waktu yang harus disediakan untuk berkonsultasi.
“Biaya dan akses dapat menjadi salah satu faktor. Masyarakat tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan bantuan, tetapi juga kemampuan membayar, lokasi layanan, dan waktu,” katanya.
Karena itu, menurut Farah, layanan psikologi perlu dibuat semakin mudah ditemukan, terjangkau, aman dan nyaman bagi masyarakat.
Persoalan lainnya adalah kondisi psikologis seseorang sering kali tidak terlihat.
Banyak anak muda tetap menjalani aktivitas sehari-hari, kuliah, bekerja dan bersosialisasi, meski sebenarnya sedang menghadapi tekanan berat.
Farah mengatakan masyarakat perlu memperhatikan perubahan perilaku sebagai salah satu tanda seseorang mungkin sedang mengalami tekanan psikologis.
“Seseorang yang mengalami tekanan belum tentu terlihat sedih. Kita dapat memperhatikan perubahan seperti lebih menarik diri, mudah tersinggung, kehilangan minat, perubahan tidur atau makan, sulit berkonsentrasi, dan sering merasa lelah atau kewalahan,” ujarnya.
Meski demikian, Farah mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru memberikan label maupun diagnosis kepada seseorang.
Menurutnya, hal yang lebih penting adalah menciptakan ruang bagi orang tersebut untuk bercerita tanpa merasa dihakimi.
“Jangan langsung memberi label atau diagnosis. Yang penting adalah mendengarkan tanpa menghakimi dan menunjukkan kepedulian,” katanya.
Anak Muda dan Krisis Mental
Psikolog sekaligus Direktur PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy menilai persoalan kesehatan mental pada anak muda perlu mendapatkan perhatian lebih serius.
Menurut Billy, generasi muda saat ini menghadapi tekanan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi, tuntutan akademik, persaingan pekerjaan, tekanan ekonomi, relasi sosial dan media sosial menciptakan lingkungan yang dapat memicu tekanan psikologis apabila tidak dikelola dengan baik.
“Anak muda sekarang menghadapi tekanan yang sangat kompleks. Mereka bukan hanya berhadapan dengan tuntutan sekolah atau pekerjaan, tetapi juga tuntutan untuk selalu terlihat berhasil, bahagia dan mengikuti perkembangan lingkungan sosialnya,” ujar Billy.
Menurutnya, media sosial juga dapat memperkuat kecenderungan seseorang membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Ketika seseorang terus melihat pencapaian orang lain tanpa memahami proses di baliknya, muncul perasaan tertinggal, tidak cukup baik atau gagal.
“Yang kita lihat di media sosial biasanya hanya hasil akhirnya. Anak muda bisa membandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain, kemudian merasa dirinya tidak cukup baik. Kalau terjadi terus-menerus, ini dapat menjadi tekanan psikologis,” katanya.
Billy menilai masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap kesehatan mental.
Menurutnya, seseorang tidak perlu menunggu sampai mengalami gangguan berat untuk mencari bantuan profesional.
“Jangan menunggu sampai seseorang benar-benar jatuh. Sama seperti kesehatan fisik, kesehatan mental juga membutuhkan pencegahan dan intervensi sejak dini,” ujarnya.
Ia mengatakan konsultasi psikologis dapat menjadi ruang untuk membantu seseorang memahami persoalan yang sedang dihadapi sebelum masalah tersebut semakin mengganggu kehidupan sehari-hari.
Tidak Semua yang Terlihat Baik-Baik Saja Benar-Benar Baik
Kondisi psikologis yang tidak selalu terlihat juga menjadi tantangan dalam mendeteksi masalah kesehatan mental anak muda.
Billy mengatakan masyarakat, keluarga, sekolah dan lingkungan kerja perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku seseorang.
Namun, kepekaan tersebut tidak berarti melakukan diagnosis sendiri.
“Yang paling penting adalah membangun lingkungan yang membuat seseorang merasa aman untuk bercerita. Jangan langsung menghakimi atau mengatakan dia lemah. Kita perlu bertanya, mendengarkan dan kemudian mengarahkan kepada bantuan profesional apabila memang dibutuhkan,” katanya.
Menurut Billy, akses layanan juga harus berjalan beriringan dengan edukasi.
Jika masyarakat tidak mengetahui kapan harus mencari bantuan atau masih menganggap konsultasi psikolog sebagai sesuatu yang memalukan, keberadaan layanan kesehatan mental belum tentu dimanfaatkan secara optimal.
Karena itu, ia mendorong agar edukasi kesehatan mental diperkuat di sekolah, kampus, tempat kerja maupun lingkungan keluarga.
“Edukasi kesehatan mental harus dimulai sejak dini. Anak harus tahu bahwa meminta bantuan bukan berarti gagal. Justru kemampuan untuk mengenali kondisi diri dan mencari bantuan merupakan bagian dari keterampilan hidup,” ujarnya.
Bandung Butuh Ruang Aman
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental di Bandung tidak cukup hanya dilihat dari jumlah kasus yang tercatat di fasilitas kesehatan.
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni masyarakat yang membutuhkan bantuan tetapi belum datang mencari pertolongan.
Stigma, biaya, keterbatasan akses dan minimnya pemahaman mengenai kapan seseorang membutuhkan bantuan profesional dapat membuat persoalan psikologis semakin lama ditangani.
Karena itu, upaya mengatasi persoalan kesehatan mental di Bandung membutuhkan pendekatan yang lebih luas.
Pemerintah tidak hanya perlu memperbanyak layanan, tetapi juga memastikan layanan tersebut mudah dijangkau dan masyarakat tidak merasa malu untuk menggunakannya.
Terlebih bagi anak muda yang menghadapi tekanan kehidupan yang semakin kompleks.
Datang ke psikolog bukan berarti seseorang sedang “gila”. Sebaliknya, keberanian mencari bantuan dapat menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan mental sebelum persoalan berkembang menjadi lebih berat.
Di tengah Bandung yang terus bergerak sebagai kota pendidikan, ekonomi kreatif dan pusat aktivitas anak muda, kesehatan mental seharusnya tidak lagi menjadi persoalan yang disembunyikan.
Sebab, tidak semua orang yang sedang berjuang akan terlihat sedang mengalami masalah.
Kadang mereka tetap tersenyum, tetap kuliah, tetap bekerja dan tetap aktif di media sosial Twitter sambil diam-diam berusaha bertahan. (DAM)


Posting Komentar