SURAT KABAR, BANDUNG – Terungkapnya sejumlah persoalan yang diduga dihadapi dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi, Alex Cristo Loris (30), sebelum meninggal dunia di Kabupaten Siak, Riau, dinilai perlu dilihat dari perspektif psikologis secara lebih menyeluruh.
Psikolog Billy Martasandy mengatakan, persoalan seperti utang pinjaman online (pinjol), tekanan pendidikan, tuntutan pekerjaan, hingga persoalan pribadi dapat menjadi beban psikologis ketika muncul secara bersamaan.
Namun, ia menegaskan, faktor-faktor tersebut tidak dapat secara otomatis disebut sebagai penyebab seseorang mengakhiri hidup.
Menurut Billy, seseorang yang berada dalam tekanan berat dapat mengalami kondisi psikologis yang membuat kemampuan untuk melihat persoalan secara jernih menjadi semakin terbatas.
“Ketika seseorang menghadapi banyak tekanan secara bersamaan, yang perlu dilihat bukan hanya satu masalahnya, tetapi bagaimana seluruh tekanan tersebut dipersepsikan dan dirasakan oleh individu. Masalah finansial, tuntutan pendidikan, pekerjaan, dan persoalan pribadi bisa saling memperkuat,” kata Billy dalam analisisnya.
Ia menjelaskan, pendidikan dokter spesialis memiliki karakteristik tekanan yang kompleks.
Peserta PPDS tidak hanya menghadapi tuntutan akademik, tetapi juga tanggung jawab profesional, jam kerja yang panjang, tuntutan ketelitian, serta konsekuensi besar dari setiap keputusan yang berkaitan dengan pasien.
Dalam kondisi tertentu, tekanan yang berlangsung terus-menerus tanpa ruang pemulihan dapat menyebabkan seseorang mengalami kelelahan psikologis.
“Tekanan yang kronis bisa membuat seseorang mengalami emotional exhaustion atau kelelahan emosional. Pada titik tertentu, seseorang dapat merasa tidak memiliki energi lagi untuk menghadapi masalah yang sebelumnya masih bisa diselesaikan,” ujarnya.
Persoalan finansial juga menjadi perhatian. Polisi menemukan adanya riwayat keluhan korban terkait utang pinjaman online serta indikasi penggunaan uang secara berlebihan untuk suatu kegiatan.
Billy menilai, masalah keuangan bukan sekadar persoalan nominal. Beban utang dapat berkembang menjadi tekanan psikologis apabila seseorang merasa tidak mampu memenuhi kewajibannya, takut menghadapi konsekuensi, atau merasa kehilangan kendali atas kehidupannya.
“Utang dapat menimbulkan rasa takut, malu, bersalah, dan perasaan gagal. Kalau kemudian seseorang juga berada dalam lingkungan dengan tuntutan yang tinggi, tekanan tersebut bisa terasa jauh lebih berat,” katanya.
Namun, Billy mengingatkan agar persoalan pinjol tidak langsung dijadikan kesimpulan tunggal mengenai latar belakang kematian korban.
Menurutnya, perilaku penggunaan uang yang berlebihan juga perlu dipahami dalam konteks psikologis dan situasional. Perilaku tersebut bisa memiliki berbagai kemungkinan penyebab dan tidak dapat langsung diberi label tertentu tanpa pemeriksaan psikologis secara langsung.
“Jangan sampai kita melakukan retrospective diagnosis atau mendiagnosis seseorang hanya berdasarkan informasi setelah peristiwa terjadi. Kita tidak berada di posisi untuk mengetahui secara pasti apa yang ada dalam pikiran korban,” jelasnya.
Temuan lain berupa catatan pribadi yang masih terkunci pada perangkat korban juga menjadi bagian yang tengah didalami polisi. Billy menilai, isi catatan tersebut tidak seharusnya ditafsirkan secara spekulatif sebelum diketahui secara utuh dan dikaitkan dengan bukti lainnya.
Menurutnya, catatan pribadi seseorang memang dapat memberikan gambaran mengenai pikiran atau pengalaman yang sedang dihadapi. Tetapi, konteks tetap menjadi hal penting agar kesimpulan yang diambil tidak keliru.
“Catatan pribadi bisa menjadi salah satu potongan puzzle, tetapi bukan keseluruhan puzzle. Kita harus melihat kronologi, perubahan perilaku, hubungan sosial, kondisi pekerjaan, kondisi finansial, dan berbagai faktor lainnya,” tuturnya.
Billy juga menyoroti pentingnya sistem dukungan psikologis bagi dokter PPDS. Menurutnya, lingkungan pendidikan kedokteran spesialis perlu memiliki mekanisme deteksi dini terhadap peserta didik yang mengalami tekanan psikologis berat.
Bukan hanya menyediakan layanan konseling, menurut Billy, sistem tersebut juga harus mampu membuat seseorang merasa aman untuk meminta pertolongan tanpa takut mendapatkan stigma atau dianggap tidak mampu menjalani pendidikan.
“Yang harus dibangun bukan hanya layanan ketika seseorang sudah mengalami krisis. Kita membutuhkan sistem pencegahan, deteksi dini, ruang komunikasi yang aman, dan budaya pendidikan yang memungkinkan dokter residen mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja,” katanya.
Ia menambahkan, tanda-tanda perubahan perilaku seperti menarik diri dari lingkungan sosial, perubahan pola tidur, kehilangan minat, penurunan fungsi sehari-hari, perubahan emosi yang ekstrem, hingga munculnya pembicaraan mengenai keputusasaan perlu mendapatkan perhatian.
Meski demikian, Billy kembali menegaskan bahwa tanda-tanda tersebut tidak boleh digunakan untuk memberikan diagnosis secara sembarangan.
“Yang paling penting adalah jangan menunggu sampai seseorang benar-benar berada dalam kondisi krisis. Ketika ada perubahan yang signifikan, pendekatan yang dilakukan harus manusiawi, tidak menghakimi, dan memberikan akses kepada bantuan profesional,” ujarnya.
Menurut Billy, kasus kematian Alex semestinya menjadi momentum evaluasi yang lebih luas terhadap ekosistem pendidikan dokter spesialis. Evaluasi tidak hanya menyangkut beban akademik, tetapi juga jam kerja, pola supervisi, relasi senior-junior, akses terhadap dukungan psikologis, serta mekanisme pelaporan ketika peserta PPDS mengalami tekanan berat.
“Kalau kita hanya mencari siapa yang salah setelah sebuah tragedi terjadi, kita kehilangan kesempatan untuk memperbaiki sistem. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sistem dapat mencegah orang sampai berada pada titik paling krisis,” kata Billy.
Ia menilai, persoalan kesehatan mental di lingkungan pendidikan kedokteran tidak bisa disederhanakan sebagai persoalan ketahanan pribadi.
Sebab, ketika tekanan akademik, pekerjaan, finansial, dan persoalan personal hadir secara bersamaan, kemampuan seseorang untuk mengelola tekanan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan dukungan yang tersedia di sekitarnya.
“Ketahanan mental bukan berarti seseorang harus mampu menanggung semuanya sendirian. Justru sistem yang sehat adalah sistem yang memungkinkan seseorang meminta bantuan ketika bebannya sudah terlalu berat,” pungkasnya.
Senada dengan Billy, Psikolog PT Martasandy Psychology Indonesia, Filiani Retno Noor Aisyi, terdapat indikasi bahwa dokter PPDS tersebut tak mampu memikul beban masalah yang dialami.
Sehingga, penyelasaian masalah yang diambil cenderung bertolak belakang dengan hal yang seharusnya tidak dilakukan.
"Setiap masalah dapat menimbulkan stres, sehingga ketika beberapa masalah terjadi dalam waktu yang sama, tekanan yang dirasakan dapat menjadi lebih besar.
masalah keuangan seperti utang pinjol dapat menambah tekanan atau stres yang sebelumnya sudah dirasakan dari pekerjaan atau pendidikan," katanya
Maka dari itu, orang yang memiliki beban mental berat diharapkan mampu disokong oleh lingkungan sekitar. Sehingga, masalah seperti itu bisa diminimalisir dan tak berulang bagu orang-orang yang memiliki latar belakang mental.
"Dukungan dari lingkungan dan kemampuan dalam mencari bantuan pun dapat memengaruhi bagaimana orang tersebut menghadapi segala tekanan yang dirasakannya," tandasnya. (SAT)


Posting Komentar