![]() |
| Peternak Lebah Madu Ciburial, Kabupaten Bandung, Aep saat saat Menunjukkan Hasil Panennya (Doc. Surat Kabar) |
KABUPATEN BANDUNG, SURAT KABAR - Di tengah hamparan pepohonan yang masih rimbun di Kampung Cikurutug, Desa Ciburial, KecamatanCimenyan, Kabupaten Bandung, dengung ribuan lebah menjadi penanda bahwa sebuah warisan keluarga masih terus hidup. Dari tempat sederhana inilah, madu yang dihasilkan warga tak hanya dinikmati masyarakat lokal, tetapi juga telah menjangkau pasar luar negeri.
Di balik perjalanan itu, ada sosok Aepudin (40), pembudidaya
Lebah Madu Ciburial yang memilih menjaga sekaligus mengembangkan usaha turun-temurun
peninggalan sang kakek. Baginya, budidaya lebah bukan sekadar mata pencaharian,
melainkan ikhtiar mempertahankan warisan yang telah dirintis sejak puluhan
tahun silam.
Usaha yang kini dikenal sebagai Lebah Madu Ciburial itu
berawal dari mendiang Embing, kakek Aep, yang mulai membudidayakan lebah
sekitar dekade 1980-an. Memasuki awal tahun 2000-an, tongkat estafet berpindah
ke tangan Aep. Sejak saat itu, ia perlahan mengembangkan usaha keluarga
tersebut hingga dikenal lebih luas, bahkan menarik perhatian pembeli dari
berbagai negara.
Kecintaan Aep terhadap dunia perlebahan tumbuh bersama masa
kecilnya. Sejak duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, ia sudah akrab dengan
aktivitas di kebun dan membantu menjajakan madu hasil panen sang kakek. Dari
pengalaman itulah ia belajar mengenali karakter lebah, memahami musim bunga,
hingga merasakan bagaimana setiap tetes madu dihasilkan melalui proses yang
panjang.
Berbekal pengalaman yang terus diasah, sejak 2004 Aep
memutuskan menekuni budidaya lebah secara serius. Kini, usaha tersebut tidak
lagi dijalankan seorang diri. Beberapa anggota keluarganya, termasuk para
paman, ikut mengembangkan budidaya lebah sehingga tradisi keluarga itu terus
berlanjut lintas generasi.
"Yang paling awal panen itu Kakek, sejak kelas 3 SD
saya sudah membantu di kebon dan ikut jualan madu. Pembelinya pun sudah ada
dari luar negeri juga seperi dari Arab, China, Malaysia juga ada, bahkan dari
Belanda," terang Aep saat diwawancarai Surat Kabar di lokasi, Selasa
(7/7/2026).
Meski telah memiliki pelanggan dari berbagai negara, Aep
memilih mempertahankan cara pemasaran yang sederhana. Ia belum memanfaatkan
penjualan secara daring. Sebagian besar madu dipasarkan ketika mengikuti
berbagai kegiatan pameran maupun melalui pelanggan tetap yang selama
bertahun-tahun mempercayai kualitas madu produksi Ciburial.
"Cuman ikut jual ke event, atau memang yang sudah jadi
langganan," kata Aep.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Bagi Aep, hubungan baik
dengan pelanggan menjadi modal utama yang terus dijaga. Dari mulut ke mulut,
nama Lebah Madu Ciburial perlahan dikenal lebih luas. Kepercayaan yang dibangun
selama bertahun-tahun justru menjadi kekuatan yang membuat usahanya tetap
bertahan hingga sekarang.
Perjalanan panjang membesarkan usaha keluarga itu ternyata
ikut memantik semangat masyarakat sekitar. Jika dahulu budidaya lebah hanya
dilakukan segelintir orang, kini semakin banyak warga yang mulai melihat
potensi ekonomi dari usaha tersebut.
Fenomena itu bahkan terjadi di lingkungan keluarganya
sendiri. Para paman Aep kini turut mengembangkan usaha serupa. Bagi Aep,
semakin banyak warga yang membudidayakan lebah berarti semakin besar pula
peluang menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan
ekosistem lebah di kawasan tersebut.
"Kalau sekarang sudah ada beberapa yang ikut
membudidayakan. Yang paling dekat, ya paman-paman saya juga ikut. Alhamdulillah
hasilnya lumayan. Kalau ada acara atau kegiatan, mereka juga sering iku,"
ujarnya.
Bagi Aep, berkembangnya jumlah peternak lebah bukan sekadar
bertambahnya pelaku usaha. Ada harapan yang jauh lebih besar, yakni menjadikan
Kampung Madu Ciburial sebagai kawasan yang benar-benar hidup oleh aktivitas
budidaya lebah. Semakin banyak warga yang terlibat, semakin kuat pula identitas
kampung tersebut sebagai sentra madu sekaligus ruang belajar tentang pentingnya
menjaga alam.
Di lereng Ciburial, madu memang bukan sekadar hasil panen.
Ia adalah cerita tentang pengetahuan yang diwariskan seorang kakek kepada
cucunya, tentang kesabaran menunggu musim bunga, sekaligus tentang mimpi
sederhana agar dengung lebah tetap terdengar dari generasi ke generasi.
Perkembangan budidaya lebah madu di Ciburial tidak hanya
ditandai dengan bertambahnya jumlah peternak. Di balik aktivitas itu, terdapat
perputaran ekonomi yang mulai dirasakan masyarakat. Produksi madu yang
dihasilkan dari setiap musim panen menjadi sumber penghasilan tambahan,
sementara aktivitas budidaya perlahan membuka peluang usaha baru bagi warga
sekitar.
Meski demikian, Aep menilai keberhasilan usaha perlebahan
tidak semata-mata diukur dari besarnya omzet. Baginya, pencapaian terbesar
adalah ketika budidaya lebah mampu menghidupi keluarga dan terus memberikan
manfaat bagi lingkungan sekitar.
Menurutnya, hasil panen madu sangat dipengaruhi oleh kondisi
alam, terutama musim berbunga. Saat bunga-bunga bermekaran dan nektar melimpah,
lebah akan lebih produktif menghasilkan madu sehingga masa panen pun menjadi
lebih optimal.
Produksi madu dari setiap kotak sarang tidak selalu sama.
Dalam satu kali panen, satu kotak dapat menghasilkan sekitar seperempat
kilogram, setengah kilogram, hingga satu kilogram madu. Pada kondisi tertentu,
terutama ketika sumber pakan melimpah, satu kotak bahkan mampu menghasilkan
hingga tiga kilogram madu.
"Sekarang kami sudah bisa melakukan proses pengemasan
(packing) sehingga produk madu bisa dijual seperti ini. Kalau soal hitungan
penghasilan, saya memang tidak terlalu menghitung secara rinci. Tapi
alhamdulillah, hasilnya sudah bisa menjadi tambahan penghasilan. Dulu kami juga
belum memiliki tempat seperti sekarang. Alhamdulillah ini kan ada juga buat itu
dari perlebahan juga," jelas Aep.
Seiring berkembangnya usaha tersebut, perubahan mulai
terlihat di lingkungan sekitar. Jika sebelumnya hanya segelintir warga yang
membudidayakan lebah, kini jumlahnya terus bertambah. Sebagian besar memulainya
sebagai pekerjaan sampingan sambil tetap menjalankan profesi utama.
Lambat laun, aktivitas tersebut berkembang menjadi sumber
penghasilan tambahan yang mulai dilirik masyarakat. Tidak sedikit warga yang
kemudian memperbanyak koloni lebah dan memperluas budidayanya secara bertahap.
Menurut Aep, nilai ekonomi dari budidaya lebah tidak hanya
berasal dari hasil panen madu. Berbagai perlengkapan budidaya juga memiliki
nilai jual tersendiri. Kotak-kotak sarang yang masih layak digunakan, maupun
kotak kosong yang belum ditempati koloni, kerap dijual kepada peternak lain
yang baru memulai usaha.
Dengan demikian, roda perekonomian di sektor perlebahan
tidak hanya bergerak melalui penjualan madu, tetapi juga melalui kebutuhan
perlengkapan budidaya yang terus berputar di kalangan peternak.
Selain menghasilkan madu, kawasan budidaya di Ciburial kini
juga mulai menarik perhatian masyarakat yang ingin melihat langsung aktivitas
perlebahan. Tidak sedikit rombongan pengunjung yang datang untuk belajar
mengenai proses budidaya sekaligus menikmati suasana alam.
Menurut Aep, kunjungan tersebut turut memberikan manfaat
bagi warga sekitar. Ketika rombongan datang dalam jumlah besar, mereka biasanya
mengadakan kegiatan kebersamaan seperti makan bersama atau ngeliwet. Kegiatan
itu tidak dikelola sendiri olehnya, melainkan melibatkan masyarakat sekitar.
"Kalau ada tamu yang datang, apalagi dalam jumlah
banyak, biasanya mereka ingin sekalian mengadakan kegiatan seperti makan
bersama atau ngeliwet. Kegiatan seperti itu tidak saya kelola sendiri, tetapi
melibatkan warga yang lain. Saya hanya menyediakan tempatnya, sementara yang
lain ikut membantu menyiapkan kebutuhan kegiatan tersebut. Jadi, memang ada
juga aktivitas seperti itu di sini," tutur Aep sembari menunjukkan
kotak-kotak budidaya lebah miliknya.
Aep mengatakan, peluang masyarakat untuk ikut berkembang
bersama Kampung Madu Ciburial masih sangat terbuka. Selain menjadi pembudidaya,
warga juga dapat bergabung sebagai reseller untuk memasarkan madu hasil
produksi peternak setempat.
Meski demikian, ia menegaskan fokus utama kelompoknya tetap
pada pengembangan budidaya lebah. Sebab, semakin banyak koloni yang dipelihara,
semakin besar pula peluang penyebaran lebah secara alami ke berbagai kawasan.
Menurutnya, ketika dalam satu koloni telah muncul dua ratu
lebah, koloni tersebut akan membelah diri. Sebagian koloni akan mencari habitat
baru sehingga perkembangan lebah tidak bergantung pada satu titik budidaya
saja.
"Kalau dibudidayakan ada ratu dua, nanti satu koloni
itu keluar dan bisa masuk ke mana saja. Jadi enggak harus selalu masuk ke
tempat saya," ujar Aep.
Konsep itulah yang kemudian membuat Kampung Madu Ciburial
berkembang sebagai kawasan budidaya bersama. Pengunjung tidak hanya diarahkan
ke satu lokasi, melainkan dapat berkeliling mengunjungi rumah-rumah warga lain
yang juga membudidayakan lebah madu.
Menurut Aep, hampir seluruh peternak membuka diri bagi
masyarakat yang ingin melihat langsung proses budidaya maupun pengolahan madu.
Semangat saling mendukung antarpeternak juga terus dipertahankan, mulai dari
saling membeli koloni lebah hingga membantu pemasaran madu ketika musim panen
tiba.
"Kan langsung ke alam juga. Jadi, pengunjung bisa masuk
ke tempat-tempat lain yang dikelola tetangga atau warga yang selama ini
bersama-sama mengembangkan Kampung Madu. Di antara kami juga saling mendukung,
misalnya dengan membeli koloni lebah dari peternak lain atau membeli madu
ketika mereka sedang panen," imbuh Aep.
Di balik geliat budidaya yang terus berkembang, Aep
menyimpan harapan agar Kampung Madu Ciburial tidak hanya dikenal sebagai tempat
menjual madu atau destinasi edukasi. Baginya, kawasan tersebut harus tetap
mempertahankan identitasnya sebagai sentra budidaya lebah madu yang benar-benar
hidup.
Ia tidak ingin pengunjung yang datang justru pulang tanpa
melihat aktivitas perlebahan. Menurutnya, keberadaan lebah harus tetap menjadi
ciri utama kawasan tersebut agar nama Kampung Madu Ciburial tidak hanya
dikenal, tetapi juga sesuai dengan kondisi di lapangan.
"Kalau untuk budidaya lebah madu, saya berharap jangan
sampai orang yang pernah datang ke sini bilang, 'Saya pernah ke sini,' tapi
ternyata waktu datang justru enggak melihat ada lebah. Nanti takutnya kesannya,
dulu pernah ke sini mungkin ada lebah, sekarang malah enggak ada," harap
Aep.
Aep menuturkan, identitas Lebah Madu Ciburial harus terus
dijaga seiring berkembangnya kawasan tersebut. Ketika masyarakat mencari lokasi
itu melalui Google Maps maupun media sosial, yang muncul di benak mereka bukan
hanya sebuah nama, melainkan kawasan yang dipenuhi aktivitas budidaya lebah
madu.
Baginya, keberlangsungan budidaya jauh lebih penting
dibanding sekadar popularitas. Ia berharap keberadaan lebah tetap terjaga
sehingga manfaat ekonomi maupun edukasi yang selama ini dirasakan masyarakat
bisa terus berlanjut.
"Yang saya inginkan, lebahnya tetap ada dan budidayanya
juga tetap berjalan. Jangan sampai nanti orang yang pernah datang ke sini
bilang, 'Dulu ada, sekarang sudah tidak ada.' Itu yang saya harapkan,"
kata Aep.
Selain menjaga keberlangsungan koloni lebah, Aep masih
menyimpan impian untuk mengembangkan usahanya. Ia berharap suatu saat memiliki
lahan budidaya yang lebih luas sehingga proses pengembangan koloni tidak lagi
bergantung pada lahan milik pihak lain.
Meski begitu, keterbatasan lahan yang dimiliki saat ini
tidak menyurutkan semangatnya. Menurut Aep, kawasan sekitar yang masih dipenuhi
pepohonan menjadi keuntungan tersendiri karena menyediakan sumber pakan alami
bagi ribuan lebah yang dipeliharanya.
"Meskipun lahan yang kami kelola hanya sekitar 200
meter, alhamdulillah di sekitar sini masih banyak area yang rimbun. Kondisi itu
sangat membantu karena koloni lebah bisa diperbanyak. Semakin banyak kawasan
yang rimbun, semakin melimpah pula sumber pakan bagi lebah, sehingga
budidayanya juga bisa berkembang lebih optimal," terang Aep.
Saat ini, Aep mengelola hampir 30 kotak sarang yang dihuni
ribuan ekor lebah. Produksi madu dari setiap panen bergantung pada musim
berbunga. Ketika nektar melimpah, panen dapat dilakukan sekitar satu bulan
sekali, bahkan dalam kondisi tertentu bisa berlangsung lebih cepat.
Hasil panen pun bervariasi. Dalam satu periode panen, madu
yang dihasilkan bisa mencapai dua kilogram, tiga kilogram, lima kilogram,
hingga sekitar 10 kilogram saat musim bunga sedang melimpah. Seluruh madu
kemudian melalui proses pengemasan sebelum dipasarkan dalam berbagai ukuran
botol.
"Kalau sekali panen, hasilnya bisa sekitar 2 kilogram,
3 kilogram, 5 kilogram, bahkan sampai 10 kilogram saat musim bunga. Untuk
harganya menyesuaikan ukuran kemasan, mulai dari Rp50 ribu sampai Rp100
ribu," imbuh Aep.
Di balik manisnya madu yang dihasilkan, terdapat pekerjaan yang penuh risiko. Sengatan lebah menjadi bagian dari keseharian Aep selama puluhan tahun menekuni usaha tersebut. Namun, pengalaman panjang membuatnya semakin memahami karakter koloni lebah yang dipeliharanya.
Tak jarang, ia membuka kotak sarang tanpa mengenakan alat pelindung. Pemandangan itu menjadi hal biasa bagi Aep yang telah terbiasa berinteraksi langsung dengan ribuan lebah setiap hari.
"Sudah biasa, mungkin tersengat beberapa kali sejak
dulu jadinya lebih kebal sekarang, lebahnya juga sudah terbiasa dengan
kehadiran saya," kata Aep sambil tertawa.
Bagi Aep, budidaya lebah madu bukan sekadar pekerjaan untuk
mencari nafkah. Usaha yang diwariskan dari sang kakek itu telah menjadi bagian
dari ikhtiarnya menjaga warisan alam sekaligus mempertahankan tradisi keluarga
yang kini ikut menghidupi masyarakat sekitar.
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik
melanjutkan budidaya lebah madu sehingga keberadaan Kampung Madu Ciburial tetap
lestari dan manfaat madu terus dirasakan masyarakat.
"Mudah-mudahan madu tetap banyak dikonsumsi manusia, karena manfaatnya sangat banyak terutama untuk kesehatan," ujar Aep menutup perbincangan. (REL)




Posting Komentar