DIALOG JIWA: KETIKA SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT, HIBAH DAN WAKAF BERTEMU DI HADAPAN HATI MANUSIA

Redaksi
Tambahkan
...
0
DIALOG JIWA: KETIKA SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT, HIBAH DAN WAKAF BERTEMU DI HADAPAN HATI MANUSIA

SURAT KABAR, CIMAHI - Pada suatu malam yang sunyi, ketika manusia tertidur lelap dan dunia tampak tenang, hati seorang hamba mendengar percakapan yang tidak terdengar oleh telinga biasa.

Di dalam ruang jiwa, datanglah lima tamu mulia. Mereka adalah Zakat, Infaq, Sedekah, Hibah, dan Wakaf.

Masing-masing membawa cahaya yang berbeda.

Lalu Hati bertanya,

"Siapakah kalian?"

Zakat menjawab dengan tenang,

"Aku adalah kewajiban yang Allah titipkan kepada orang yang diberi kecukupan. Aku bukan milik orang kaya, melainkan hak orang miskin yang Allah titipkan sementara dalam harta saudaranya."

Hati terdiam.

Lalu Infaq berkata,

"Aku adalah bukti kepercayaan. Ketika seseorang mengeluarkan hartanya di jalan Allah, sesungguhnya ia sedang berkata kepada Rabbnya: 'Aku lebih percaya kepada-Mu daripada kepada simpananku.'"

Sedekah tersenyum lembut lalu berkata,

"Aku tidak selalu berupa uang. Aku bisa menjadi senyum yang tulus, kata-kata yang menenangkan, tangan yang menolong, atau air mata yang ikut merasakan penderitaan orang lain."

Kemudian Hibah berkata,

"Aku adalah hadiah cinta. Aku lahir bukan karena kewajiban, tetapi karena kasih sayang. Aku menghubungkan hati yang berjauhan dan menyatukan jiwa yang pernah terluka."

Terakhir Wakaf berdiri.

Cahayanya tampak paling panjang menjulur ke masa depan.

Ia berkata ; 

"Aku adalah pemberian yang terus hidup meskipun pemberiku telah meninggal dunia. Ketika jasad telah kembali menjadi tanah, aku masih berjalan membawa pahala menuju kuburnya."

Mendengar itu, Hati mulai menangis.

Lalu bertanya,

"Mengapa manusia begitu sulit melepaskan harta?"

Zakat menjawab,

"Karena mereka mengira harta itu milik mereka."

Infaq berkata,

"Padahal mereka datang ke dunia tanpa membawa apa-apa."

Sedekah melanjutkan,

"Dan mereka akan pergi tanpa membawa apa-apa."

Hibah berkata,

"Yang ikut hanyalah cinta yang pernah mereka tanam."

Wakaf berkata,

"Dan amal yang terus memberi manfaat setelah mereka tiada."

Saat itu terdengar suara langkah yang perlahan mendekat.

Ternyata yang datang adalah Kematian.

Semua terdiam.

Kematian berkata,

"Aku tidak pernah salah alamat."

Hati gemetar.

Kematian melanjutkan,

"Aku telah mendatangi para raja yang memiliki istana megah. Aku juga mendatangi para fakir yang tidak memiliki apa-apa. Ketika aku datang, tidak ada yang mampu membawa emasnya, rekeningnya, tanahnya, kendaraannya, ataupun gelarnya."

Lalu Kematian menunjuk kepada lima tamu mulia itu.

"Tetapi mereka..."

"Mereka adalah yang akan berjalan menemani pemiliknya setelah aku mengambil ruhnya."

Hati semakin menangis.

Ia teringat berapa banyak kesempatan yang telah berlalu.

Berapa banyak tangan yang meminta bantuan namun diabaikan.

Berapa banyak yatim yang menunggu uluran kasih.

Berapa banyak masjid, pesantren, sekolah, dan jalan kebaikan yang bisa dibangun.

Tetapi manusia sering berkata,

"Nanti kalau sudah cukup."

Padahal tidak ada manusia yang merasa cukup.

Kemudian Sedekah mendekati Hati dan berbisik,

"Tahukah engkau mengapa Allah mencintai orang yang memberi?"

Hati menjawab,

"Mengapa?"

Sedekah berkata,

"Karena saat memberi, manusia sedang meniru salah satu sifat Rabbnya; yaitu memberi tanpa berkurang."

Hati terisak.

Lalu Infaq berkata,

"Setiap kali engkau menggenggam terlalu kuat, dunia akan memenuhi tanganmu tetapi mengosongkan hatimu."

"Namun ketika engkau membuka tanganmu untuk memberi, mungkin tanganmu berkurang sedikit, tetapi hatimu dipenuhi cahaya."

Wakaf berkata,

"Jangan tunggu kaya untuk memberi."

"Karena banyak orang kaya yang tidak pernah memberi."

"Dan banyak orang sederhana yang menjadi kaya di sisi Allah karena kedermawanannya."

Hibah berkata,

"Jangan tunggu sempurna untuk berbagi."

"Karena kesempurnaan sering menjadi alasan untuk menunda kebaikan."

Lalu Zakat menundukkan kepala dan berkata,

"Sesungguhnya bukan orang miskin yang membutuhkan hartamu."

"Justru hartamulah yang membutuhkan jalan agar sampai kepadamu di akhirat."

Saat fajar mulai menyingsing, lima tamu mulia itu bersiap pergi. Sebelum menghilang, mereka berkata serempak,

"Wahai manusia..."

"Apa yang kau makan akan habis."

"Apa yang kau pakai akan usang."

"Apa yang kau simpan bisa ditinggalkan."

"Tetapi apa yang kau berikan karena Allah akan tetap hidup selama-lamanya."

Hati pun bersujud.

Air matanya jatuh membasahi bumi. Dan untuk pertama kalinya ia memahami bahwa kehilangan terbesar bukanlah berkurangnya harta. Melainkan ketika seseorang meninggalkan dunia dengan banyak simpanan, namun sedikit yang telah ia kirimkan ke hadapan Allah.

Maka berbahagialah orang yang ketika hidup menjadi jalan manfaat bagi sesama.

Karena pada hari semua manusia mencari satu kebaikan yang dapat menyelamatkannya, mungkin sebuah sedekah kecil yang pernah ia lupakan justru datang menghampirinya sambil berkata: 

"Jangan takut..."

"Dahulu engkau memberiku karena Allah." "Hari ini aku datang atas izin Allah untuk menemanimu pulang menuju rahmat-Nya."


By. Budi Ali Hidayat

Kasi Bimas Islam Kemenag Kota Cimahi

Pembina BP4 Kota Cimahi

Ketua Bidang Pengkajian & Pengembangan MUI Kota Cimahi

Pengurus DKM Masjid Agung Kota Cimahi

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar