Psikolog PT Martasandy Psychology Indonesia, Amaliyah Nur Azizah, M.Psi., Psikolog, mengatakan korban yang mengalami penyekapan dan kekerasan dalam waktu lama dapat berada dalam kondisi penuh ancaman yang membuat otak dan tubuh terus bekerja dalam mode bertahan.
Menurutnya, situasi tersebut dapat membuat korban kehilangan rasa aman, mengalami penurunan kepercayaan diri, sulit mempercayai orang lain, hingga merasa kehilangan kendali atas kehidupannya sendiri.
"Akibatnya, korban dapat kehilangan rasa aman, mengalami penurunan kepercayaan diri, kesulitan mempercayai orang lain, serta merasa tidak lagi memiliki kendali atas hidupnya. Dalam kondisi tersebut, fokus korban bukan lagi mencari jalan keluar, melainkan bertahan hidup dari hari ke hari," ujar Amaliyah.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut merupakan bentuk adaptasi psikologis ketika seseorang menghadapi situasi ekstrem, bukan menunjukkan kelemahan dari korban.
Senada dengan itu, psikolog PT Martasandy Psychology Indonesia, Matsal Machmud Sriandono, S.Psi., menyebut kekerasan dan penyekapan yang berlangsung dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko munculnya trauma psikologis kompleks.
"Korban yang mengalami penyekapan dan kekerasan dalam waktu lama sering mengalami trauma psikologis yang kompleks. Penelitian menunjukkan trauma yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan Complex PTSD atau C-PTSD, yaitu kondisi yang ditandai kesulitan mengelola emosi, pandangan negatif terhadap diri sendiri, dan kesulitan membangun hubungan dengan orang lain," jelas Matsal.
Ia menambahkan, setelah korban berhasil keluar dari situasi kekerasan, sejumlah gangguan psikologis tetap berpotensi muncul, seperti gangguan stres pascatrauma (PTSD), depresi, kecemasan, hingga gangguan tidur.
Namun demikian, ia menegaskan diagnosis terhadap kondisi psikologis korban hanya dapat dilakukan melalui asesmen profesional secara menyeluruh.
Sementara itu, Direktur PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy, menilai perhatian publik terhadap kasus tersebut tidak cukup hanya berhenti pada kronologi kejadian. Menurutnya, proses pemulihan korban juga menjadi bagian penting yang perlu mendapat perhatian.
"Korban membutuhkan rasa aman terlebih dahulu sebelum dapat memulai proses pemulihan psikologis. Dukungan keluarga, lingkungan sosial, dan pendampingan profesional menjadi faktor penting agar korban dapat membangun kembali kepercayaan diri dan rasa kendali atas hidupnya," kata Billy.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma maupun menyalahkan korban, karena sikap tersebut justru dapat memperburuk kondisi psikologis yang sedang dialami.
"Pemulihan trauma bukan proses yang instan. Korban membutuhkan ruang yang aman untuk bercerita, didengar, dan mendapatkan bantuan yang tepat tanpa stigma maupun penghakiman," tuturnya.
Billy berharap kasus tersebut dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya dukungan terhadap korban kekerasan, terutama dalam aspek kesehatan mental.
"Ketika korban berani keluar dari situasi yang membahayakan dirinya, yang paling dibutuhkan adalah perlindungan dan dukungan. Dengan begitu proses pemulihan dapat berjalan lebih optimal," pungkasnya.


Posting Komentar