SURAT KABAR, BANDUNG - Transformasi digital yang bergerak cepat mulai mengubah wajah pendidikan nasional. Di tengah masifnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), dunia pendidikan dinilai perlu bergerak lebih adaptif tanpa kehilangan orientasi kemanusiaannya.
Isu tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Pendidikan & Call For Paper 2026 bertajuk "Tantangan dan Inovasi Pendidikan Berbasis Artificial Intelligence dalam Mewujudkan Pembelajaran Adaptif di Era Society 5.0" yang digelar secara daring, Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan itu diselenggarakan oleh Asosiasi Dosen Kolaborasi Lintas Perguruan Tinggi (DKLPT) bekerja sama dengan Institut Agama Islam Daar Al Uluum (IAIDU) Asahan. Seminar menghadirkan sejumlah akademisi nasional, salah satunya Billy Martasandy, S.Psi., M.Si., Ph.D. yang tampil sebagai Keynote Speaker II sekaligus Majelis Pakar DKLPT.
Dalam pemaparannya, Billy menyoroti tantangan dunia pendidikan dalam menghadapi perkembangan AI yang kini semakin terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk proses pembelajaran.
Menurut Billy, kehadiran AI semestinya diposisikan sebagai instrumen pendukung untuk memperkuat kualitas pendidikan, bukan menggantikan peran manusia di dalamnya.
“Artificial Intelligence bukan hadir untuk menggantikan peran manusia dalam pendidikan, tetapi menjadi alat untuk memperkuat kualitas pembelajaran. Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana institusi pendidikan mampu mengadopsi teknologi secara bijak, adaptif, dan tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Billy dalam pemaparannya.
Ia menilai era Society 5.0 menuntut lembaga pendidikan bergerak lebih cepat dalam membangun sistem pembelajaran yang personal, fleksibel, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Dalam konteks itu, AI disebut memiliki potensi membantu pengajar memahami karakter belajar siswa secara lebih mendalam.
“Pendidikan masa depan harus mampu menciptakan pembelajaran yang adaptif. Teknologi harus menjadi jembatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, bukan sekadar tren yang diikuti tanpa arah,” katanya.
Billy juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas perguruan tinggi, akademisi, hingga praktisi untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tengah percepatan transformasi digital.
Seminar Nasional Pendidikan & Call For Paper 2026 diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain sesi keynote speaker, agenda turut diisi pemaparan narasumber dari berbagai perguruan tinggi, diskusi interaktif, hingga presentasi paralel terkait pengembangan inovasi pendidikan di era digital.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan yang lebih kolaboratif dan inovatif di tengah tantangan pembelajaran pada era Society 5.0 yang kian kompleks. (SAT)


Posting Komentar