Kisah Tak Biasa Damkar Cimahi: Dari Penyelamatan hingga Diminta Jadi Debt Collector

Redaksi
Tambahkan
...
0

 

AKSI PENYELAMATAN: Petugas Damkar Cimahi saat menangani kondisi kedaruratan dan mengevakuasi masyarakat (Doc. Damkar Cimahi)
AKSI PENYELAMATAN: Petugas Damkar Cimahi saat menangani kondisi kedaruratan dan mengevakuasi masyarakat (Doc. Damkar Cimahi)

SURAT KABAR, CIMAHI - Layanan darurat pemadam kebakaran di Kota Cimahi tidak hanya dihadapkan pada situasi kebakaran atau penyelamatan. Dalam praktiknya, petugas kerap menerima laporan di luar kewenangan, bahkan cenderung tak lazim.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Dinas Damkar Kota Cimahi, Achmad Suparlan, mengungkapkan salah satu pengalaman yang dinilainya janggal. Petugas, kata dia, pernah diminta membantu menagih utang pinjaman online oleh warga.

Permintaan itu awalnya disampaikan sebagai laporan darurat. Namun, setelah petugas tiba di lokasi, maksud sebenarnya baru terungkap.

"Nagih hutang, hutang piutang. Jadi, pas ke rumahnya dia, kita (Damkar) udah datang ke sana, eh nyuruh itu nagih pinjol, ya enggak bisa Damkar gitu, balik kanan aja gitu," ujarnya saat ditemui Surat Kabar di kantornya di Komplek Taman Bumi Prima, Cibabat, Cimahi Utara, Rabu (6/4/26).

Achmad menegaskan, permintaan semacam itu langsung ditolak. Ia memastikan tugas Damkar Cimahi tidak mencakup peran sebagai penagih utang.

"Waduh, jadi kolektor, debt collector, enggak mau Damkar gitu," tegasnya.

Menurut dia, laporan dengan modus serupa umumnya tidak disampaikan secara terbuka sejak awal. Petugas baru mengetahui tujuan sebenarnya setelah berada di lokasi.

"Ada, ditolak ya kayak gitu. Ya mereka enggak bilang, bilangnya ke Damkar perlu bantuan, pas datang ke sana suruh nagih, Damkar balik lagi gitu. Seperti itu," ujar Achmad.

Ia menilai kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi petugas sekaligus pengingat bagi masyarakat agar menggunakan layanan darurat secara tepat.

"Jadi emang ini jadi satu pelajaran bagi kita, pendewasaan bahwa ketika kita ini juga tetap menolong masyarakat, mengini masyarakat, juga tetap kita harus berpikir secara sehat," bebernya.

Di sisi lain, Achmad mengakui latar belakang masyarakat yang beragam turut memengaruhi cara mereka memanfaatkan layanan publik.

"Ya, kita juga enggak bisa nyalahin masyarakat. Karena masyarakat mah gitu, gimana lagi gitu. Soalnya bervariasi ya, dari tingkat pendidikan, umur, ya seperti itu," tuturnya.

Ia menjelaskan, sebagian besar laporan yang diterima Damkar Cimahi masuk melalui komunikasi jarak jauh, terutama telepon dan aplikasi pesan instan.

"Biasanya by phone. Mereka kalau ke kita tuh by phone, kebanyakan itu telepon WA, kan ada hotline-nya. Itu Damkar Kota Cimahi, kalau misalkan di dalam itu, WA itu langsung kita bisa hubungi," terangnya.

Selain itu, warga juga kerap datang langsung ke markas komando untuk bantuan teknis ringan. Salah satu kasus yang sering ditangani adalah pelepasan cincin yang tersangkut di jari.

"Tapi kalau yang bukan by phone, kebanyakan itu cincin. Pelepasan cincin, anting gitu, biasanya datang. Datang ditolong gitu," kata Achmad.

Dalam sejumlah kasus, kondisi jari warga sudah membengkak sehingga membutuhkan penanganan segera.

"Langsung, langsung ke Mako. Jadi jarinya udah bengkak, dia udah bengkak tangannya, minta dipotong cincinnya gitu," ujarnya.

Achmad menyebut, mayoritas kasus cincin justru dialami laki-laki, terutama pengguna cincin batu akik.

"Tapi udah kebanyakan ya yang saya tahu, yang cincin-cincin ini tuh malah laki-laki itu banyaknya. Yang cincin-cincin batu akik gitu. Hati-hati itu, barareuh (bengkak-bengkak)," kata dia.

Sementara pada perempuan, kasus yang terjadi umumnya melibatkan cincin berbahan emas yang relatif lebih mudah ditangani.

"Kalau ibu-ibu biasanya emas-emas yang kayak gitu. Ya emas mah kan tinggal digunting, enggak terlalu sulit. Kalau yang laki-laki kan cincin yang kayak batu akik-batu akik gitu," tandasnya. (REL)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar