Sampah Ramadan Melonjak 40 Persen, Layanan Penjemputan di Cimahi Dihentikan Sementara

Redaksi
Tambahkan
...
0

MENUMPUK: Salah Satu Titik Penumpukan Sampah di Kota Cimahi (Sumber: BBS)
MENUMPUK: Salah Satu Titik Penumpukan Sampah di Kota Cimahi (Sumber: BBS)

SURAT KABAR, CIMAHI - Pemerintah Kota Cimahi menghentikan sementara layanan penjemputan sampah rumah tangga selama dua hari setelah Idul Fitri, menyusul lonjakan volume sampah yang meningkat tajam sepanjang Ramadan.

Kebijakan ini berlaku pada 23–24 Maret 2026. Selama periode tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memprioritaskan pembersihan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sebelum sampah diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat.

Kepala DLH Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, menyampaikan bahwa penghentian sementara ini merupakan bagian dari langkah penanganan darurat atas penumpukan sampah di berbagai titik.

"Penjemputan sampah dari rumah ke rumah kita liburkan sampai hari Senin dan Selasa. Kami akan melakukan clean up selama dua hari,” kata Chanifah belum lama ini.

Ia memastikan, layanan penjemputan akan kembali berjalan normal mulai Rabu, 25 Maret 2026. Namun, sistem pengangkutan akan dilakukan secara bergantian antara sampah organik dan anorganik.

“Jadi jadwalnya kita seling-seling. Misalnya minggu ini organik, setelah itu baru anorganik. Jadi warga harus pilah sampah di rumahnya,” kata Chanifah.

Lonjakan volume sampah selama Ramadan menjadi faktor utama kebijakan ini. Hampir seluruh TPS di Cimahi mengalami penumpukan akibat peningkatan produksi sampah harian.

“Sangat tinggi, peningkatannya sangat tinggi. Peningkatan sampah kurang lebih di angka hampir 30-40 persen. Sekarang bisa 300 ton lebih setiap hari di bulan puasa ini,” kata Chanifah.

Menurut Chanifah, peningkatan tersebut tidak hanya dipicu konsumsi makanan, tetapi juga penggunaan kemasan sekali pakai yang semakin masif, terutama dari makanan yang dibawa pulang.

“Kan semuanya berkemasan, nah ini juga punya efek. Kemarin kami sempat melakukan survei kecil-kecilan, ngobrol dengan salah satu RT, awalnya volumenya kurang 9 gerobak. Tetapi begitu MBG ini tidak dimakan di sekolah selama bulan Ramadhan karena dibagikan dan dibawa pulang, sampahnya naik lagi menjadi 12-13 gerobak,” kata Chanifah.

Di sisi lain, keterbatasan kuota pembuangan ke TPA Sarimukti turut memperparah kondisi. Pembatasan dari pemerintah provinsi membuat ritase pengangkutan tidak mampu mengimbangi lonjakan produksi sampah.

“Sementara kuota pembuangan tidak ditambah sama sekali oleh provinsi. Ritase nya sangat dibatasi, apalagi sekarang sistem penimbangan. Kuota yang harusnya 14 hari, hanya cukup menjadi 10 hari,” kata Chanifah.

Situasi ini menempatkan pengelolaan sampah di Cimahi dalam tekanan, terutama pada momentum Ramadan dan pasca-Lebaran yang identik dengan peningkatan konsumsi masyarakat. 

Pemerintah daerah pun mendorong partisipasi warga untuk memilah sampah dari rumah guna membantu mengurangi beban penanganan di lapangan. (SAT)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar