Iklan

Proyek 232 Halte BRT Bandung Dimulai, Pengamat Soroti Potensi Gangguan Lalu Lintas

Posting Komentar
Ilustrasi Proyek Halte BRT Bandung
SURAT KABAR, BANDUNG - Pembangunan ratusan halte untuk layanan Bus Rapid Transit (BRT) di sejumlah titik di Kota Bandung mulai berjalan. Proyek tersebut menjadi bagian dari pengembangan sistem transportasi massal di kawasan Bandung Raya yang ditargetkan dapat meningkatkan layanan angkutan publik bagi masyarakat.

Dinas Perhubungan Kota Bandung mencatat, sebanyak 232 halte akan dibangun untuk mendukung operasional BRT di wilayah Bandung Raya. Halte-halte tersebut akan tersebar di sejumlah koridor yang nantinya dilalui armada BRT.

Meski begitu, pengamat kebijakan publik Billy Martasandy mengingatkan agar proses pembangunan halte tidak sampai mengganggu mobilitas masyarakat, terutama di ruas jalan dengan tingkat kepadatan kendaraan yang tinggi.

Menurut Billy, pembangunan infrastruktur transportasi memang penting sebagai bagian dari upaya memperbaiki sistem mobilitas perkotaan. Namun, proses pengerjaan di lapangan tetap harus memperhatikan dampaknya terhadap aktivitas harian masyarakat.

“Pembangunan halte BRT tentu merupakan langkah positif dalam memperkuat transportasi publik. Namun dalam pelaksanaannya, pemerintah harus memastikan pekerjaan konstruksi tidak menghambat pergerakan kendaraan maupun pejalan kaki,” ujarnya, Senin (9/3/26).

Ia menilai pengaturan manajemen lalu lintas selama proses pembangunan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah maupun kontraktor pelaksana. Terlebih, sejumlah titik yang direncanakan menjadi lokasi halte berada di jalur dengan arus kendaraan yang cukup padat.

Billy menambahkan, tanpa perencanaan yang matang, aktivitas pembangunan berpotensi menimbulkan kemacetan maupun gangguan terhadap akses masyarakat di sekitar lokasi proyek.

Karena itu, ia mendorong agar setiap titik pembangunan dilengkapi dengan rekayasa lalu lintas yang jelas, termasuk pengaturan jalur sementara bagi kendaraan maupun pejalan kaki.

“Koordinasi dengan aparat lalu lintas juga perlu dilakukan secara intensif agar aktivitas masyarakat tetap berjalan normal. Jangan sampai pembangunan yang tujuannya memperbaiki transportasi justru menimbulkan persoalan baru di lapangan,” katanya.

Selain itu, Billy juga menilai pentingnya keterbukaan informasi kepada masyarakat terkait lokasi dan jadwal pengerjaan proyek. Dengan adanya informasi yang jelas, masyarakat dapat mengantisipasi perubahan kondisi lalu lintas di sekitar area pembangunan.

Menurutnya, komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci agar pembangunan infrastruktur transportasi dapat berjalan lancar sekaligus mendapat dukungan publik.

“Transparansi kepada masyarakat sangat penting, misalnya melalui pengumuman lokasi pekerjaan, estimasi waktu pengerjaan, hingga potensi pengalihan arus lalu lintas. Dengan begitu masyarakat bisa menyesuaikan mobilitasnya,” ucapnya.

Di sisi lain, Billy menilai keberadaan sistem BRT berpotensi menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi kemacetan di kawasan Bandung Raya jika dikelola dengan baik. 

Namun, ia menekankan bahwa kualitas infrastruktur pendukung seperti halte harus dibangun secara terencana serta memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan pengguna.

“Halte BRT bukan hanya tempat naik turun penumpang, tetapi juga bagian penting dari sistem transportasi publik. Karena itu pembangunannya harus benar-benar memperhatikan fungsi, aksesibilitas, serta dampaknya terhadap ruang jalan,” pungkasnya. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar