Jelang Lebaran 2026, Lapak Pedagang di Cimahi Mulai Sepi Ditinggal Mudik

Redaksi
Tambahkan
...
0
SUASANA SEPI: Jalan Raden Demang Hardjakusumah terlihat lengang dari aktivitas pedagang.

SUASANA SEPI: Jalan Raden Demang Hardjakusumah terlihat lengang dari aktivitas pedagang.


SURAT KABAR, CIMAHI - Beberapa hari menjelang Lebaran 2026, kawasan lapak pedagang Cimahi di sekitar Pemkot Cimahi, tepatnya di Jalan Raden Demang Hardjakusumah, terlihat sepi aktivitas. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar pedagang memilih mudik Lebaran ke kampung halaman, menyisakan hanya beberapa pedagang lokal yang masih berjualan.

Fenomena sepinya lapak pedagang Cimahi ini mulai terlihat sekitar satu minggu sebelum Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 2026. Mayoritas pedagang yang biasanya meramaikan kawasan tersebut telah menutup lapak mereka untuk pulang kampung, sementara pedagang yang bertahan umumnya merupakan warga asli Cimahi.

Salah satu pedagang yang masih bertahan, Nina (28), warga Citeureup, Cimahi Utara, mengatakan bahwa kondisi ini merupakan hal yang biasa terjadi setiap menjelang Lebaran. Ia menyebutkan bahwa pedagang yang tetap berjualan kebanyakan adalah warga lokal yang tidak melakukan perjalanan mudik.

“Kalau yang masih jualan itu rata-rata orang sini (Cimahi) asli. Kalau yang mudik, memang ada juga warga Cimahi, tapi mereka pulang ke kampung halaman,” ujar Nina saat ditemui di lokasi pada Rabu (18/3/2026).

Nina memilih tetap berjualan es buah selama Ramadan hingga menjelang Lebaran untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia menilai momen Idul Fitri identik dengan tradisi berkumpul bersama keluarga, sehingga membutuhkan persiapan bahan makanan yang lebih banyak dari biasanya.

“Ngumpul-ngumpul buat Lebaran nanti, soalnya kalau di keluarga saya suka pada ngumpul bareng, jadi harus nyiapin stok banyak buat masak,” katanya.

Selain kebutuhan pokok seperti ketupat, daging, opor, dan beras, Nina juga menyisihkan penghasilannya untuk membeli baju Lebaran bagi ketiga anaknya. Hal tersebut menjadi salah satu alasan utama ia tetap berjualan meski kondisi pasar relatif sepi.

“Anak-anak juga pengen beli baju Lebaran, jadi harus nabung dari sekarang,” tambahnya.

Dalam aktivitas sehari-hari, Nina mampu memperoleh omzet antara Rp400.000 hingga Rp600.000 dari penjualan es buah dengan harga Rp5.000 hingga Rp12.000 per bungkus. Ia biasanya menjual sekitar 50 bungkus per hari, meskipun jumlah tersebut dapat berubah tergantung cuaca dan kondisi pasar.

Meski menghadapi persaingan dari toko modern yang juga menjual es buah, Nina tetap bersyukur atas penghasilannya. Ia menyebut pendapatan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus mendukung pendidikan anak-anaknya.

“Alhamdulillah, puasa kali ini memang agak berbeda dengan tahun kemarin, tapi selalu disyukuri apa yang kita dapat. Apalagi sekarang konsumen mulai beralih ke es buah yang dijual di toko-toko, bukan di gerobak seperti saya,” ungkapnya menutup. (SAT)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar