Fakta Unik Nastar, Kue Lebaran yang Ternyata Bukan Asli Indonesia

Redaksi
Tambahkan
...
0
WARISAN KULINER: Kue nastar yang populer di Indonesia merupakan hasil akulturasi budaya kuliner Belanda (Istimewa)
WARISAN KULINER: Kue nastar yang populer di Indonesia merupakan hasil akulturasi budaya kuliner Belanda (Istimewa)

SURAT KABAR - Nastar, kue Lebaran populer di Indonesia, menjadi sajian yang hampir selalu hadir saat perayaan Idul Fitri. Kue berbahan dasar nanas ini dikenal luas sebagai simbol kemakmuran dan keberuntungan, meskipun sejarah nastar ternyata berakar dari tradisi kuliner Belanda. Dalam perkembangan kuliner Indonesia, nastar Lebaran kini tidak hanya menjadi hidangan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat.

Dari sisi asal-usul, sejarah nastar di Indonesia bermula dari pengaruh kolonial Belanda. Kata “nastar” sendiri berasal dari bahasa Belanda, yakni ananas (nanas) dan taartjes (tart). Pada masa itu, bangsa Belanda yang tinggal di Nusantara berupaya membuat kue dengan isian buah berry atau apel seperti di Eropa. Namun karena keterbatasan bahan, mereka menggantinya dengan nanas yang melimpah di Indonesia. Adaptasi ini kemudian melahirkan kue nastar yang dikenal saat ini sebagai kue khas Lebaran.

Dalam perspektif budaya, filosofi nastar memiliki makna yang cukup mendalam, terutama bagi etnis Tionghoa. Nastar sering dikaitkan dengan istilah “ong lai” yang berarti nanas atau “pir emas”, yang melambangkan keberuntungan dan kemakmuran. Warna kuning keemasan pada nastar juga dianggap sebagai simbol rezeki. Filosofi ini turut memperkuat posisi nastar sebagai kue keberuntungan yang identik dengan perayaan besar, termasuk Idul Fitri.

Meski dikenal sebagai kue kering, secara teknis nastar sebenarnya tidak sepenuhnya masuk dalam kategori tersebut. Menurut pandangan pakar pastry, tekstur nastar yang lembut, cenderung lembap, dan mudah lumer di mulut lebih mendekati karakter cake atau cookies lunak. Hal ini membedakan nastar dari kue kering pada umumnya yang memiliki tekstur renyah. Fakta ini menjadi salah satu keunikan nastar dalam dunia kuliner Indonesia.

Dalam perkembangannya, resep nastar klasik juga mengalami perubahan. Pada awalnya, resep kue ala Belanda menggunakan isian selai stroberi, blueberry, atau apel. Namun, di Indonesia, selai nanas menjadi pilihan utama karena ketersediaan bahan dan cita rasa yang lebih sesuai dengan lidah lokal. Transformasi ini mempertegas proses akulturasi kuliner yang terjadi sejak masa kolonial hingga sekarang.

Selain itu, bentuk nastar yang beragam juga menjadi daya tarik tersendiri. Meskipun bentuk bulat menjadi ciri khas yang melambangkan keutuhan dan kebersamaan, kini nastar hadir dalam berbagai variasi bentuk seperti daun, keranjang, hingga dihias dengan keju atau cengkeh. Inovasi bentuk nastar ini menunjukkan dinamika kreativitas dalam industri kue Lebaran di Indonesia.

Di sisi lain, kandungan kalori nastar juga menjadi perhatian. Satu toples kecil nastar diketahui memiliki kalori yang cukup tinggi, bahkan kerap disebut setara dengan sepiring nasi jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Kandungan mentega, gula, dan selai nanas menjadi faktor utama tingginya nilai energi pada kue ini. Oleh karena itu, konsumsi nastar saat Lebaran disarankan tetap dalam batas wajar.

Dengan berbagai fakta unik tersebut, nastar tidak hanya sekadar kue Lebaran biasa, tetapi juga representasi sejarah, budaya, dan adaptasi kuliner lintas bangsa. Keberadaannya yang terus bertahan hingga kini menegaskan bahwa nastar telah menjadi bagian penting dari tradisi perayaan Idul Fitri di Indonesia.(SAT)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar