Iklan

Produksi Rokok RAJ Naik Tajam, Pabrik Cimahi Ini Serap Puluhan Tenaga Kerja Lokal

Posting Komentar
Pekerja memproduksi sigaret kretek tangan di pabrik rokok Rifai Anugerah Jaya di Kota Cimahi, Rabu (11/2). Produksi rokok tersebut rata-rata sekitar 7- 8 karton per hari dengan distribusi ke beberapa kota di Jawa Barat. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
SURAT KABAR CIMAHI - Tren pertumbuhan industri kecil menengah kembali terlihat di Kota Cimahi. CV Anugerah Jaya Rifal, pabrik rokok yang beroperasi di Jalan Industri IV, Kelurahan Utama, Cimahi Selatan, mencatat peningkatan produksi rokok merek RAJ dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan ini tak hanya berdampak pada volume produksi, tetapi juga pada penyerapan tenaga kerja lokal yang kian bertambah.

Dalam aktivitas produksi hariannya, pabrik rokok tersebut kini mampu menghasilkan sekitar 7 hingga 8 karton per hari. Capaian itu disebut baru berlangsung sekitar empat bulan terakhir dan diproyeksikan masih akan meningkat setelah Lebaran.

“Alhamdulillah untuk sekarang jumlah produksi di pabrik kita itu sehari bisa 7 sampai 8 karton, itu baru 4 bulanan lah. Kalau misalnya nanti habis lebaran mungkin lebih ya, alhamdulillah,” ujar Owner CV Anugerah Jaya Rifal, Lia Natalia, saat ditemui di lokasi gudang produksi, Rabu (11/2/26).

Seiring naiknya produksi, kebutuhan tenaga kerja pun ikut terdongkrak. Saat ini, perusahaan telah mempekerjakan sekitar 70 karyawan, yang sebagian besar merupakan warga Cimahi. Penambahan karyawan dipastikan akan terus dilakukan mengikuti kebutuhan produksi.

“Dan untuk sekarang baru 70 karyawan, mungkin nanti habis lebaran ada penambahan karyawan. Setiap hari juga kita ada penambahan, satu atau dua, itu penambahan karyawan terus, alhamdulillah,” kata Lia, owner muda berusia 26 tahun itu.

Ia menegaskan bahwa proses perekrutan tenaga kerja akan terus berjalan selama permintaan pasar masih tinggi. 

"Ada terus, makin bertambah,” ucapnya singkat.

Dari sisi pemasaran, produk rokok RAJ saat ini telah didistribusikan ke sejumlah daerah di Jawa Barat hingga DKI Jakarta. Meski begitu, Bandung masih menjadi pasar utama.

“Kita ke Bandung, Bogor, Jakarta, tapi yang paling besar kita di Bandung, fokusnya di Bandung,” jelas Lia.

CV Anugerah Jaya Rifal sendiri hanya memproduksi satu merek rokok, yakni RAJ, namun dengan lima varian rasa yang menyasar segmen konsumen berbeda.

“Kalau merek kita cuma ada RAJ, tapi kalau untuk rasa kita ada 5 rasa. Ada apel, original, blueberry, mangga, sama cappuccino,” tuturnya.

Dua varian terbaru, apel dan original, disebut mendapatkan respons positif dari pasar dan ikut mendongkrak produksi.

“Tapi yang paling best seller itu di semuanya best seller, tapi yang terbaru ini, baru ngeluarin ini kita di apel sama original. Dan alhamdulillah responnya sangat baik, produksinya juga meningkat,” ungkap Lia.

Di tengah persaingan industri rokok yang kian ketat, Lia optimistis produknya mampu bersaing, baik dari sisi kualitas maupun harga.

“Kalau untuk bersaing kita rasa sih udah paling unggul ya. Tembakau kita udah paling kualitas terbaik,” ujarnya.

Produk RAJ juga diposisikan pada segmen harga ekonomis. “Untuk harga juga kita udah paling ekonomi lah. Kalau harga untuk pasaran ya di 7.500 sampai 8.500,” terangnya.

Meski demikian, tantangan terbesar perusahaan saat ini justru terletak pada kapasitas produksi yang belum sepenuhnya mampu mengejar tingginya permintaan pasar.

“Tantangan ke depannya, tantangannya itu karena pesanannya sangat banyak dan rasa kita kan juga ada lima, kita kewalahan di produksi,” kata Lia.

Untuk menjawab tantangan tersebut, perusahaan berencana memperluas area produksi sekaligus membuka lapangan kerja yang lebih luas bagi masyarakat Cimahi.

“Kita tantangannya itu di produksi aja. Nanti kita akan tingkatin lagi produksinya lagi, kita akan memperluas area, memperkerjakan banyak karyawan Cimahi, gitu,” ujarnya.

Ia berharap keberadaan CV Anugerah Jaya Rifal dapat terus memberi dampak ekonomi bagi lingkungan sekitar. 

“Harapannya semoga CV Anugerah Jaya Rifal semakin maju, lancar, sukses terus. Karena kan banyak orang yang kita akan pekerjakan di sini, jadi semoga perusahaan ini bisa menguntungkan banyak orang juga,” harapnya.

Sementara itu, Komisaris CV Anugerah Jaya Rifal, Daud, menjelaskan bahwa bahan baku tembakau yang digunakan merupakan campuran dari berbagai daerah sentra tembakau nasional.

“Kita tembakau itu campuran ya. Ada dari Bojonegoro, ada dari Kudus, ada dari Temanggung, ada dari Madura. Kita campuran berbagai jenis tembakau kita ambil, dijadikan satu,” jelasnya.

Terkait pemanfaatan tembakau lokal Jawa Barat, Daud mengakui belum dilakukan secara maksimal. Namun, peluang tersebut terbuka ke depan, terutama jika perusahaan telah memiliki mesin pemotongan tembakau sendiri.

“Kita akan mempergunakan tembakau-tembakau yang ada di Jawa Barat, khususnya di Garut, Sumedang, Majalengka, seperti itu kita akan mempergunakan. Untuk sementara kita masih belum,” katanya.

Di tengah ketatnya persaingan industri rokok, Daud tetap optimistis perusahaannya dapat bertahan dan berkembang.

“Kita memang lebih unggul. Dan harga kita juga lebih unggul. Kita mudah-mudahan bisa bersaing dengan yang ada rasa seperti ini karena kita yakin, kita optimis, kita bisa berinovasi lagi ke wilayah-wilayah yang ada di Jawa Barat,” ujarnya.

Saat ini, fokus distribusi masih diarahkan ke Jawa Barat sebelum memperluas jangkauan ke provinsi lain.

“Segmentasinya juga, fokusnya pertama adalah Jawa Barat. Kalau Jawa Barat sudah terealisasi, baru kita pindah provinsi lagi,” kata Daud.

CV Anugerah Jaya Rifal kini telah memiliki jaringan distribusi di sepuluh titik, baik melalui pemasaran mandiri maupun kerja sama dengan distributor.

“Kita udah ada sepuluh titik, untuk kita kerja sama dengan pribadi kita memasarkan sendiri dan kita kerja sama dengan distributor,” ujarnya.

Titik distribusi tersebut tersebar di Bandung, Sukabumi, Subang, Purwakarta, Garut, Bekasi, Karawang, Jakarta, dan Bogor. 

"Kita beberapa titik sudah ada, tinggal nambah titik-titik lagi yang memang kita masih belum capai,” tandas Daud. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar