SURAT KABAR, CIMAHI - Hotel Tjimahi tak sekadar berdiri sebagai bangunan tua di jantung Kota Cimahi. Di balik tembok-temboknya yang menyimpan lapisan waktu, hotel ini lahir dari tangan seorang perempuan Sunda yang memiliki garis keturunan langsung dengan Prabu Siliwangi.
Hampir satu abad silam, perempuan itu menanamkan jejak sejarah yang hingga kini denyutnya masih terasa meski Hotel Tjimahi kini berada di penghujung kisah panjangnya.
Dari sosok itulah perjalanan Hotel Tjimahi bermula. Sebuah kisah tentang keteguhan, kejayaan, kejatuhan, dan kesabaran lintas generasi yang akhirnya tiba pada bab penentuan.
Pendiri hotel ini adalah Nyi Raden Fatimah Singawinata, yang sebelumnya dikenal dengan nama Nyi Raden Mardiah Singawinata. Ia adalah perempuan Sunda yang menandai awal berdirinya Hotel Tjimahi sekaligus meletakkan fondasi sejarahnya.
Warga sekitar mengenalnya dengan julukan Ratu Tagog, sosok perempuan tangguh dan berwibawa, yang dari tangannya bukan hanya sebuah bangunan bersejarah diwariskan, tetapi juga cerita panjang tentang identitas, keteguhan, dan jejak leluhur yang terus hidup hingga hari ini.
Theresia Gerungan Soetamanggala (65), pemilik Hotel Tjimahi generasi ketiga, menuturkan bahwa garis keturunan sang pendiri memang bersambung langsung dengan sejarah besar Tanah Sunda.
“Memang masih ada silsilahnya di sejarah. Kalau ditarik ke atas, itu nyambung ke Prabu Siliwangi. Kalau tidak salah, beliau keturunan anak keenamnya,” ujar perempuan yang akrab disapa Thea itu saat ditemui di kediamannya, Minggu (11/1/26).
Dalam perbincangan yang berlangsung hangat, terungkap pula bahwa darah Sunda mengalir kuat dari sang nenek. Nyi Raden Fatimah merupakan perempuan Sunda asli, sementara pasangannya berasal dari Eropa.
“Asli orang Sunda. Tapi kalau kakek itu orang Eropa, orang Belanda,” tutur Thea.
Suaminya bernama Simon David Johan Veen. Dari pernikahan itulah keduanya kemudian menetap di Cimahi, menjadi pemilik pertama lahan dan bangunan yang kelak berkembang menjadi Hotel Tjimahi.
Thea mengenang, pada masa awal, kawasan Cimahi masih jauh dari hiruk-pikuk seperti hari ini. Jalanan lengang, lalu lintas nyaris tak terasa.
“Dulu waktu saya masih kecil saja, kalau enggak bisa makan sama mama, saya ditaruh di depan rumah suruh lihat mobil. Itu paling sejam cuma satu dua mobil yang lewat,” kenangnya.
Kondisi tersebut sangat kontras dengan situasi sekarang, ketika kendaraan melintas nyaris tanpa jeda.
“Itu sejam sekali. Sekarang per menit aja sudah berapa puluh mobil,” lanjutnya.
Ia kemudian menunjuk jalan besar yang membentang tepat di depan Hotel Tjimahi. Jalan itu bukan sekadar jalur penghubung, melainkan bagian dari proyek kolonial yang memiliki sejarah panjang.
“Yang di depan kita ini bagian dari Jalan Anyer–Panarukan. Jalurnya lurus dari barat ke timur,” jelasnya.
Jalan tersebut dibangun oleh Daendels dan kini dikenal sebagai Jalan Jenderal Amir Machmud. Sebelumnya, jalan ini bernama Jalan Raya Cimahi.
“Dulunya malah dikenal sebagai Jalan Raya nomor 11M, Blok M nomor 11. Blok M-nya Cimahi, bukan Jakarta,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Meski berasal dari Purwakarta, sang nenek akhirnya menetap di Cimahi setelah menikah dengan pria asal Belanda itu. Dari sanalah berdiri sebuah vila pribadi, jauh sebelum kawasan tersebut dikenal sebagai pusat kota.
“Nenek asli Purwakarta, cuma ke sini karena ikut suami atau ketemu di Cimahi,” kenang Thea.
Pada mulanya, bangunan itu murni rumah keluarga. Tak ada tamu, tak ada aktivitas penginapan. Halamannya luas, dengan puluhan anjing peliharaan yang menjadi bagian dari keseharian keluarga.
“Awalnya vila punya nenek saya, dan beliau punya 24 ekor anjing. Kalau ngasih makan, katanya dibagi ke empat penjuru,” ceritanya.
Dari catatan lama yang masih disimpan rapi, Thea menuturkan bahwa secara administratif, izin resmi Hotel Tjimahi memang tercatat pada 19 Februari 1953. Namun cerita tentang penginapan ini telah dimulai jauh lebih awal.
Menurutnya, sejak 1927 bangunan tersebut sudah difungsikan sebagai pension yang menerima tamu. Dari situlah cikal bakal aktivitas penginapan di Cimahi tumbuh, jauh sebelum istilah “hotel” resmi digunakan.
“Jauh sebelumnya bangunan ini memang sudah beroperasi sebagai pension sejak 1927,” ujarnya.
Bahkan pada 1932, geliat pengembangan sudah terasa. Saat itu, penginapan ini telah memiliki empat kamar aktif menandai awal tumbuhnya Hotel Tjimahi seperti yang dikenal masyarakat hari ini.
Seiring waktu, Wisma Pension itu berkembang dan menjadi tempat singgah favorit warga Belanda. Memasuki era 1950-an, fungsinya kembali berubah. Hotel Tjimahi mulai dihuni kalangan militer beserta keluarganya.
“Sekitar tahun 50-an, hotel ini sudah mulai ditempati tentara, termasuk keluarga Jenderal Sarwo Edhie. Rumah beliau ada di belakang, ayah dari Bu Ani,” ungkap Thea.
Ia menambahkan, almarhumah Ani Yudhoyono bahkan sempat memiliki dua kamar di Hotel Tjimahi sebuah detail kecil yang menambah panjang jejak sejarah bangunan ini.
Pada masa itu, okupansi hotel nyaris penuh. Sekitar 90 persen kamar selalu terisi. Di bagian depan, terdapat lima kamar untuk tamu harian, sementara bagian belakang nyaris tak pernah kosong karena ditempati para tentara.
“Yang depan itu lima kamar untuk harian. Biasanya yang kosong bagian depan, tapi belakang selalu penuh,” ujarnya.
Namun kejayaan itu mulai runtuh pada 1965. Pergantian pemerintahan membawa dampak besar bagi keberlangsungan Hotel Tjimahi. Bangunan yang digunakan oleh institusi negara tak lagi dibayar, meninggalkan piutang besar yang tak kunjung terselesaikan.
“Tahun 65 saat terjadi peralihan kepemimpinan. Realitanya, kami tidak dibayar. Banyak hotel yang dipakai tentara waktu itu, dan memang tidak pernah dibayar,” kenangnya.
Piutang inilah yang menjadi awal keterpurukan ekonomi keluarga. Dari kehidupan yang relatif berkecukupan, mereka perlahan jatuh dalam kesulitan panjang.
Rasa penasaran mendorong Thea mencoba memahami nilai piutang tersebut dalam konteks hari ini. Dengan bantuan kecerdasan buatan, ia mencoba mengonversi nilai uang saat itu ke kondisi sekarang.
“AI nya bilang 2,5 miliar. Hah? Kaget! Ya Allah, hutang negara ke kami itu 2,5 miliar kalau dikonversikan ke uang sekarang,” tuturnya tak percaya.
Upaya penagihan berlangsung bertahun-tahun tanpa hasil. Harapan yang sempat muncul pada 1972 justru berakhir pahit.
“Tidak satu sen pun akhirnya kami dapatkan. Kami miskin karena piutang, bukan karena hutang. Makan satu telur dibagi empat, susah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Luka keluarga semakin dalam ketika ayah Thea meninggal pada 1969. Sejak saat itu, sang ibu menjadi tulang punggung keluarga sekaligus penjaga Hotel Tjimahi.
“Saya tidak pernah lihat ibu saya menangis. Ibu saya kuat sekali. Tapi hari itu dia diam, lalu menangis,” kata Thea lirih.
Hingga kini, persoalan piutang itu tak pernah menemukan penyelesaian.
Di tengah perjalanan waktu, sempat muncul harapan baru ketika investor tertarik mengembangkan Hotel Tjimahi menjadi hotel heritage berkelas internasional. Namun rencana itu kandas karena usia pemilik dan ketiadaan generasi penerus.
“Sempat sih, tapi siapa yang mau mengurus, kan sudah enggak ada,” katanya.
Kini, di tengah simpati publik dan perhatian warganet, keputusan melepas Hotel Tjimahi pun diambil. Bagi Thea, langkah ini bukan semata urusan bisnis, melainkan penutup dari perjalanan panjang keluarga yang hampir satu abad menjaga sejarah di Cimahi.
“Kalau bisa bantu, sebenarnya saya terbuka apa pun bentuknya,” ujarnya.
Ia berharap kisah Hotel Tjimahi bisa sampai ke telinga para pemangku kebijakan, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Saya berharap bisa tersampaikan ke Gubernur,Pak Dedi, Pak SBY, AHY, Pak Ngatiyana, atau Pak Adhitia,” ucapnya penuh harap. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar