Iklan

The Mind Architect: Cara Santai Billy Martasandy Membangun Mental Calon Abdi Negara

Posting Komentar
Founder dan Direktur PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy

SURAT KABAR, BANDUNG - Kalau mendengar kata “seleksi TNI” atau “AKPOL”, yang terbayang biasanya latihan fisik keras, baris-berbaris, dan soal-soal berat. Tapi di balik semua itu, ada satu elemen yang sering tak terlihat, mental.

Dan bicara soal mental calon abdi negara, nama Billy Martasandy jadi salah satu sosok yang menarik perhatian.

Sebagai founder dan Direktur PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy membawa pendekatan yang berbeda. Bukan sekadar bimbel, bukan cuma latihan soal, tapi pembentukan mindset.

Di ruang kerjanya yang modern dan minimalis, Billy bercerita santai tentang satu hal yang sering ia temui, banyak anak muda cerdas dan kuat secara fisik, tapi goyah saat masuk fase tes psikologi.

“Banyak yang sebenarnya mampu. Tapi ketika masuk ruang tes dan merasa tertekan, performanya turun. Di situ mental memainkan peran besar,” ujarnya.

Menurutnya, seleksi TNI, Polri, maupun sekolah kedinasan bukan cuma menguji kemampuan akademik. Yang diuji adalah stabilitas emosi, kejujuran, konsistensi karakter, sampai cara seseorang mengambil keputusan di bawah tekanan. Dan itu semua, kata Billy, bisa dilatih.

Di Martasandy Psychology Indonesia, peserta tak hanya duduk mengerjakan soal psikotes berbasis komputer (CAT). Mereka juga mengikuti simulasi dinamika kelompok, latihan kepemimpinan, hingga sesi refleksi diri. Konsepnya sederhana, kenali diri sendiri dulu.

“Kami membangun self-awareness. Kalau seseorang mengenal dirinya, dia tidak perlu pura-pura,” jelas Billy.

Pendekatan ini membuat proses persiapan terasa lebih seperti personal development journey daripada sekadar bimbingan belajar. Ada proses tumbuh, bukan cuma target lulus.

Menariknya, Billy melihat ada perubahan generasi. Anak muda sekarang lebih terbuka membahas kesehatan mental dan pengembangan diri.

“Dulu orang fokusnya fisik dan akademik. Sekarang mereka mulai sadar, mental strength itu competitive advantage,” katanya.

Ia menanamkan tiga hal utama pada para peserta, disiplin diri, kesadaran diri, kecerdasan emosional. Bagi Billy, pemimpin masa depan bukan hanya yang paling kuat atau paling pintar, tapi yang paling stabil.

Meski banyak peserta datang dengan target lolos seleksi, Billy selalu mengingatkan satu hal: perjalanan tidak berhenti saat dinyatakan lulus.

“Masuk akademi itu awal. Tantangan sebenarnya justru setelahnya. Kalau mentalnya tidak siap, akan sulit bertahan,” ujarnya.

Karena itu, visinya lebih besar dari sekadar angka kelulusan. Ia ingin mencetak generasi yang matang secara emosional dan siap memikul tanggung jawab besar.

Di tengah tren self-improvement dan gaya hidup produktif, pendekatan yang dibawa Billy terasa relevan. Mental training kini bukan lagi sesuatu yang terdengar berat atau menakutkan. Ia menjadi bagian dari gaya hidup disiplin dan pengembangan diri.

Dan mungkin, di balik setiap seragam yang terlihat gagah, ada proses panjang mengenal diri sendiri yang tak banyak orang tahu.

Bagi Billy Martasandy, membangun negeri bisa dimulai dari satu hal sederhana, membangun mental generasi mudanya. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar