Iklan

Strategi Diskominfo Cimahi Tekan Penyebaran Hoaks Lewat Konten Kreatif

Posting Komentar
Kepala Bidang Informasi, Komunikasi Publik, dan Statistik Diskominfo Kota Cimahi, Andri Nurwantoro (Sumber: Jabar Ekspres)
SURAT KABAR, CIMAHI – Kepala Bidang Informasi, Komunikasi Publik, dan Statistik Diskominfo Kota Cimahi, Andri Nurwantoro menegaskan pentingnya strategi literasi digital yang adaptif terhadap perilaku masyarakat modern yang lebih menyukai konten singkat, menarik, dan visual.

Menurut Andri, pendekatan literasi digital konvensional sudah tidak cukup efektif, terutama bagi masyarakat digital yang terbiasa dengan konsumsi informasi cepat melalui video pendek atau infografis. 

Konten yang mengedepankan elemen emosional, dibalut bahasa sehari-hari, dan terkadang menyinggung kearifan lokal, dinilai jauh lebih mudah diterima dan disebarkan secara positif.

"Yang disampaikan dalam bahasa sehari-hari (termasuk unsur budaya Sunda bila perlu) dan diakhiri call-to-action konkret seperti jangan langsung forward, cek sumber, lapor," ujar Andri pada Surat Kabar, Minggu (11/1/26).

Selain konten yang menarik, proses verifikasi informasi menjadi fokus utama Diskominfo Kota Cimahi. Setiap laporan hoaks yang masuk tidak langsung diumumkan kepada publik. 

Tim melakukan verifikasi berlapis, mulai dari menelusuri sumber primer hingga konfirmasi langsung dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

"Keputusan kemudian dipublikasikan dan dilaporkan ke platform. Tim juga berkoordinasi ke tingkat provinsi atau nasional bila diperlukan, seperti dengan Jabar Saber Hoaks," jelasnya.

Andri menekankan peran Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) dan PIC PPID sebagai perpanjangan tangan Diskominfo di lapangan. Mereka memiliki fungsi strategis untuk mendeteksi isu lokal yang mungkin tidak terlihat melalui pemantauan akun resmi otomatis.

"Mereka mendeteksi isu lokal yang sering tidak terlihat oleh pemantauan otomatis akun resmi,” kata dia.

Isu-isu yang biasanya pertama kali muncul di tingkat lokal meliputi bantuan sosial, kebijakan lingkungan, hingga layanan publik. 

Melalui koordinasi yang baik antara KIM, PIC PPID, dan Diskominfo, Andri menegaskan informasi ini bisa diklarifikasi, diverifikasi, dan disebarkan kembali secara resmi agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat.

Dengan strategi ini, lanjut dia, penyebaran hoaks dapat ditekan secara signifikan. Kolaborasi konten digital yang adaptif dan jaringan KIM yang aktif menjamin informasi resmi menjangkau masyarakat, termasuk mereka yang jarang mengakses internet atau media sosial.

"Dengan sinergi konten digital dan jaringan KIM yang aktif, penyebaran hoaks bisa ditekan dan informasi resmi menjangkau warga yang jarang online," tutup Andri. (SAT)
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar