Iklan

Kesehatan Mental Anak dan Fenomena Cut Off Orang Tua: Apa yang Perlu Diketahui?

Posting Komentar
Ilustrasi Fenomena Cut Off dengan Orang Tua (Sumber: Perempuan Berkisah)

SURAT KABAR - Kesehatan mental bukan lagi istilah asing di Indonesia. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu psikologis, satu fenomena yang belakangan sering muncul di ruang diskusi adalah cut off orang tua atau pemutusan hubungan dengan orang tua. 

Topik ini tak jarang menimbulkan perdebatan tajam, apakah ini bentuk pelarian emosional atau langkah perlindungan diri yang rasional?

Dilansir dari Young Buddhist Association, para ahli kesehatan mental menegaskan bahwa hubungan orang tua dan anak menjadi pondasi utama perkembangan emosional seseorang. 

Ikatan ini mempengaruhi cara kita membentuk hubungan selanjutnya, mengatur emosi, dan membangun rasa percaya diri. Ketika hubungan tersebut rusak, dampaknya bisa bertahan lama dan kompleks.

Sebuah studi internasional menunjukkan bahwa maladaptasi hubungan orang tua–anak, termasuk kondisi parental alienation atau upaya satu pihak untuk menjauhkan anak dari orang tua lainnya, bisa berdampak serius pada kesehatan mental di kemudian hari. 

Mereka yang mengalami perlakuan seperti itu cenderung mengalami kecemasan, depresi, trauma, kesulitan mengatur emosi, bahkan ide bunuh diri di usia dewasa.

Cut Off: Bentuk Perlindungan atau Luka Baru?

Istilah cut off kontroversial karena sering disamakan dengan sikap egois atau “ngambek”. Padahal, bagi sebagian orang yang pernah mengalami kekerasan emosional, verbal, atau manipulasi psikologis, memutus hubungan dengan orang tua dapat menjadi bentuk perlindungan terhadap kesehatan mental.

Contohnya, bila pola asuh orang tua selama bertahun‑tahun sarat dengan kritik destruktif, gaslighting, atau minim empati, seseorang bisa tumbuh dengan rasa tidak aman, kurang harga diri, dan bahkan depresi. 

Dalam banyak kasus, psikolog menjelaskan, bukan sekadar “ngambek”, tetapi perlindungan terhadap trigger psikologis yang terus berulang.

Psikologi perkembangan menempatkan hubungan orang tua–anak sebagai basis dari kemampuan mengatur emosi dan membangun relasi aman di masa dewasa. 

Ketika ikatan ini rusak, baik karena kekerasan, konflik berkepanjangan, maupun pemaksaan nilai hidup, efeknya tidak sederhana. 

Buku riset menunjukkan bahwa dalam kasus seperti perceraian atau konflik berat, anak bisa mengalami gangguan emosional jangka panjang, termasuk kecemasan dan risiko depresi yang meningkat.

Apa Kata Penelitian?

Penelitian yang dipublikasikan dalam database medis terkemuka PubMed menulis bahwa eksposur terhadap perilaku yang menjauhkan anak dari orang tua bisa membuat eks‑anak itu berjuang dengan kecemasan, stres emosional, maupun gangguan mental tertentu di kemudian hari. 

Data lain juga menunjukkan bahwa parental separation atau konflik besar antara orang tua secara umum berhubungan dengan peningkatan masalah mental selama remaja dan bahkan dewasa, meskipun tidak semua individu mengalami efek yang sama.

Kapan Cut Off Menjadi Alat Penyembuhan?

Cut off tak selalu berarti “tidak bisa berdamai selamanya”. Bagi banyak orang, cut off adalah periode jeda, ruang untuk menyembuhkan, membangun batas sehat (healthy boundaries), dan mencoba relasi baru dari posisi emosi yang lebih stabil. 

Hal ini mirip dengan praktik trauma‑informed care yang menghormati kebutuhan klien untuk mengatur jarak dari sumber trauma.

Intinya, cut off bukan pilihan yang mudah. Ia penuh konsekuensi emosional dan sering kali memerlukan dukungan profesional seperti psikolog atau terapis keluarga.

Kesimpulan: Antara Love dan Logic

Kesehatan mental bukan sekadar “tidak sedih” atau “bisa tertawa setiap hari”. Ia tentang bagaimana seseorang dapat hidup dengan beragam emosi, menjalin relasi yang sehat, dan memutus pola yang merusak tanpa kehilangan harga diri. 

Di sinilah cut off orang tua kadang masuk, bukan sebagai pilihan impulsif, tetapi sebagai strategi bertahan hidup dari trauma yang berkepanjangan.

Jika kamu atau orang di sekitar sedang mempertimbangkan pilihan ini, pertimbangkan untuk berbicara dengan tenaga profesional dan orang‑orang terpercaya. 

Ingat! mengambil ruang bukan berarti kamu menyerah, melainkan memberi diri sendiri kesempatan untuk sembuh. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar