Iklan

Fatherless: Mengapa Kehadiran Ayah Penting bagi Tumbuh Kembang Anak

Posting Komentar
Ilustrasi Ayah dan Anak (Sumber: Freepik)

SURAT KABAR - Kita sering mendengar istilah fatherless dalam diskusi parenting dan psikologi keluarga, namun esensinya sering kali kurang dipahami publik luas. Fatherless bukan hanya sekadar "anak tanpa ayah", melainkan kondisi ketika sosok ayah tidak hadir secara fisik maupun emosional dalam hidup anak.

Entah karena perceraian, kematian, pekerjaan ayah yang jauh dari keluarga, atau bahkan keterlibatan yang minim dalam pengasuhan anak sehari‑hari. 

Berdasarkan informasi dari Goodstat Data, di Indonesia sendiri, fenomena fatherless sudah menjadi isu sosial yang nyata. 

Berdasarkan laporan Universitas Gadjah Mada (UGM), sekitar 15,9 juta anak di Indonesia diperkirakan tumbuh tanpa figur ayah yang aktif, termasuk anak yang ayahnya bekerja jauh dari rumah sehingga jarang berinteraksi secara intens dengan anaknya.

Angka ini menunjukkan bahwa hampir 1 dari 5 anak Indonesia berpotensi menjadi fatherless, angka yang mengkhawatirkan dan perlu perhatian masyarakat luas.

Kenapa Fatherless Jadi Isu Serius?

Lebih dari sekadar statistik, ketidakhadiran ayah memiliki dampak nyata terhadap perkembangan anak. Penelitian dan kajian ilmiah menunjukkan bahwa anak yang mengalami fatherless cenderung menghadapi sejumlah tantangan psikologis dan sosial sepanjang hidupnya. 

Pertama, dilansir dari ajosh.org, pada tingkat emosional, anak tanpa figur ayah lebih rentan mengalami self‑esteem rendah, rasa kesepian, dan kesulitan membangun hubungan interpersonal.

Hal ini terlihat pada riset yang mencatat bahwa keterbatasan kehadiran ayah berdampak langsung pada perkembangan interpersonal dan respon terhadap stres pada usia dini.

Kedua, pada masa remaja kondisi fatherless sering berkaitan dengan masalah socioemosional seperti kecemasan, rasa tidak aman, hingga depresi. 

Studi literatur bahkan menyebutkan bahwa ketiadaan afeksi dari ayah bisa memicu perasaan gelisah dan ketidakstabilan emosional pada remaja, yang dalam beberapa kasus mempengaruhi perilaku sosial mereka.

Dampak Fatherless pada Perkembangan Anak

Dalam konteks pendidikan dan perilaku, fatherless juga berdampak lebih luas:

  1. Performa akademik menurun: Anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah kerap mengalami kesulitan fokus dan motivasi belajar, bahkan ada yang mencatat penurunan prestasi karena beban emosional yang tidak tersalurkan dengan baik.
  2. Kesulitan dalam pembentukan identitas diri: Sosok ayah sering menjadi refleksi peran gender dan pedoman moral bagi anak. Tanpa arah yang jelas, proses pembentukan identitas bisa terganggu.
  3. Risiko gangguan perilaku: Beberapa kajian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh tanpa peran ayah memiliki peluang lebih besar untuk menunjukkan perilaku yang tidak stabil, termasuk agresi atau masalah kontrol diri.

Mitos dan Realita

Perlu diingat, fenomena fatherless bukan sekadar kehilangan figur ayah secara biologis, tetapi juga ketidakcukupan hadirnya figur ayah secara emosional, yang dalam banyak kasus sama berdampaknya. 

Bahkan anak yang secara fisik tinggal dengan ayah, namun jarang mendapatkan waktu berkualitas, bisa tetap mengalami dampak fatherless.

Membangun Solusi

Mengatasi fenomena ini bukan hanya tugas individu, tetapi juga masyarakat dan negara. Pendidikan parenting, kampanye kesadaran akan pentingnya keterlibatan ayah, serta program dukungan keluarga bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi dampak fatherless dalam jangka panjang.

Dalam perkembangannya, semakin banyak kampanye dan penelitian di Indonesia yang mengajak ayah untuk lebih hadir, berbicara, bermain, dan mendampingi anak, karena peran ayah tak bisa digantikan oleh siapa pun dalam proses tumbuh kembang generasi masa depan. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar