SURAT KABAR - Kesehatan mental anak Indonesia kini menjadi isu yang semakin memprihatinkan. Berdasarkan Survei I-NAMHS 2022, sekitar 1 dari 3 remaja usia 10-17 tahun, setara dengan 2,45 juta anak, mengalami masalah kesehatan mental.
Dari data Kementerian Kesehatan RI Tahun 2022, jumlah tersebut, 1 dari 20 remaja mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Namun, ironisnya, hanya 2,6 persen remaja yang mencari bantuan profesional.
Faktor penyebab masalah mental pada remaja sangat kompleks. Selain genetik dan perkembangan otak, lingkungan juga berperan besar.
Tekanan akademik, pergaulan, dan media sosial bisa menimbulkan kecemasan, rasa takut ketinggalan informasi (FOMO), kesepian, hingga depresi.
Trauma, seperti bullying atau kekerasan, turut menambah beban psikologis. Fenomena ini bahkan disebut sebagai "Generasi Strawberry", yaitu generasi muda yang emosional, mudah rapuh, dan lebih sensitif terhadap tekanan karena tumbuh di era digital.
Tanda-tanda masalah mental pada remaja sering kali sulit dikenali. Anak bisa memendam emosi, sulit mengekspresikan perasaan sedih atau marah, mengalami perubahan nafsu makan, insomnia, hingga kesulitan berkonsentrasi.
Reaksi emosional yang berlebihan, seperti rasa takut atau cemas yang mengganggu aktivitas sehari-hari, juga menjadi indikator penting. Jika diabaikan, masalah ini berpotensi berlanjut hingga dewasa, meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, hingga ide bunuh diri (WHO, 2021).
Peran orang tua menjadi kunci utama dalam pencegahan dan penanganan. Langkah pertama adalah membangun komunikasi terbuka. Orang tua sebaiknya mendengarkan keluhan anak, memvalidasi perasaan mereka, dan menyediakan waktu berkualitas untuk interaksi.
Selain itu, penting untuk membangun kepercayaan diri anak melalui perhatian penuh, kritik yang membangun, mendorong sosialisasi, dan menciptakan lingkungan yang aman.
Dalam era digital, orang tua juga harus membatasi penggunaan gadget, khususnya media sosial, untuk mengurangi dampak negatif. Mengajarkan anak regulasi emosi, seperti teknik pernapasan dalam, meditasi ringan, atau mengajak bermain dan bersosialisasi, membantu anak lebih mampu mengelola stres.
Lebih lanjut, orang tua perlu menjadi teladan perilaku mental yang sehat, memperlihatkan cara menghadapi tekanan dengan baik, dan membangun hubungan hangat dengan anak.
Selain dukungan keluarga, remaja juga bisa memanfaatkan layanan profesional. Salah satunya melalui PUSPAGA (Pusat Pembelajaran Keluarga) yang menyediakan layanan edukasi dan konseling keluarga.
Kehadiran layanan ini diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam pencegahan dan penanganan masalah kesehatan mental anak (KemenPPPA, 2023).
Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental anak harus menjadi prioritas. Jika diabaikan, dampak jangka panjangnya dapat mengganggu kualitas hidup anak hingga dewasa.
Orang tua, guru, dan masyarakat perlu bekerja sama menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang psikologis anak agar mereka siap menghadapi tekanan hidup dengan lebih sehat dan bahagia. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar