SURAT KABAR, BANDUNG - Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, meminta masyarakat tidak panik menyikapi istilah super flu yang belakangan ramai diperbincangkan. Ia menegaskan, super flu bukanlah istilah medis dan tidak perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan di tengah masyarakat.
Menurut Vini, istilah tersebut muncul sebagai sebutan awam untuk influenza yang durasi sakitnya lebih panjang dibandingkan flu biasa. Penjelasan ini disampaikan untuk meluruskan informasi yang beredar sekaligus memberikan pemahaman yang tepat mengenai kondisi kesehatan tersebut.
“Sebenarnya istilah super flu itu bukan istilah medis. Di dunia medis, ini adalah influenza tipe A varian H3N2,” ujar Vini, Selasa (13/1/26).
Ia menjelaskan, flu biasa umumnya sembuh dalam waktu tiga hingga empat hari. Sementara itu, influenza tipe A varian H3N2 dapat berlangsung lebih lama sehingga oleh sebagian masyarakat disebut sebagai super flu.
Kendati demikian, Vini menegaskan penyakit ini bersifat self-limited atau dapat sembuh dengan sendirinya apabila daya tahan tubuh pasien baik.
“Masyarakat tidak perlu khawatir karena sifatnya sama seperti flu lainnya dan tidak separah COVID-19,” katanya.
Vini juga memastikan tingkat fatalitas influenza tipe A H3N2 jauh lebih rendah dibandingkan COVID-19. Hingga saat ini, Dinas Kesehatan Jawa Barat tidak menerima laporan kematian akibat virus tersebut.
Berdasarkan data yang dikonfirmasi kepada Kementerian Kesehatan, terdapat 10 kasus influenza tipe A H3N2 di Jawa Barat pada periode Agustus hingga Oktober 2025.
“Dari Agustus sampai Oktober ada sepuluh kasus, dan semuanya sudah sembuh,” ujar Vini.
Ia menambahkan, tren kasus influenza tersebut kini menunjukkan penurunan. Saat ini tidak ditemukan lagi pasien terkonfirmasi yang menjalani perawatan di rumah sakit.
Meski demikian, Vini mengingatkan kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta penderita penyakit penyerta tetap perlu meningkatkan kewaspadaan.
“Pada kelompok rentan, penyakit apa pun harus tetap diwaspadai karena bisa memperberat kondisi,” katanya.
Dalam upaya pencegahan, Dinas Kesehatan Jawa Barat terus mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Langkah yang dianjurkan antara lain mencuci tangan secara rutin, menerapkan etika batuk, menggunakan masker saat sakit, serta melakukan isolasi mandiri apabila mengalami gejala influenza.
Selain itu, Vini menyebut vaksin influenza yang tersedia di masyarakat dapat dimanfaatkan sebagai langkah pencegahan, khususnya bagi kelompok berisiko.
“Vaksinasi influenza bisa dilakukan secara mandiri, terutama untuk lansia dan penderita komorbid,” ujarnya.
Vini kembali mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengikuti perkembangan dari sumber resmi. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan tetap tenang dan mampu menjaga kesehatan secara mandiri di tengah isu yang berkembang. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar