Isu krusial tersebut menjadi fokus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digelar Tim Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani (FK Unjani) di Rumah Sakit Kebon Jati Bandung, Sabtu (11/1/2026).
Kegiatan ini mengusung tema “Menjaga Kualitas Hidup Pasien Hemodialisis dengan Berfokus pada Pengaturan Cairan, Elektrolit, dan Pengendalian Anemia.”
Program ini dipimpin oleh dr. Yudith Yunia Kusmala, SpPD, M.Kes, dosen tetap Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam FK Unjani.
Edukasi dan pemeriksaan kesehatan tidak hanya menyasar pasien hemodialisis rutin, tetapi juga melibatkan keluarga pasien, perawat unit hemodialisis, serta manajemen rumah sakit sebagai bagian dari pendekatan perawatan yang menyeluruh.
"Pasien hemodialisis sering kali fokus pada jadwal cuci darah, padahal pengaturan cairan dan pengendalian anemia sangat menentukan kualitas hidup mereka sehari-hari,” ujar dr. Yudith saat ditemui di sela kegiatan.
Berbeda dari penyuluhan kesehatan pada umumnya, kegiatan ini menggabungkan pendekatan edukatif dan intervensi klinis secara langsung.
Sesi utama dipandu oleh dr. Yudith bersama Ns. Susi Harsiwi, yang memaparkan secara rinci strategi pengaturan asupan cairan harian, kepatuhan terhadap terapi elektrolit, serta risiko kelebihan cairan pada pasien gagal ginjal kronis.
Menurut dr. Yudith, ketidakpatuhan dalam mengatur cairan masih menjadi persoalan dominan di kalangan pasien hemodialisis.
"Kelebihan cairan bisa memicu sesak napas, pembengkakan, hingga memperberat kerja jantung. Edukasi ini penting agar pasien dan keluarga benar-benar memahami batas aman asupan cairan,” jelasnya.
Selain edukasi, tim medis juga melakukan pemeriksaan kadar Hemoglobin (Hb) kepada seluruh peserta. Anemia masih menjadi komplikasi yang kerap dialami pasien hemodialisis dan berpengaruh langsung terhadap stamina, daya tahan tubuh, serta risiko rawat inap berulang.
Bagi pasien dengan kadar Hb rendah, dilakukan pemeriksaan lanjutan serta pemberian pemahaman mendalam mengenai terapi injeksi eritropoetin.
"Anemia bukan sekadar membuat pasien cepat lelah. Jika tidak dikendalikan, kualitas hidup menurun dan risiko komplikasi meningkat. Terapi eritropoetin harus dipahami manfaat dan kepatuhannya,” kata dr. Yudith.
Kegiatan ini melibatkan tim dokter Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam FK Unjani, yakni dr. Diana Irafiani, SpPD, dr. I Wayan Agus Putra, SpP, dr. Deasy Wirasiti, SpP, serta dr. Rudi Dwi Laksono.
Kehadiran tim multidisiplin ini menegaskan komitmen FK Unjani dalam penanganan pasien secara holistik.
Tak hanya itu, tiga mahasiswa kedokteran FK Unjani, Rizky Aulia Ajadeta, Malvaliya Putri Ardhani Tanjung, dan Ibnaty Surayya Zaida ikut terlibat langsung.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari pembelajaran lapangan mengenai manajemen pasien kronis dan peran pengabdian masyarakat dalam praktik kedokteran.
Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unjani.
Tim pelaksana juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran direksi dan manajemen RS Kebon Jati, serta seluruh perawat unit hemodialisis yang terlibat aktif dalam pelaksanaan kegiatan.
Melalui edukasi dan pemeriksaan terpadu ini, tim berharap pasien dan keluarga memiliki pemahaman yang lebih kuat untuk memantau kondisi kesehatan sehari-hari secara mandiri.
"Tujuan akhirnya adalah menekan angka komplikasi dan membantu pasien tetap memiliki kualitas hidup yang layak meskipun harus menjalani hemodialisis jangka panjang," pungkas dr. Yudith. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar