SURAT KABAR, CIMAHI - Pembangunan underpass Gatot Subroto(Gatsu) Kota Cimahi dipastikan tidak mengabaikan keberadaan bangunan
bersejarah. Salah satu cagar budaya yang terdampak proyek tersebut adalah gardulistrik peninggalan zaman Belanda.
Alih-alih dihancurkan, gardu listrik cagar budaya di kawasan
Jalan Gatot Subroto Cimahi akan dipindahkan. Langkah tersebut dilakukan agar
pembangunan underpass tetap berjalan tanpa menghilangkan nilai sejarah dari
bangunan peninggalan masa kolonial tersebut.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana mengatakan, dampak pembangunan
underpass Gatsu terhadap cagar budaya hanya mengenai gardu listrik. Sementara
sejumlah pohon besar yang juga merupakan peninggalan zaman Belanda tetap
dipertahankan karena memiliki nilai sejarah.
“Dampak pembangunan underpass terhadap bangunan heritage
hanya kena di gardu listrik saja. Pohon-pohon besar peninggalan zaman Belanda
juga tidak ditebang karena memiliki nilai sejarah,” ujar Ngatiyana, Selasa
(15/9/26).
Menurut Ngatiyana, keberadaan cagar budaya di sekitar proyek underpass Gatot Subroto menjadi salah satu perhatian Pemkot Cimahi. PemerintahKota Cimahi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat memilih solusi teknis dengan
menggeser posisi gardu, bukan membongkar atau merusak bangunan tersebut.
“Gardu yang merupakan cagar budaya tidak dirusak, tapi kita
alihkan atau kita geser tempatnya. Sehingga tidak mengurangi bentuk dari cagar
budaya tersebut,” jelasnya.
Selain menjaga gardu listrik peninggalan Belanda, proyek underpass
Gatsu Cimahi juga diiringi upaya menjaga lingkungan. Pemkot Cimahi bersama
Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat menanam sebanyak 74 bibit pohon sebagai
bentuk kompensasi atas dampak lingkungan dari pembangunan underpass.
Puluhan bibit pohon tersebut ditanam di lingkungan Masjid
ABRI. Sebagian lainnya juga akan ditanam di kawasan Ekowisata Lebaksaat Cimahi
sebagai bagian dari upaya penghijauan di wilayah terdampak pembangunan.
Ngatiyana menyebut, penanaman 74 bibit pohon dalam proyek underpass
Gatot Subroto Cimahi merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk mengganti pohon
yang terdampak pembangunan. Jenis pohon yang ditanam cukup beragam, mulai dari
mahoni, trembesi hingga durian.
“Penanaman pohon salah satunya sebagai komitmen pengganti
kompensasi pohon terdampak yang harus kita tanam kembali. Alhamdulillah
bermacam-macam pohon, ada mahoni, ada trembesi, ada juga durian yang cepat
berbuahnya. Nah, ini sebagai penggantinya, mudah-mudahan berhasil dan area ini
bisa menghijau kembali,” kata Ngatiyana.
Sementara itu, pembangunan underpass Gatsu Kota Cimahi
merupakan proyek bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Proyek ini
dilakukan karena Jalan Gatot Subroto berstatus sebagai jalan provinsi dan
menjadi salah satu akses penting di Kota Cimahi.
Pemkot Cimahi sebagai penerima manfaat dari pembangunan underpass
Gatot Subroto turut berkomitmen mendukung kelancaran proyek tersebut.
Pemerintah daerah berharap pembangunan dapat selesai sesuai target tanpa
mengorbankan bangunan bersejarah maupun lingkungan sekitar.
“Pembangunan underpass ini merupakan program Provinsi Jawa
Barat karena Jalan Gatot Subroto berstatus jalan provinsi. Pemkot Cimahi selaku
penerima manfaat dari bantuan Bapak Gubernur, makanya kita jaga dan ikut
sukseskan untuk kepentingan bersama,” tutur Ngatiyana.
Proyek underpass Gatsu Cimahi ditargetkan rampung pada akhir
Desember 2026. Untuk mengejar target penyelesaian, pekerjaan disebut dapat
dilakukan secara intensif, termasuk pada malam hari apabila waktu pengerjaan
yang tersedia semakin terbatas.
“Target akhir Desember selesai, kalau kurang waktunya malam hari bisa terus dikerjakan secara intensif,” pungkasnya. (SAT)


Posting Komentar