Rusia Tuduh AS-Israel Gunakan Perang Iran untuk Tekan Negara Arab Tinggalkan Palestina

Redaksi
Tambahkan
...
0
Ilustrasi Perang Iran-Amerika (Doc. META AI)
Ilustrasi Perang Iran-Amerika (Doc. META AI)

SURAT KABAR - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Rusia menuding Amerika Serikat dan Israel memiliki agenda lain di balik serangan terhadap Iran. Moskow menilai konflik tersebut bukan semata operasi militer, melainkan upaya menggagalkan normalisasi hubungan Iran dengan negara-negara Arab Teluk sekaligus menekan dukungan terhadap Palestina.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengungkapkan hal itu saat menanggapi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Menurutnya, perang tersebut sengaja diarahkan untuk mempersempit ruang rekonsiliasi antara Teheran dan negara-negara Arab di kawasan Teluk.

Menurut Lavrov, kampanye militer gabungan Washington dan Tel Aviv bertujuan mendorong negara-negara Arab agar semakin dekat dengan Israel, sekaligus meninggalkan dukungan terhadap perjuangan Palestina.

Dilansir dari berbagai sumber terpercaya, Iran merespons serangan udara AS-Israel yang diluncurkan pada 28 Februari dengan menargetkan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk. Selain itu, Iran juga menyerang infrastruktur energi dan pelabuhan yang disebut berkaitan dengan operasi militer AS.

Lavrov mengutuk serangan terhadap Iran dan menyebut langkah tersebut sebagai agresi “tanpa provokasi”. Ia juga menilai respons Teheran merupakan bentuk pembelaan diri.

“Saya tidak ragu bahwa ketika rencana untuk memicu agresi terhadap Iran sedang disusun, salah satu tujuannya adalah untuk mencegah normalisasi hubungan antara Iran dan negara-negara Arab,” kata Lavrov, seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (14/5/2026).

“Sekarang, segala upaya dilakukan untuk memastikan bahwa rekonsiliasi tidak akan pernah terjadi," ujarnya.

Lavrov juga menuding Amerika Serikat menekan negara-negara Arab agar meninggalkan perjuangan Palestina demi mempererat hubungan dengan Israel.

Dia turut menuduh Washington menggunakan taktik “neokolonial” dalam kebijakan globalnya.

"Untuk memaksa semua orang membeli minyak AS dan gas alam cair yang mahal daripada minyak Rusia yang murah," ujarnya.

“Mereka berupaya menguasai dunia melalui pengendalian pasokan energi global,” imbuh Lavrov.

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengaku melakukan perjalanan rahasia ke Uni Emirat Arab (UEA) saat puncak perang melawan Iran berlangsung. Netanyahu bahkan menyebut kunjungan itu sebagai “terobosan bersejarah”.

Pengakuan tersebut disampaikan kantor Netanyahu melalui pernyataan resmi pada Rabu. Namun, pemerintah UEA langsung membantah bahwa kunjungan tersebut pernah terjadi.

Sementara itu, sejumlah media Amerika Serikat melaporkan Arab Saudi dan UEA diduga melakukan serangan udara rahasia di wilayah Iran selama konflik berlangsung. Meski UEA membantah terlibat dalam aksi militer, pemerintah Arab Saudi belum memberikan konfirmasi maupun bantahan terkait laporan tersebut.

Di sisi lain, pejabat Iran menuding negara-negara Teluk turut memfasilitasi serangan terhadap wilayah mereka. Teheran juga meminta Amerika Serikat menarik pasukannya dari kawasan tersebut. (SAT)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar