![]() |
| TANTANGAN DUNIA KERJA: Ilustrasi tantangan penyerapan tenaga kerja di Bandung di tengah investasi yang belum berdampak optimal (Doc. Freepik) |
SURAT KABAR, BANDUNG - Upaya Pemerintah Kota Bandung dalam menekan angka pengangguran terbuka mendapat tanggapan dari kalangan pelaku usaha.
Pengusaha asal Bandung, Billy Martasandy, menilai strategi yang berfokus pada peningkatan investasi dan penyesuaian kompetensi tenaga kerja merupakan langkah awal yang tepat, namun masih menyisakan sejumlah tantangan mendasar di lapangan.
Billy menyebutkan bahwa investasi memang memiliki peran penting dalam membuka peluang kerja baru. Namun, ia mengingatkan bahwa realisasi investasi tidak selalu otomatis berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja lokal.
“Masalahnya bukan hanya menarik investor masuk, tapi apakah ekosistem bisnis di Bandung benar-benar siap. Banyak investor datang dengan kebutuhan spesifik, sementara tenaga kerja kita belum tentu bisa langsung memenuhi standar tersebut,” ujarnya, Senin 13 April 2026.
Ia menyoroti adanya kesenjangan yang cukup lebar antara keterampilan pencari kerja dengan kebutuhan industri, khususnya di sektor teknologi, manufaktur modern, dan ekonomi kreatif berbasis digital.
Menurutnya, program pelatihan yang ada saat ini masih cenderung umum dan belum terintegrasi secara langsung dengan kebutuhan riil perusahaan.
“Sering kali pelatihan hanya bersifat formalitas. Tidak berbasis pada demand industri yang konkret. Akibatnya, lulusan pelatihan tetap kesulitan masuk ke dunia kerja,” tambahnya.
Selain itu, Billy juga mengkritisi pendekatan pemerintah yang dinilai terlalu berfokus pada angka investasi tanpa memperhatikan kualitas dan keberlanjutannya. Ia menilai bahwa investasi yang masuk seharusnya diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki efek berganda tinggi terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.
“Kalau investasi hanya masuk ke sektor padat modal, dampaknya ke tenaga kerja terbatas. Pemerintah perlu lebih selektif, dorong sektor padat karya yang relevan dengan potensi SDM lokal,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan dalam membangun sistem yang lebih adaptif. Menurutnya, kurikulum pendidikan dan pelatihan harus disusun bersama pelaku industri agar lebih tepat sasaran.
Billy juga mendorong adanya insentif bagi perusahaan yang aktif melakukan pelatihan dan re-skilling tenaga kerja lokal. Ia percaya bahwa keterlibatan langsung sektor swasta dalam pengembangan SDM dapat mempercepat proses penyerapan tenaga kerja.
“Jangan hanya mengandalkan pemerintah. Dunia usaha juga harus dilibatkan secara nyata, tapi tentu perlu ada stimulus agar perusahaan mau berinvestasi dalam pengembangan SDM,” katanya.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa persoalan pengangguran tidak bisa diselesaikan hanya dari sisi supply dan demand tenaga kerja. Faktor lain seperti kemudahan berusaha, regulasi yang fleksibel, serta kepastian hukum juga menjadi penentu masuknya investasi yang berkualitas.
“Kalau regulasi masih berbelit, investor juga akan ragu. Ujungnya, peluang kerja yang diharapkan tidak akan maksimal,” tutupnya.
Dengan berbagai catatan tersebut, Billy berharap strategi yang disiapkan Pemerintah Kota Bandung dapat lebih komprehensif dan tidak hanya berorientasi pada jangka pendek, tetapi juga mampu menciptakan fondasi ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. (DAM)


Posting Komentar