Di Balik Layanan 112 Cimahi Campernik, Kisah Warga yang Diselamatkan dari Niat Percobaan Bunuh Diri

Redaksi
Tambahkan
...
0
CALL CENTER 112 CIMAHI: Pelayanan Kegawatdaruratan dari Pemerintah Kota Cimahi Melalui Diskominfo Cimahi (Doc: Surat Kabar)
CALL CENTER 112 CIMAHI: Pelayanan Kegawatdaruratan dari Pemerintah Kota Cimahi Melalui Diskominfo Cimahi (Doc: Surat Kabar)

SURAT KABAR, CIMAHI – Layanan darurat Call Center 112 di Kota Cimahi kini menghadapi fenomena baru, di mana warga tidak hanya melaporkan kejadian kegawatdaruratan, tetapi juga menjadikannya sebagai ruang curhat di tengah tekanan hidup yang kian kompleks.

Penelaah Teknis Kebijakan Bidang IKPS Diskominfo Kota Cimahi, Adhy Ramadhyan, mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan sejumlah laporan unik yang masuk melalui layanan bebas pulsa tersebut. Salah satunya bahkan berkaitan dengan indikasi percobaan bunuh diri.

"Kemudian terkait dengan laporan yang unik ke Call Center 112 Cimahi Campernik, di sini juga laporan yang unik juga ada beberapa yang pernah saya dapatkan laporan dari teman-teman petugas call taker, salah satunya dulu pernah ada Kang, itu tuh terkait dengan warga Cimahi yang curhat," ujar Adhy saat diwawancarai Surat Kabar di ruang Call Center 112 di Pemkot Cimahi, Rabu (1/4/26).

Menurut Adhy, warga tersebut menghubungi layanan 112 bukan untuk melaporkan kejadian darurat secara fisik, melainkan untuk meluapkan beban psikologis yang dialaminya.

“Jadi kayak mau, mungkin dalam tanda kutip bunuh diri gitu, seperti ada indikasi seperti itu, tapi akhirnya telepon ke kita, ke call center 112," jelasnya.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 2025. Dalam situasi genting tersebut, petugas call taker berupaya menenangkan penelepon hingga percakapan berlangsung cukup lama.

“Akhirnya, waktu itu tuh sampai hampir satu jam-an lah, satu jam-an lebih itu cerita, mungkin cerita keluh kesahnya, akhirnya alhamdulillah tidak jadi untuk melakukannya indikasi-indikasi yang seperti tadi disampaikan," kata Adhy.

Adhy menyebutkan, berdasarkan informasi yang diterima, penelepon tersebut merupakan seorang perempuan yang tengah mengalami persoalan pribadi.

“Itu info terakhir yang waktu itu didapatkan oleh saya itu tuh jadi perempuan, perempuannya itu dia tuh curhat. Katanya curhat terkait dengan mungkin kayak kegalauan atau apalah gitu ada mungkin problem atau apa akhirnya dia ke 112 teleponnya," ungkap dia.

“Kalau yang waktu itu tuh itu tuh perempuan kalau enggak salah masih single kalau enggak salah infonya. Karena memang waktu itu menerima itu kan operator kebetulan operatornya waktu itu menginfokan bahwa ada yang memang curhat dan lain sebagainya," sambung Adhy.

Tak hanya itu, Adhy juga menyampaikan laporan lain yang masuk ke 112 juga menunjukkan kompleksitas persoalan sosial di masyarakat, mulai dari dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga kekerasan terhadap anak.

“Kemudian juga ada beberapa kasus unik tuh seperti kemarin, kemarin tuh alhamdulillah juga kita kan kolaborasi juga dengan lintas dinas. Jadi ada dugaan KDRT, kemudian juga ada yang apa ya ya mungkin menyakiti ya, menyakiti dengan KDRT seperti itu, akhirnya itu menelepon ke kita," ujarnya.

Ia menegaskan, layanan 112 kini berkembang menjadi pintu awal penanganan berbagai persoalan, tidak terbatas pada kejadian darurat seperti kebakaran atau kecelakaan.

“Jadi sebetulnya 112 ini tidak tidak selalu identik dengan kegawatdaruratan seperti kebakaran, terus juga terkait dengan kecelakaan atau kebutuhan medis, tapi ada juga di sisi yang lain," terang Adhy.

Dalam beberapa kasus, Adhy menuturkan Diskominfo juga melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan lanjutan.

“Seperti misalkan ada butuh bantuan dari DP3AP2KB, kita juga sudah melakukan kontak dengan yang bersangkutan seperti itu. Kemudian juga ada terkait selain KDRT juga waktu itu ada dugaan kekerasan yang dilakukan kepada anak di bawah umur," imbuhnya.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa layanan 112 tidak hanya berfungsi sebagai pusat respons darurat, tetapi juga menjadi kanal komunikasi sosial bagi warga yang membutuhkan bantuan, baik secara fisik maupun psikologis.

“Jadi memang kalau 112 ini kan bersifat lebih ke general ya. Jadi memang beberapa kasus unik tuh seperti itu. Jadi memang ada yang jadi teman curhat di call center 112," kata Adhy.

Lebih lanjut , ia menambahkan terkait kemudahan akses yang menjadi salah satu alasan mengapa layanan ini kerap dimanfaatkan warga dalam berbagai situasi.

“Karena kan pada prinsipnya call center 112 ini bersifat gratis ya, tanpa kuota, tanpa pulsa dan memang bisa langsung diakses," papar dia.

Layanan tersebut juga beroperasi tanpa henti, memastikan setiap laporan dapat ditangani kapan pun dibutuhkan.

“Kita 24 jam, dan beroperasi selama 7 hari. Jadi enggak ada liburnya. Karena kan untuk dari Diskominfo bahwa SOP nya itu adalah menerima dan mendistribusikan tiket, tiket kegawatdaruratan, kemudian juga untuk me-follow up terkait dengan kegawatdaruratan ini sudah selesai atau belum, gitu," tandas Adhy.

Dengan beragamnya laporan yang masuk, Call Center 112 Cimahi kini tidak hanya menjadi garda terdepan dalam penanganan darurat, tetapi juga berperan sebagai ruang aman bagi warga yang berada di titik paling rentan dalam hidupnya. (REL)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar