SURAT KABAR, CIMAHI - Lonjakan kasus campak di Indonesia kembali menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Indonesia kini menempati peringkat kedua di dunia dalam Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, dengan peningkatan kasus yang signifikan sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Kondisi ini mendorong pemerintah daerah, termasuk Kota Cimahi, memperkuat kewaspadaan terhadap potensi penularan penyakit tersebut.
Di tingkat lokal, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi mencatat 11 kasus positif campak pada anak sejak awal tahun 2026 hingga minggu ke-9. Data tersebut menunjukkan, penyakit yang sangat menular ini masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat, terutama bagi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Cimahi, dr. Dwihadi Isnalini menjelaskan, campak disebabkan oleh infeksi virus yang sangat mudah menyebar, sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan.
"Harus waspada akan potensi penularan dan melakukan upaya antisipasi dengan vaksinasi," ujar Dwihadi saat dikonfirmasi, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, cakupan imunisasi campak dan rubella dosis pertama (MR1) di Kota Cimahi sebenarnya telah melampaui target yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Target provinsi berada di angka 95 persen, sementara capaian di Kota Cimahi telah mencapai 98,5 persen.
Meski demikian, masih terdapat anak-anak yang belum memperoleh vaksinasi dasar secara lengkap. Kondisi tersebut menjadi celah yang dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit.
Selain itu, letak geografis Kota Cimahi yang berada di kawasan Bandung Raya juga turut memengaruhi dinamika penularan penyakit menular seperti campak.
"Serta Kota Cimahi ada wilayah kawasan Bandung raya, jadi bisa terdampak juga," tuturnya.
Dwihadi menjelaskan bahwa virus campak menyebar melalui percikan ludah (droplet) saat penderita batuk atau bersin, melalui kontak langsung, maupun dengan menghirup udara di ruang tertutup yang telah terkontaminasi virus.
Karena itu, kata Dwihadi, seseorang yang belum mendapatkan vaksinasi memiliki risiko paling tinggi terpapar penyakit tersebut.
"Salah satu faktor resiko utama terpapar campak yaitu pada anak-anak atau orang dewasa yang belum mendapatkan vaksin campak atau MMR," ucapnya.
Selain status imunisasi, kondisi daya tahan tubuh juga berperan besar terhadap risiko penularan. Anak-anak dengan sistem imun yang lemah, kekurangan vitamin A, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu lebih rentan tertular campak.
"Kegiatan mobilitas tinggi terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah juga sangat berpengaruh,"
Ia menambahkan, masyarakat yang sering bepergian ke daerah dengan tingkat imunisasi rendah berpotensi terpapar virus, mengingat virus campak dikenal sangat menular.
"Masa inkubasi dari mulai terpapar dan muncul gejala berkisar 7-14 hari," sebutnya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Cimahi terus mengoptimalkan layanan imunisasi bagi anak-anak serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya vaksinasi.
"Kami selalu terus mengimbau masyarakat agar segera membawa anaknya untuk mendapat vaksin. Dengan imunisasi yang lengkap dan tepat waktu, bisa menekan resiko komplikasi hingga kematian akibat campak," tandas Dwihadi. (SAT)

Posting Komentar