SURAT KABAR, CIMAHI - Memasuki periode musim hujan ekstrem yang mulai melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat, Pemerintah Kota Cimahi meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
Kondisi cuaca yang tidak menentu dari hujan deras tiba-tiba hingga suhu lembap yang berkepanjangan mendorong Dinas Kesehatan Kota Cimahi memperkuat strategi pencegahan berbasis masyarakat, terutama melalui gerakan 3M Plus dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi, dr. Mulyati, menegaskan bahwa promosi kesehatan dan edukasi publik menjadi fondasi utama menghadapi risiko DBD di tengah cuaca ekstrem.
“Tentu, kami tetap melaksanakan promosi kesehatan kepada masyarakat yang ada di Kota Cimahi. Yang tidak kalah pentingnya dalam memasuki musim penghujan, tetap dengan 3M Plus, sehingga sebagai pencegahan terhadap penyakit Demam Berdarah,” ujar Mulyati saat ditemui dalam sesi wawancara khusus.
Meski tren DBD di Cimahi belum menunjukkan peningkatan signifikan hingga awal musim hujan, Mulyati menekankan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan.
“Tren DBD memang belum ada peningkatan saat ini, tetapi tentunya kita harus tetap waspada karena memasuki musim penghujan seperti ini,” tambahnya.
Ketika ditanya mengenai langkah antisipasi yang menjadi prioritas Dinkes, Mulyati menegaskan bahwa fogging bukan tindakan utama dalam pengendalian DBD.
“Nah, tentu antisipasi dari Dinkes, tentu kalau untuk fogging disesuaikan dengan kondisi, ya. Jadi fogging bukan pilihan yang utama yang harus kita laksanakan. Yang paling penting adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk, yang tentu harus menjadi gerakan rutin yang harus dilaksanakan oleh seluruh masyarakat yang ada di Kota Cimahi,” jelasnya.
Ia juga mengatakan bahwa sosialisasi kepada warga akan terus ditingkatkan.
“Iya, betul, betul, iya, betul,” ujarnya saat menanggapi perlunya peningkatan edukasi publik terkait PSN.
Sebelumnya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kota Cimahi, Dwihadi Isnalini, menyampaikan bahwa perubahan iklim menjadi faktor penting yang memicu potensi kenaikan kasus DBD.
Menurutnya, pergeseran pola cuaca hujan mendadak di tengah musim kemarau dan munculnya genangan air pada titik-titik tak terduga mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
“Perubahan iklim turut memengaruhi jumlah kasus DBD, tidak hanya di Cimahi, tetapi juga di wilayah lain. Cuaca yang berubah-ubah sering kali menciptakan genangan air, tempat berkembang biak nyamuk,” jelas Dwihadi.
Sebagai upaya pencegahan, Dinkes Kota Cimahi mengimbau masyarakat secara aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk, tidak hanya saat ada kasus, tetapi sebagai perilaku harian.
Langkah ini mencakup menguras, menutup, dan mendaur ulang barang yang dapat menampung air, serta menambahkan langkah “Plus” seperti penggunaan lotion antinyamuk dan pemasangan kelambu.
Dwihadi juga merekomendasikan pemanfaatan tanaman pengusir nyamuk, seperti lavender, daun sirih, dan daun mint, untuk membantu menghalau populasi nyamuk di lingkungan rumah.
Selain itu, masyarakat dianjurkan memelihara ikan pemakan jentik, seperti ikan cupang, mujair, dan ikan mas, pada bak penampungan air yang sulit dibersihkan.
“Ikan-ikan ini efektif mengurangi jumlah jentik nyamuk sehingga membantu mencegah penyebaran DBD,” tambahnya.
Dinkes berharap langkah pencegahan yang diperkuat di level rumah tangga mampu menekan risiko DBD sepanjang musim hujan ini.
Penataan lingkungan, lanjut Dwihadi, kedisiplinan PSN, dan pengawasan titik rawan genangan air dinilai menjadi kunci mempertahankan rendahnya kasus DBD di Kota Cimahi.
Langkah kolektif tersebut, kata Dwihadi, tidak hanya menjaga kesehatan keluarga, tetapi juga membangun daya tahan komunitas terhadap ancaman penyakit yang cenderung meningkat saat curah hujan ekstrem.
Dengan pola cuaca yang semakin tidak menentu, Dinas Kesehatan menegaskan bahwa pencegahan berbasis masyarakat adalah garis pertahanan paling efektif.
"Pemerintah daerah, melalui Dinkes, memastikan edukasi, pemantauan, dan intervensi tetap berjalan, namun kesadaran publik menjadi faktor penentu keberhasilan pengendalian DBD selama musim hujan," tukas Dwihadi. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar