Iklan

Tragedi di Subang Jadi Alarm: Psikolog Tekankan Pentingnya Kontrol Emosi dalam Rumah Tangga

Posting Komentar
Akademisi Psikologi Billy Martasandy

SURAT KABAR, BANDUNG - Tragedi yang merenggut nyawa MA (6) di Kampung Pelabuan, Kelurahan Sukamelang, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang, menyisakan duka sekaligus pertanyaan besar tentang dampak konflik rumah tangga terhadap anak.

Kasus yang diungkap Kapolres Subang, Dony Eko Wicaksono, ini diduga dipicu luapan emosi sang ibu usai pertengkaran sengit dengan suami melalui telepon. Anak yang menjadi korban diketahui merupakan penyandang autisme.

Akademisi Psikologi Billy Martasandy menilai, peristiwa tersebut mencerminkan betapa rentannya anak ketika berada di tengah konflik orang tua yang tidak terkelola dengan sehat.

“Anak, apalagi yang memiliki kebutuhan khusus seperti autisme, berada dalam posisi paling lemah. Mereka sangat bergantung pada stabilitas emosional orang tuanya,” ujar Billy saat dimintai tanggapan, Jumat (20/2/2026).

Menurutnya, konflik pasangan suami istri sejatinya merupakan hal yang wajar dalam dinamika rumah tangga. Namun, ketika konflik berlangsung intens, berulang, dan tidak disertai mekanisme pengelolaan emosi yang baik, risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga meningkat.

Billy menjelaskan bahwa dalam kondisi emosi memuncak, individu dapat mengalami apa yang disebut sebagai “emotional flooding”, yakni situasi ketika amarah dan stres menumpuk hingga mengganggu kemampuan berpikir rasional.

“Dalam situasi seperti itu, kontrol diri melemah. Respons menjadi impulsif. Anak yang menangis atau menunjukkan perilaku tertentu bisa secara keliru dipersepsikan sebagai pemicu tambahan stres,” jelasnya.

Ia menambahkan, anak dengan autisme umumnya memiliki sensitivitas sensorik dan pola komunikasi berbeda. Tangisan atau reaksi emosional mereka bisa lebih intens saat suasana rumah tidak kondusif.

“Konflik orang tua bukan hanya berdampak psikologis jangka panjang, tetapi dalam situasi ekstrem bisa berujung pada kekerasan. Ini yang harus menjadi alarm bagi semua pihak,” katanya.

Billy menekankan pentingnya literasi pengelolaan emosi bagi pasangan suami istri, terutama yang menghadapi tekanan ekonomi, jarak tempat tinggal, maupun beban pengasuhan anak berkebutuhan khusus.

“Orang tua perlu menyadari bahwa anak bukan bagian dari konflik. Mereka tidak boleh menjadi pelampiasan. Jika konflik mulai sulit dikendalikan, penting mencari bantuan profesional seperti konselor atau psikolog,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mendorong penguatan sistem dukungan sosial di tingkat keluarga besar maupun lingkungan sekitar. Tetangga, kerabat, hingga aparat setempat dapat berperan sebagai jejaring pengaman ketika melihat tanda-tanda tekanan berat dalam sebuah keluarga.

“Tragedi ini harus menjadi refleksi bersama. Kita perlu membangun budaya komunikasi yang sehat dalam keluarga dan menyediakan akses layanan kesehatan mental yang lebih mudah dijangkau masyarakat,” tutup Billy.

Kasus ini kini dalam penanganan Polres Subang, sementara perhatian publik tertuju pada pentingnya perlindungan anak dari dampak destruktif konflik orang tua yang tak terkendali. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar