Iklan

Akademisi Psikologi Billy Martasandy Minta Orang Tua Jangan Seret Anak ke Konflik Rumah Tangga

Posting Komentar
Akademisi Psikologi Billy Martasandy

SURAT KABAR, BANDUNG - Akademisi Psikologi Billy Martasandy mengingatkan para orang tua agar tidak menyeret anak ke dalam pusaran konflik rumah tangga. Menurutnya, keterlibatan anak dalam pertengkaran suami istri dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental mereka, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Billy menegaskan, anak bukan pihak yang bertanggung jawab atas persoalan orang dewasa. Karena itu, mereka tidak semestinya menjadi pelampiasan emosi, apalagi dijadikan “perantara” dalam konflik orang tua.

“Anak memiliki kapasitas emosi yang masih berkembang. Ketika mereka terus-menerus terpapar pertengkaran, apalagi sampai dilibatkan secara langsung, itu bisa mengganggu rasa aman dan kestabilan psikologisnya,” ujar Billy, Jumat (20/2/2026).

Ia menjelaskan, paparan konflik yang intens dapat memunculkan kecemasan, ketakutan, rasa bersalah, bahkan trauma pada anak. Dalam beberapa kasus, anak bisa mengalami perubahan perilaku seperti menjadi lebih pendiam, agresif, sulit berkonsentrasi, hingga mengalami gangguan tidur.

Menurut Billy, salah satu kesalahan yang kerap terjadi adalah orang tua menjadikan anak sebagai tempat curhat atau meminta anak memihak salah satu pihak. Kondisi tersebut menempatkan anak dalam posisi dilematis yang tidak sehat.

“Ketika anak dipaksa memilih ayah atau ibu, mereka mengalami konflik batin. Ini berisiko menimbulkan tekanan psikologis yang berat karena anak pada dasarnya mencintai kedua orang tuanya,” jelasnya.

Billy menambahkan, konflik dalam rumah tangga adalah hal yang wajar. Namun, cara menyelesaikan konflik itulah yang menentukan dampaknya terhadap anak. Orang tua perlu memiliki keterampilan komunikasi yang sehat dan kemampuan mengelola emosi.

Ia menyarankan agar pasangan suami istri menyelesaikan persoalan secara privat tanpa melibatkan anak. Jika emosi sedang memuncak, sebaiknya memberi jeda sebelum melanjutkan pembicaraan.

“Ambil waktu untuk menenangkan diri. Jangan berdebat di depan anak. Jika konflik terasa berlarut dan sulit diselesaikan, jangan ragu mencari bantuan profesional seperti konselor atau psikolog keluarga,” katanya.

Billy juga menekankan pentingnya membangun lingkungan rumah yang aman secara emosional. Anak membutuhkan kepastian bahwa meski orang tuanya berbeda pendapat, mereka tetap dicintai dan dilindungi.

“Rasa aman adalah fondasi kesehatan mental anak. Jangan sampai konflik orang dewasa merusak fondasi itu,” tegasnya.

Ia berharap kesadaran orang tua terhadap pentingnya kesehatan mental anak semakin meningkat, sehingga keluarga dapat menjadi ruang tumbuh yang sehat, bukan sumber luka psikologis di masa depan. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar