Iklan

Satu Abad Menjadi Saksi Sejarah Indonesia di Cimahi, Hotel Tjimahi Akan Dijual

Posting Komentar
Hotel Tjimahi yang Berlokasi di Jalan Raya Amir Machmud

SURAT KABAR, CIMAHI - Sejarah kerap bertahan bukan karena dokumen, melainkan karena ruang. Dinding-dinding tua yang menyimpan jejak waktu, lantai yang dilewati generasi demi generasi, serta bangunan yang diam-diam menjadi saksi pergantian rezim, perang, dan damai. Di Kota Cimahi, salah satu ruang ingatan itu kini berdiri di persimpangan nasib, Hotel Tjimahi.

Kabar rencana penjualan hotel berusia hampir satu abad tersebut menyebar cepat dan memantik keprihatinan publik. Bangunan yang terletak di tepi Jalan Raya Amir Machmud itu bukan sekadar penginapan, melainkan fragmen hidup dari sejarah Cimahi sejak era kolonial hingga Indonesia modern.

Isu penjualan mencuat setelah sebuah akun media sosial TikTok mengunggah informasi penawaran Hotel Tjimahi dengan harga Rp35 miliar. Bangunan yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 3.254 meter persegi itu disebut-sebut tengah dilepas oleh pemiliknya. Di balik angka dan transaksi, tersimpan kisah panjang tentang warisan, ketahanan, dan kelelahan menjaga sejarah seorang diri.

Hotel Tjimahi memiliki jejak yang jauh lebih tua dari namanya. Bangunan ini bermula dari sebuah villa yang dikelilingi kebun mawar, dibangun oleh pasangan Nyi Raden Fatimah Singawinata dan Veen, seorang warga negara Belanda. Pada masa awal, tempat tersebut berfungsi sebagai kediaman keluarga sekaligus wisma, dikenal sebagai Wisma Pension atau Losman Cimahi.

Perjalanan waktu kemudian mengubah fungsi dan perannya. Pada 1927, izin bangunan resmi diubah menjadi hotel, menandai lahirnya Hotel Tjimahi seperti yang dikenal hingga kini. Sejak itu, bangunan tersebut menjadi bagian dari denyut kehidupan Cimahi, melewati masa kolonial, pendudukan, kemerdekaan, hingga era republik.

Hotel Tjimahi juga mencatat babak-babak kelam sejarah. Ia pernah menjadi tempat singgah para tentara dan tercatat disinggahi Raymond Westerling pasca peristiwa APRA. Hingga hari ini, sejumlah peninggalan bersejarah masih terawat, dipelihara dengan kesadaran bahwa bangunan ini bukan sekadar properti, melainkan bagian hidup dari narasi kota.

Kini, tongkat pengelolaan berada di tangan generasi ketiga keluarga pendiri, Theresia Gerungan Soetamanggala, cucu Nyi Raden Fatimah. Di usia hotel yang menginjak 99 tahun, Theresia dihadapkan pada keputusan paling berat: melepas warisan keluarga yang sarat kenangan.

“Semua juga bilang jangan, sayang kalau dijual. Tapi jujur, saya sudah enggak kuat lagi. Sudah eungap lah ya, bahasa Sundanya. Terus memang mungkin sudah waktunya,” ujar Theresia saat ditemui, Selasa (6/1/2026).

Keputusan itu tidak lahir dari satu malam. Ia mengaku bergulat dengan dilema tersebut selama bertahun-tahun. Beban biaya operasional yang terus meningkat menjadi alasan utama, di tengah ketiadaan regenerasi pengelola dalam keluarga.

“Bayangkan, buat PBB saja setiap tahun minimal Rp60 juta, karena ini kawasan premium. Anak saya ada tiga, dan enggak ada yang mau nerusin. Mereka sudah punya jalan hidup masing-masing,” katanya.

Ketiga anak Theresia memilih jalan yang sama sekali berbeda. Dua di antaranya telah menjadi instruktur selam, sementara satu lainnya tengah menapaki profesi serupa. Tak satu pun berminat melanjutkan pengelolaan hotel yang telah melintasi hampir satu abad sejarah.

Beban itu semakin terasa ketika pandemi COVID-19 melanda. Hotel Tjimahi terpaksa menghentikan operasionalnya. Namun, di tengah keterpurukan, Theresia memilih bertahan dengan caranya sendiri.

“Waktu pandemi COVID-19 itu enggak ada yang saya rumahkan, padahal hotel tutup total. Tapi enggak ada bantuan dari pemerintah juga. Teman saya di Tangerang dapat diskon PBB sampai 30 persen. Saya ke pemkot malah didenda,” tuturnya.

Pengalaman itu masih membekas. Ia mengaku tak kuasa menahan tangis saat harus menanggung pajak dan biaya perawatan bangunan bersejarah di tengah kondisi tanpa pemasukan. Di titik inilah, idealisme menjaga warisan berhadapan langsung dengan realitas keberlanjutan.

Bagi Theresia, Hotel Tjimahi bukan sekadar aset ekonomi. Bangunan itu adalah rumah masa kecil, ruang tumbuh, dan saksi kehidupan keluarganya lintas generasi. Melepasnya berarti merelakan sebagian identitas.

Meski demikian, harapan agar Hotel Tjimahi tetap lestari belum sepenuhnya padam. Jika kelak benar-benar berpindah tangan, Theresia berharap bangunan itu tidak kehilangan wajah dan jiwanya.

“Jujur saya berat. Perlu waktu sekitar enam tahun buat saya berpikir jual atau enggak. Sekarang saya sudah ikhlas, tapi harapannya bangunan ini jangan dirombak. Atau kalau ada investor yang mau bantu, saya sangat terbuka dengan segala opsi,” ujarnya menutup.

Di tengah arus pembangunan dan logika pasar, nasib Hotel Tjimahi kini menjadi cermin pertanyaan yang lebih besar, sejauh mana sebuah kota mampu menjaga ingatan kolektifnya, ketika sejarah harus berhadapan dengan angka, pajak, dan kelelahan manusia yang merawatnya. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar