SURAT KABAR, CIMAHI - Di sudut Kota Cimahi, dari teras rumah sederhana yang dipenuhi kanvas dan aroma cat minyak, lahir cerita tentang kesetiaan, keberanian, dan kebebasan. Irama musik reggae mengalun pelan, seolah menjadi latar yang pas bagi perjalanan hidup seorang seniman yang memilih melukis sebagai jalan hidupnya. Dialah Bahar Gunawan, atau yang lebih dikenal dengan nama Bahar Malaka seorang perupa otodidak yang puluhan tahun mengabdikan diri pada seni lukis dengan penuh keyakinan dan ketulusan.
Rambut gimbal yang menjadi ciri khasnya bukan sekadar penampilan, melainkan simbol perjalanan panjang yang ia jalani dengan caranya sendiri. Di setiap sudut dinding rumahnya, terpajang karya-karya lukisan dengan beragam tema dan ekspresi. Masing-masing kanvas seolah berbicara, membawa cerita tentang proses, perenungan, dan dialog panjang antara Bahar dengan hidup itu sendiri.
Saat disambangi di kediamannya, pria berusia 63 tahun itu membuka kisah tentang awal mula perjalanannya di dunia seni lukis. Ia mengakui, melukis bukanlah cita-cita masa kecil yang terencana. Seperti anak-anak pada umumnya, ia pernah berada di persimpangan pilihan, menjadi guru, dokter, atau profesi lain yang lazim disebutkan ketika ditanya soal mimpi.
“Aku kebetulan mengalir dengan sendirinya, dan banyak hal-hal yang sebetulnya itu prosesnya tidak terkonsep dan tidak terencana. Semakin banyak yang dipelajari, semakin banyak ruang yang ditemukan dalam seni murni,” ujar Bahar dengan nada tenang, sembari sesekali tersenyum.
Pilihan untuk menekuni seni rupa, menurut Bahar, bukan tanpa tantangan. Ia kerap menghadapi sanggahan dan keraguan, baik dari lingkungan sekitar maupun dari dalam dirinya sendiri. Namun, seiring bertambahnya usia dan kedewasaan, ia justru semakin mantap menempatkan seni lukis sebagai poros hidupnya.
“Kenapa saya tidak fokus di ruang ini, yaitu seni rupa tadi. Itu setelah usiaku dewasa, dan sebetulnya saya menginginkan pendidikan atau keilmuan di seni rupa tadi, contohnya teori akademisi. Tapi kadang-kadang saya juga, mohon maaf, kadang jumawa,” ucapnya sambil tertawa kecil, menunjukkan kejujuran sekaligus kerendahan hati.
Sebagai seniman otodidak, Bahar menempuh jalan belajar yang berbeda. Ia tidak terikat oleh kurikulum atau sistem akademik formal. Baginya, jalanan, perjumpaan, dan pengalaman hidup adalah ruang belajar yang luas.
“Jadi saya temukan di jalanan, saya terapkan. Dari layar belakang otodidak tadi, saya tidak terpenjara oleh sistem. Saya bebas, saya mengalir, saya melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak saya terpikirkan,” tuturnya penuh refleksi.
Kebebasan itu, menurut Bahar, justru menjadi kekuatan. Meski hambatan kerap muncul, ia memilih memaknainya sebagai energi untuk melampaui batas.
“Tapi alhamdulillah sampai hari ini, saya melakukan aktivitas berkesenian itu tidak ada under pressure dari sisi lain. Kadang ada hambatan juga, tapi hambatan itu salah satu jadi kekuatan untuk kita melepaskan diri dari hambatan tadi,” sambungnya.
Sambil menyeruput kopi hitam kesukaannya, Bahar bercerita tentang lika-liku panjang perjalanan berkesenian yang telah ia tempuh selama puluhan tahun. Melukis baginya bukan sekadar aktivitas, melainkan proses pencarian yang tak pernah selesai.
“Profesi ku kebetulan saya dipercaya untuk berprofesi seni murni, tepatnya seni lukis. Itu pun dalam masa tahap pencarian. Dan ternyata melukis itu semakin kita pelajari, banyak hal-hal yang tidak kita ketahui,” katanya.
Ia menegaskan, melahirkan sebuah karya bukan perkara mudah. Dari ide yang semula hanya bersifat maya, lahir proses panjang yang kadang menyakitkan, hingga akhirnya menjelma menjadi karya nyata.
“Di situ menjadi buah karya. Yang tadinya maya, tapi sakitnya itu jadi nyata, jadi sebuah karya. Sehingga saya bisa berbagi dengan teman-teman, minimal saya bisa menginformasikan juga,” ucapnya.
Bahar menyadari, banyak orang sering beralasan tidak punya mood atau ide. Namun baginya, ide justru harus dibangun dan dipancing.
“Karena dengan tidak adanya ide, yo human being, bangunlah ide mu itu, bangkitkan kreatif mu,” katanya santai namun sarat makna.
Ia percaya, karya seni tanpa ide dan narasi hanya akan menjadi hiasan dinding semata, kehilangan ruh dan filosofi.
“Karena seni lukis itu jika tidak ada filosofinya, hanya kerajinan saja atau hiasan saja,” tegas Bahar.
Salah satu karya yang ia tunjukkan adalah lukisan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Bagi Bahar, lukisan tersebut bukan sekadar potret tokoh besar, melainkan ungkapan rasa hormat dan nasionalisme.
“Sebagai tanda terima kasih ku, sebagai warga negara Indonesia, saya mengapresiasinya dengan potret atau figur Soekarno. Karena kalau kita bercerita Nusantara, saya rasa di planet ini tidak ada yang pulaunya 17.000 lebih,” katanya bangga.
“Dan saya bangga, Soekarno dan teman-temannya bisa menyatukan menjadi NKRI ini,” lanjutnya.
Sebagai seniman non-akademisi, Bahar mengakui ada banyak keterbatasan. Namun, ia justru mematangkan sisi lain dari proses kreatifnya.
“Jujur saja saya ini otodidak yang tidak mempelajari ilmu khusus di bidang ini. Bisa dibayangkan berapa banyak seniman lukis yang dibuang ke jalan dari universitas-universitas di negeri ini,” bebernya.
Meski begitu, ia percaya bahwa hidup dan proses jauh lebih penting daripada sekadar jawaban instan.
“Kita bisa hidup, bisa berproses. Jawaban mah itu nomor sekian. Kita berproses yang cantik saja,” ujarnya.
Menurut Bahar, zaman boleh berubah, media sosial boleh berkembang pesat, namun semangat berkarya sejatinya tetap sama. Siapa pun yang fokus dan tekun, akan menemukan jalannya.
“Yang terpenting selalu ada karya bersama waktu itu, selalu ada karya. Karena kembali lagi, bagus saja kita diberi kesempatan waktu. Kita diberi waktu untuk menyikapi hidup ini, untuk berkreasi di hidup ini,” tuturnya lirih.
Baginya, waktu adalah anugerah yang tak bisa diulang. Karena itu, ia mengajak siapa pun untuk berani bertindak dan berkarya sebelum kesempatan itu berlalu.
Soal persaingan, Bahar menilai setiap orang tidak perlu takut. Fokus dan ketekunan akan membawa hasilnya sendiri.
“Aku tersanjung, its okay. Jadi fokus dan tidak setengah-setengah. Tidak takut nantinya seperti ini atau seperti itu,” katanya.
Salah satu momen yang paling ia kenang adalah ketika ia mencoba berkarya dalam waktu 45 menit, sebagai simbol tahun kemerdekaan Indonesia, dan menghasilkan 17 lukisan yang kemudian terjual.
“Itu karyanya sold sehingga aku bisa berbagi dengan teman-temanku, pemusik, atau security itu,” kisahnya.
Dengan sederhana, Bahar menilai pencapaian terbesarnya adalah masih bisa bangun pagi sebuah anugerah waktu yang ia syukuri sepenuh hati.
Sebagai penutup, Bahar berbagi pesan bagi generasi muda seniman agar tidak takut pada sistem dan tetap setia pada karya.
“Satu pelaku seni harus ada karya. Kedua, karya itu akan diapresiasi. Baik atau tidak, itu nanti,” tegasnya.
Ia mendorong anak muda untuk terus berlatih, membangun konsep, dan bersahabat dengan teknologi.
“Dilatih terus, praktis terus, sehingga kau akan menjadi pelukis muda yang punya rencana dan konsep. Dan bersahabat lah dengan IT, karena ini eranya sudah seperti begini,” tutup Bahar, sambil kembali menyeruput kopi hitam yang setia menemani setiap percakapan dan proses kreatifnya. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar