SURAT KABAR, KBB - Angin puting beliung menerjang wilayah Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Jumat (6/3/2026) sore sekitar pukul 15.00 WIB.
Bencana yang datang secara tiba-tiba setelah hujan ringan tersebut menyebabkan puluhan rumah warga di Desa Cipeundeuy mengalami kerusakan, sementara sejumlah fasilitas lain turut terdampak. Hingga Sabtu (7/3/2026), pendataan kerusakan masih terus dilakukan oleh pemerintah setempat.
Berdasarkan data sementara dari pihak Kecamatan Padalarang, sedikitnya 65 rumah warga dilaporkan rusak akibat terjangan angin kencang tersebut. Kerusakan paling banyak tercatat di wilayah RW 4 Desa Cipeundeuy, yang menjadi area paling terdampak dari peristiwa cuaca ekstrem tersebut.
Camat Padalarang, Hendi Setiyadi menjelaskan bahwa sebelum angin kencang terjadi, wilayah Padalarang sempat diguyur hujan ringan dalam durasi singkat.
Meski hujan telah reda, kondisi langit saat itu masih tampak gelap sebelum akhirnya angin puting beliung muncul dan menerjang sejumlah wilayah.
“Setelah hujan reda langit masih gelap, tidak lama kemudian muncul angin kencang yang melanda beberapa desa,” kata Hendi saat dikonfirmasi, Sabtu (7/3/2026).
Ia mengungkapkan, dari total 65 rumah yang terdampak di Desa Cipeundeuy, sebanyak 50 rumah berada di RW 4, kemudian empat rumah di RW 5, serta 11 rumah di RW 9. Kerusakan yang dialami warga bervariasi, mulai dari genting rumah beterbangan, atap terlepas, hingga bagian bangunan yang roboh akibat terpaan angin.
“Data sementara yang sudah masuk dari Desa Cipeundeuy ada 65 rumah rusak. Pendataan masih terus kami lakukan karena laporan masih bertambah,” ujarnya.
Selain rumah warga, angin puting beliung juga mengakibatkan kerusakan pada bangunan Pondok Pesantren Nurul Falah Almusri 1 yang berada di desa tersebut. Beberapa bagian bangunan dilaporkan terdampak terpaan angin kencang, meskipun hingga saat ini tingkat kerusakan masih dalam proses pendataan oleh aparat setempat.
Di wilayah lain, dampak angin kencang juga dilaporkan terjadi di Desa Cimerang. Namun kerusakan yang terjadi di wilayah tersebut tidak sampai merusak rumah warga.
Menurut Hendi, angin kencang di Desa Cimerang menyebabkan sejumlah pohon tumbang di kawasan industri Cimareme serta di beberapa ruas jalan lingkungan sekitar permukiman warga.
“Di Cimerang hanya ada pohon tumbang di area industri Cimareme dan jalan lingkungan. Alhamdulillah tidak sampai merusak rumah warga,” kata Hendi.
Selain itu, beberapa bangunan yang berada di kawasan Kota Baru Parahyangan juga dilaporkan terdampak oleh angin kencang. Meski demikian, hingga saat ini pihak Kecamatan Padalarang masih menunggu laporan resmi dari pengelola kawasan untuk memastikan tingkat kerusakan yang terjadi.
Tidak hanya permukiman dan fasilitas pendidikan, sebuah tempat usaha kuliner bernama Warung Sate Teteh juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat terpaan angin. Struktur bangunan warung tersebut dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian atap.
Pemerintah Kecamatan Padalarang masih terus melakukan koordinasi dengan pemerintah desa untuk memastikan jumlah kerusakan secara menyeluruh. Hingga saat ini, laporan dari Desa Kertajaya dan Desa Laksanamekar masih belum diterima sehingga data kerusakan di dua wilayah tersebut masih menunggu hasil pendataan lapangan.
Hendi menegaskan bahwa proses pendataan kerusakan akan terus dilakukan secara bertahap agar pemerintah daerah dapat menentukan langkah penanganan yang diperlukan, termasuk kemungkinan bantuan bagi warga yang terdampak.
Peristiwa angin puting beliung yang melanda Padalarang tersebut juga sempat terekam oleh kamera warga dan kemudian beredar luas di media sosial. Dalam rekaman video yang viral, terlihat pusaran angin bergerak cukup cepat sambil menerbangkan genting rumah, potongan seng, serta sampah plastik yang berada di sekitar kawasan permukiman.
Meski menyebabkan kerusakan pada puluhan bangunan, pemerintah setempat memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Beberapa warga hanya mengalami luka ringan dan sudah ditangani secara mandiri,” pungkas Hendi.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan meningkatnya potensi cuaca ekstrem di wilayah Bandung Barat dalam beberapa waktu terakhir.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba, terutama saat memasuki masa peralihan musim yang kerap memicu hujan deras disertai angin kencang. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar