Iklan

KH Ahmad Mudzofar dari Partai Gelora Ungkap Akar Masalah Islam Konfrontatif di Indonesia

Posting Komentar
Ketua Pusat Kebijakan Strategis DPP Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora), KH. Ahmad Mudzofar Jufri

SURAT KABAR - Pemahaman tentang Islam toleran, inklusif, dan moderat kerap digaungkan, namun maknanya sering kali berhenti pada jargon. Ketua Pusat Kebijakan Strategis DPP Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora), KH. Ahmad Mudzofar Jufri, menegaskan bahwa esensi Islam yang toleran sejatinya terletak pada sikap kooperatif, bukan konfrontatif, terutama dalam relasinya dengan sesama umat, negara, dan kekuasaan.

Penegasan tersebut disampaikan KH Ahmad Mudzofar saat mengisi Kajian Pengembangan Wawasan Keislaman bertajuk Islam yang Kita Pahami, Bagian ke-5, dengan tema Islam Kooperatif, Bukan Islam Konfrontatif, pada Jumat malam, 2 Januari 2026.

“Seperti kata pepatah, 1.000 teman atau kawan terlalu sedikit, tetapi satu musuh terlalu banyak. Maksudnya, adalah kebaikan yang dibangun 1.000 orang yang baik, sering diruntuhkan oleh satu musuh atau orang yang tidak baik,” kata KH Mudzofar.

Ia menekankan bahwa Islam kooperatif adalah Islam yang memiliki kesiapan untuk bekerja sama dengan siapa pun, atau dalam istilah populer saat ini, berkolaborasi.

“Jadi pemahaman Islam kooperatif yang kita maksudnya adalah pemahaman Islam yang mengajarkan dan mengarahkan kepada seorang muslim untuk memiliki kesiapan terlibat. Yakni kesiapan untuk berkontribusi, bergabung, bersinergi dan berkolaborasi dalam setiap bentuk kerjasama kebaikan,” katanya.

“Jadi konteks berbagi dalam kebaikan dan kebajikan itu, yang kita maksud adalah Islam kooperatif,” sambungnya.

Dengan kerangka tersebut, KH Mudzofar menegaskan bahwa Islam yang dipahaminya bukanlah Islam yang konfrontatif. Islam konfrontatif, menurutnya, ditandai dengan sikap tidak bersahabat, gemar berhadap-hadapan secara langsung, bertentangan, bahkan bermusuhan.

“Sehingga kalau kooperatif itu, adalah bersahabat dan konfrontatif tidak bersahabat. Kooperatif itu siap bersahabat, berkawan atau berteman dengan siapapun. Tapi kalau konfrontatif itu, sebaliknya,” tegasnya.

Ia menyampaikan keprihatinannya atas maraknya fenomena Islam konfrontatif di Indonesia, yang menurutnya didominasi oleh narasi kebencian dan permusuhan.

“Salah satu yang sangat menonjol dari Islam konfrontatif adalah dari banyak kelompok Islam yang biasa disebut dengan kelompok Islam politik,” ujar KH Mudzofar.

Menurutnya, kelompok Islam politik memiliki keunggulan dalam aktivitas dakwah dan militansi ideologis, namun pada saat yang sama perlu dikritisi secara serius, terutama pada aspek pemikiran yang cenderung mengarah pada konfrontasi.

“Mazhab Islam politik itu rata-rata sikap konfrontatif, kemudian sifat pertentangannya dan perlawanannya,” kata Ketua Pusat Kajian Strategis DPP Partai Gelora tersebut.

Sikap konfrontatif itu, lanjutnya, kerap diarahkan kepada rezim politik atau pemerintahan yang sedang berkuasa.

“Kelompok Islam politik ini suka mencari keburukan pemerintah, belum apa-apa yang dijadikan musuh adalah pemerintah. Gerakan Islam seperti ini, muncul di satu negara, tidak hanya di Indonesia,” katanya.

Akibat dari pola semacam itu, kata KH Mudzofar, adalah konflik berkepanjangan antara kelompok Islam politik dengan negara dan pemerintahnya sendiri. Dalam banyak kasus, kelompok tersebut memiliki sumber daya dana dan kekuatan terorganisir.

“Akhirnya kemajuan dakwah Islam menjadi terhambat, dan aktivis Islam mereka rata-rata memenuhi penjara pemerintah atau negara tersebut,” ungkapnya.

KH Mudzofar juga menjelaskan bahwa akar dari Islam konfrontatif sering kali dipicu oleh perbedaan pemahaman mazhab, ideologi, dan agama.

“Islam yang toleran itu, bertoleransi terhadap perbedaan. Tidak hanya toleran antar pemeluk agama yang berbeda, tetapi juga toleran di tubuh umat Islam sendiri,” katanya.

Oleh karena itu, ia menekankan perlunya langkah konkret untuk mengembalikan pemahaman Islam yang konfrontatif ke arah Islam yang kooperatif dan toleran. Setiap perbedaan, menurutnya, tidak semestinya disikapi dengan perlawanan atau permusuhan, melainkan dengan kerja sama dan keterbukaan.

Sikap kooperatif tersebut, lanjutnya, harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sikap yang nyata, bukan sekadar wacana.

“Seperti kesiapan untuk kerja sama, bersama-sama terlibat dengan siapapun untuk kebaikan dalam rangka kemaslahatan dan amal shaleh,” pungkasnya. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar