Iklan

Di Tengah Runtuhnya Sistem Lama Global, Anis Matta Bawa Pesan Partai Gelora soal Arah Indonesia 2026

Posting Komentar
Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat Indonesia, Anis Matta

SURAT KABAR - Memasuki tahun 2026, Indonesia berada pada sebuah persimpangan penting dalam dinamika global yang kian kompleks dan tidak pasti. Pergeseran tatanan dunia, ketegangan geopolitik yang belum menemukan bentuk baru, serta melemahnya efektivitas sistem internasional lama menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk menegaskan peran strategisnya di panggung dunia.

Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat Indonesia, Anis Matta, menilai perjalanan bangsa sepanjang 2025 meninggalkan sejumlah catatan krusial yang perlu dicermati secara serius. 

Namun demikian, ia menegaskan bahwa tahun 2026 justru membuka ruang optimisme baru bagi Indonesia, asalkan disikapi dengan kehati-hatian dan kejelian dalam merumuskan arah kebijakan, khususnya di bidang politik luar negeri.

“Kita memasuki 2026 dengan sejumlah catatan dari perjalanan hingga penghujung 2025. Ada optimisme, ada kehati-hatian,” kata Anis Matta, Kamis (1/1/2026).

Menurut Anis, situasi global saat ini menunjukkan bahwa dunia tengah berada dalam fase transisi besar. Sistem internasional yang selama beberapa dekade menjadi rujukan utama kini dinilai semakin tidak efektif dalam menjawab berbagai persoalan lintas negara, mulai dari konflik geopolitik, krisis ekonomi, hingga tantangan keamanan global. 

Di sisi lain, tatanan baru yang lebih stabil dan inklusif belum sepenuhnya terbentuk, sehingga menciptakan ruang ketidakpastian yang luas.

“Dunia sedang berada dalam transisi besar, ketika sistem yang lama tak lagi efektif menyelesaikan berbagai problem,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Anis menekankan bahwa Indonesia tidak dapat bersikap reaktif atau tergesa-gesa. Setiap langkah diplomasi dan keputusan strategis harus dirancang secara cermat dan terukur, dengan tetap berpijak pada amanat konstitusi serta kepentingan nasional jangka panjang. 

Baginya, kehati-hatian bukan berarti pasif, melainkan memastikan bahwa Indonesia mampu memainkan peran konstruktif tanpa terjebak dalam arus kepentingan global yang saling bertabrakan.

“Sementara sistem yang baru belum terbentuk, sehingga respons kebijakan politik luar Indonesia harus cermat dan terukur,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia harus tetap konsisten mengawal kepentingan nasional, sekaligus menjaga posisi Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi perdamaian, kedaulatan, dan kerja sama internasional yang adil.

“Respons kita dalam kebijakan politik luar negeri harus cermat dan terukur, mengawal amanat konstitusi sekaligus kepentingan nasional kita,” lanjut Anis Matta.

Lebih jauh, Anis melihat tahun baru 2026 bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum reflektif untuk memperkuat orientasi strategis bangsa. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia dinilai memiliki modal penting, baik dari sisi geopolitik, demografi, maupun pengalaman diplomasi, untuk meningkatkan kontribusinya dalam percaturan internasional.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menyambut tahun 2026 dengan semangat baru, optimisme yang rasional, serta energi kolektif yang lebih kuat dalam memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.

“Mari kita sambut tahun baru ini dengan penuh optimisme, semangat, dan energi baru yang lebih bergelora untuk memperkuat peran Indonesia di mata dunia,” katanya.

Menutup pernyataannya, Anis Matta menyampaikan ucapan tahun baru kepada seluruh rakyat Indonesia, seraya berharap perjuangan bangsa ke depan senantiasa berada dalam lindungan dan keberkahan Tuhan Yang Maha Esa.

“Selamat Tahun Baru 2026 kepada seluruh saudara-saudaraku sebangsa dan se-Tanah Air. Semoga Allah SWT memberkati perjuangan kita,” pungkas Anis Matta. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar