Iklan

Di Tengah Krisis Internal, Pengunjung Bandung Zoo Khawatir Hewan dan Lahan Hijau Terancam

Posting Komentar
Pengunjung melihat koleksi satwa di Bandung Zoo, Kota Bandung, Sabtu (3/1). Bandung Zoo dibuka terbatas tanpa tiket saat libur Natal dan tahun baru dengan pembatasan waktu kunjungan. Pengunjung dapat membantu meringankan beban operasional dengan memberikan donasi berupa uang dan pakan satwa. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres

SURAT KABAR, BANDUNG - Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) menghadapi krisis internal yang mengancam kelangsungan operasional dan kesejahteraan satwa. 

Meski belum beroperasi sepenuhnya, pengelola tetap membuka kebun binatang tersebut dengan sistem donasi pada momen libur Tahun Baru, menarik perhatian pengunjung yang prihatin dengan kondisi terkini.

Krisis internal ini berdampak langsung pada kemampuan pengelola memenuhi kebutuhan dasar satwa. Biaya pakan yang mencapai sekitar Rp415 juta per bulan atau Rp13 juta per hari menjadi tekanan tersendiri di tengah keterbatasan operasional.

Sejumlah pengunjung mengaku prihatin. Rendy (29), salah seorang pengunjung, mengatakan bahwa beberapa hewan terlihat lemas saat dikunjungi. 

"Saya prihatin, hewan-hewan juga kaya pada lemas. Harapannya minimal kaya dulu lagi, nggak ada permasalahan seperti sekarang," ujarnya di lokasi, Sabtu (3/1/26).

Rendy mengaku memiliki kenangan masa kecil di Bandung Zoo, dan kini ingin mengenalkan pengalaman serupa pada anaknya. 

"Waktu kecil saya sering dibawa ke sini sama orang tua. Sekarang giliran saya buat ajak anak ke sini, belajar sambil rekreasi," tambahnya.

Pengunjung lain, Agus (46) menekankan pentingnya kelangsungan Bandung Zoo sebagai warisan sejarah dan ruang edukasi. 

Ia menyebut bahwa isu korupsi dan konflik internal tengah melanda kebun binatang ini, namun berharap penutupan atau pemindahan lokasi tidak terjadi. 

"Jangan sampai ditutup dan dipindahkan. Semoga situasinya lekas pulih seperti biasa," harapnya.

Di sisi lain, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menegaskan bahwa Bandung Zoo harus tetap menjadi ruang terbuka hijau yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan luas sekitar 11,7 hektare, kawasan ini memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan sekaligus memberikan ruang edukasi dan rekreasi bagi warga.

"Kami berkomitmen menjaga Kebun Binatang Bandung sebagai ruang terbuka hijau yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Ruang hijau di tengah kota ini penting, tidak hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk kualitas hidup masyarakat,” kata Farhan beberapa waktu lalu.

Farhan menambahkan bahwa pengelolaan Bandung Zoo saat ini masih berada di bawah Yayasan Margasatwa Tamansari, sementara kewenangan perizinan konservasi satwa berada di Kementerian Kehutanan. 

"Kewenangan izin konservasi ada di Kementerian Kehutanan. Pemerintah kota tentu berhati-hati agar tidak melampaui aturan yang ada,” pungkasnya.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran publik, terutama pengunjung yang berharap Bandung Zoo tetap berfungsi sebagai sarana edukasi, pelestarian satwa, dan ruang hijau strategis di Kota Bandung. 

Keberlanjutan kebun binatang ini menjadi penting, tidak hanya bagi kesejahteraan satwa, tetapi juga bagi generasi mendatang yang ingin menikmati dan belajar dari alam langsung di tengah kota. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar