Iklan

Bahar Malaka dan Detik yang Dipeluk Cahaya, Fragmen Awal Tahun dalam Goresan Doa

Posting Komentar
Pelukis Maestro Indonesia asal Cimahi, Bahar Malaka menghadirkan sebuah mahakarya di pergantian tahun 2025 ke 2026

SURAT KABAR, CIMAHI - Pergantian tahun bukan sekadar peristiwa kalender, melainkan momentum refleksi yang sarat makna bagi banyak orang. Di Kota Cimahi, detik-detik transisi dari 2025 ke 2026 dimaknai secara mendalam melalui bahasa seni. 

Pelukis Maestro Indonesia asal Cimahi, Bahar Malaka menghadirkan sebuah mahakarya kaligrafi monumental bertajuk Fragmen Awal Tahun, 'Goresan Cahaya di Tepi Danau', sebuah lukisan yang lahir tepat di ambang waktu pergantian tahun dan memuat pesan spiritual tentang pengetahuan, kesadaran, serta cahaya awal kehidupan.

Karya tersebut digarap pada 31 Desember 2025, dimulai pukul 23.00 WIB hingga tepat 00.00 WIB, menandai masuknya Tahun Baru 2026. Proses penciptaan lukisan dilakukan secara khidmat di Saung Baraya Mamah Windu, kawasan Kota Baru Parahyangan, Jalan Garunggang 2, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. 

Lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan, hamparan danau yang tenang menjadi ruang kontemplatif yang menyatu dengan tema karya.

Lukisan kaligrafi tersebut terinspirasi dari Surat Iqra dalam Al-Qur’an, yang memuat pesan fundamental tentang perintah membaca, belajar, dan memahami kehidupan. 

Tema ini dinilai relevan dan mendesak di tengah tantangan zaman, ketika manusia kerap kehilangan kedalaman refleksi di tengah arus informasi yang deras.

Goresan pertama kanvas dilakukan oleh Kang Asep Saepudin, pemilik Saung Baraya, sebelum kemudian dilanjutkan oleh Bahar Malaka. 

Sebelum kuas menyentuh bidang lukis, keduanya terlebih dahulu memanjatkan doa, menciptakan suasana hening yang menandai bahwa proses kreatif ini bukan semata aktivitas artistik, melainkan juga peristiwa spiritual. 

Sapuan warna dan garis yang perlahan terbentuk menghadirkan narasi tentang cahaya, ketenangan, serta harapan baru sebuah visualisasi refleksi manusia di awal tahun.

Momen penciptaan karya ini berlangsung di hadapan sejumlah pengunjung yang hadir bukan hanya untuk merayakan tahun baru, tetapi juga untuk menyaksikan langsung proses seni yang hidup dan bernapas. 

Kehadiran karya ini mempertegas pentingnya seni sebagai medium dialog batin dan ruang jeda dari hiruk pikuk kehidupan modern.

Saung Baraya Mamah Windu sendiri dalam beberapa tahun terakhir dikenal sebagai destinasi yang menggabungkan seni rupa kontemporer, kuliner tradisional Sunda, dan lanskap alam. 

Terletak di tepi danau, tempat ini menawarkan pengalaman yang bersifat holistik, menyentuh indera, rasa, sekaligus pikiran. 

Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan ruang-ruang publik yang menenangkan dan bermakna, kehadiran Saung Baraya menjadi alternatif yang relevan.

Dari sisi kuliner, Saung Baraya menyajikan sate maranggi khas Mamah Windu sebagai menu unggulan. Cita rasanya yang khas dan berbeda dari sate maranggi pada umumnya menjadikannya daya tarik tersendiri. 

Kuliner ini disajikan dalam suasana yang akrab dan tidak tergesa, dilengkapi dengan fasilitas hiburan ringan seperti permainan catur, alat musik, serta area edutainment yang ramah keluarga.

Peristiwa seni di penghujung tahun ini juga menjadi ajang pertemuan lintas latar belakang. Salah satu pengunjung, Darmojuhaeri Samadi, pengusaha kriya asal Bandung yang telah menjalankan bisnis di Montpellier, Spanyol selama 25 tahun, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi seni dan ruang budaya yang dihadirkan.

“Momentum seperti ini langka. Seni tidak hanya dipamerkan, tetapi dihidupkan dalam suasana yang jujur dan reflektif. Ini penting untuk menjaga hubungan manusia dengan nilai-nilai dasar kehidupan,” ujarnya.

Melalui perpaduan antara lukisan kaligrafi, kuliner tradisional, persahabatan, dan refleksi spiritual, Saung Baraya Mamah Windu menegaskan posisinya sebagai hidden gem di Kabupaten Bandung Barat. 

Lebih dari sekadar tempat makan atau lokasi rekreasi, ruang ini menawarkan pengalaman batin tempat orang dapat berhenti sejenak, menata ulang pikiran, dan menyambut tahun baru dengan kesadaran yang lebih utuh. 

Karya Fragmen Awal Tahun, Goresan Cahaya di Tepi Danau menjadi penanda bahwa seni memiliki peran penting dalam membaca zaman. Di awal 2026, pesan tentang membaca, memahami, dan menyalakan kembali cahaya pengetahuan menjadi semakin relevan. 

Di Cimahi, pesan itu hadir tidak dalam bentuk pidato atau seremoni, melainkan melalui goresan kuas yang lahir tepat saat waktu berganti.

Dengan napas yang ditata pelan, Bahar Malaka menurunkan setiap sapuan kuasnya bukan sekadar sebagai bentuk, melainkan sebagai titipan harapan. 

Goresan demi goresan itu menjelma doa yang senyap, mengalirkan rasa tenang dan keyakinan baru dalam menyambut 2026, tahun Kuda Api yang diyakini sarat energi, keberanian, dan perubahan. 

Dari bidang kanvas, lahir harapan tentang langkah yang lebih jujur, hidup yang lebih sadar, serta masa depan yang menyala tanpa kehilangan arah. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar