SURAT KABAR, BANDUNG BARAT - Sudah bertengger sekian lama, musim kemarau kali ini enggan menyapa Kabupaten Bandung Barat (KBB) dengan rintik hujan. Tanah-tanah pertanian meretak melukis dahaga, sementara sumur-sumur warga mulai kehilangan napasnya. Air bersih menjadi barang mewah yang kian sulit dicari.
Di tengah deru truk tangki air yang hilir mudik menyalurkan bantuan teknis dari pemerintah, ada ikhtiar lain yang digerakkan dari kedalaman hati. Di atas tanah kering Desa Mandalamukti, Kecamatan Cikalongwetan, ribuan pasang telapak tangan menengadah ke atas. Mereka mengetuk pintu langit.
Selasa pagi (15/9/2026), ribuan warga, ulama, santri, hingga pelajar berkumpul dalam saf-saf yang rapi. Mereka bersimpuh melaksanakan Salat Istisqa, sebuah ritual kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta, memohon agar rahmat hujan kembali dibasuhkan ke bumi Bandung Barat.
Suasana haru menyelimuti alunan doa yang melambung ke udara. Di tengah hamparan debu dan udara kemarau yang menyengat, lantunan istighfar bergema tenang namun bergetar.
"Ini adalah wujud kerendahan hati kita di hadapan Allah SWT, memohon agar diturunkan hujan yang membawa keberkahan, kesuburan, serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Bandung Barat," ujar Wakil Bupati KBB, Asep Ismail, yang hadir mewakili Bupati Jeje Richie Ismail.
Bagi Asep, krisis air bersih tak sekadar memeras otak pemerintah dalam mencari solusi logistik, tetapi juga mengetuk kesadaran batiniah seluruh elemen masyarakat. Pasokan air dari tangki-tangki bantuan hanyalah penambal dahaga sementara, sedangkan hujan adalah jawaban hakiki yang dinanti.
Sinergi hangat pun terpancar di lapangan. Pengurus MUI, Kementerian Agama KBB, unsur Forkopimcam Cikalongwetan, hingga lembaga pendidikan bahu-membahu menggerakkan masyarakat. Ribuan anak-anak sekolah dan santri berdiri sejajar dengan para sesepuh daerah, menyatukan ketulusan doa.
"Tak hanya khusus memohon hujan, doa bersama ini juga dilantungkan agar keberkahan, kebaikan, dan kemajuan selalu menaungi Bandung Barat," tambah Asep di akhir munajatnya.
Ketika shalat usai dan saf-saf membubar, langit Cikalongwetan mungkin masih menyisakan terik. Namun, di wajah-wajah yang basah oleh air wudu dan air mata doa, terbit sebuah harapan baru: bahwa langit tak akan pernah menutup telinganya bagi hamba yang mau bersimpuh. (SAT)



Posting Komentar