SURAT KABAR, BANDUNG - Mata kering sering dianggap sepele. Padahal, kalau terus dibiarkan, keluhan ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan berujung pada iritasi hingga peradangan kronis.
Menjawab kebutuhan itu, Klinik Utama Mata Prime A. Yani Bandung membuka Dry Eye Center, layanan khusus mata kering yang didukung teknologi Low Level Laser Therapy (LLLT). Peresmiannya berlangsung pada 8 Oktober 2026 di Jalan A. Yani No. 271C, Bandung.
Salah satu pendiri Klinik Utama Mata Prime Center A. Yani, dr. Novita Sitompul, Sp.M(K), menyebut mata kering banyak dialami masyarakat, tetapi jarang disadari. Gejalanya antara lain mata terasa sepet, mengganjal, gatal, merah, hingga penglihatan buram yang hilang timbul.
"Jadi misalnya dari 100 pasien, 80 di antaranya matanya kering, tapi tidak disadari, ya," ujar dr. Novita.
Grand Opening Dry Eye Center di Klinik Utama Mata Prime A.Yani, Hadirkan Teknologi LLLT untuk Atasi Mata Kering
Ia menjelaskan, pada usia muda pemicu utamanya adalah penggunaan gadget terlalu lama. Saat menatap layar, orang cenderung jarang berkedip sehingga air mata lebih cepat menguap.
"Ketika tidak mengedip, maka ada air mata yang menguap, akhirnya kering," katanya.
Dr. Novita juga mengingatkan agar obat tetes mata tidak dipakai sembarangan. Air mata buatan memang membantu meredakan keluhan, tetapi pemakaian jangka panjang perlu disesuaikan dengan kondisi dan penyebab mata keringnya.
"Ketika kita menggunakannya tanpa tahu penyebabnya kenapa dari awal tidak nyaman, akan jadi ketergantungan," jelasnya.
Di Dry Eye Center KU Mata Prime A.Yani, diagnosis tidak hanya bertumpu pada keluhan pasien. Dokter melakukan pemeriksaan yang lebih menyeluruh, salah satunya tear film analysis, untuk melihat kondisi air mata dan kelenjar Meibomian yang menjaga kestabilan lapisan air mata.
"Di kami, kami tidak mau memvonis seseorang itu mata kering dengan begitu saja, hanya dengan ngobrol. Tapi kami melakukan pemeriksaan yang komprehensif," tutur dr. Novita.
Sebagai langkah awal, masyarakat bisa mengisi kuesioner DEQ-5 yang bisa diakses di https://primecenterclinics.id/kuesioner-dry-eye/ untuk mengukur tingkat keluhan mata kering.
Meski begitu, hasilnya tetap harus dipadukan dengan tanda klinis dari pemeriksaan dokter agar diagnosisnya pasti.
Untuk terapinya, Dry Eye Center KU Mata Prime A.Yani mengandalkan LLLT, terutama pada mata kering evaporatif yang berkaitan dengan gangguan fungsi kelenjar Meibomian atau Meibomian Gland Dysfunction (MGD).
Terapi ini memanfaatkan paparan cahaya terkontrol di sekitar kelopak mata untuk membantu melunakkan sumbatan pada kelenjar tersebut. Pemberiannya tetap mengikuti hasil pemeriksaan dan indikasi medis.
"Mata kering bukan sekadar rasa tidak nyaman yang boleh dibiarkan," kata dr. Novita.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan.
"Jangan menunggu keluhan mata mengganggu aktivitas sehari-hari. Mari lebih peduli terhadap kesehatan mata dan lakukan pemeriksaan apabila mulai merasakan gejalanya," pungkasnya. (SAT)



Posting Komentar