Bandung Barat Tembus Pasar Dunia, 20,4 Ton Kopi Java Halu Diekspor ke Empat Negara

Redaksi
Tambahkan
...
0
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail

SURAT KABAR, BANDUNG BARAT - Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali menegaskan posisinya sebagai produsen kopi berkualitas internasional. Sebanyak 20,4 ton Kopi Arabika Java Halu asal Kecamatan Gununghalu resmi diekspor ke empat negara tujuan, yakni Vietnam, Jepang, Australia, dan Inggris.

Pelepasan ekspor ini ditandai dengan keberangkatan dua armada truk angkut yang dilepas langsung oleh Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, di Kantor Pemerintahan Daerah KBB, Senin (20/7/2026).

"Ini merupakan kebanggaan besar bagi KBB. Kopi hasil keringat petani lokal kini semakin diakui di pasar Internasional. Keberhasilan Kopi Java Halu ini harus menjadi pemicu semangat bagi kelompok tani lain di Bandung Barat untuk terus meningkatkan kualitas produknya," ujar Jeje.

Kopi yang diekspor kali ini hadir dalam empat varian pengolahan, yaitu natural, double wash, black honey, dan luwak enzimatik. Selain biji kopi, Java Halu juga memanfaatkan limbah kulit kopi (cascara) untuk diekspor ke Jepang dalam bentuk minuman kesehatan Kombucha.

Pemilik usaha Kopi Java Halu, Rani Mayasari, mengungkapkan bahwa menembus pasar Vietnam menjadi catatan rekor tersendiri selama hampir tujuh tahun ia mengembangkan usahanya. Pasalnya, regulasi ekspor ke Vietnam tergolong sangat ketat, yakni mewajibkan kelulusan 46 parameter residu kimia.

"Alhamdulillah, melalui pendampingan dari dinas terkait dan perguruan tinggi, produk kami dinyatakan lolos Certificate of Analysis (COA). Saat ini permintaan terbesar justru datang dari Vietnam, yakni mencapai lebih dari 10 ton," kata Rani.

Keberhasilan Java Halu juga berdampak signifikan terhadap perekonomian lokal. Mengelola sekitar 60 hektare lahan di Gununghalu, Rani memberdayakan 160 petani lokal—di mana 80 persen di antaranya adalah kelompok tani perempuan. Setiap musim panen, lahan tersebut mampu menghasilkan sekitar 300 ton buah kopi (cherry).

Fokus pada kualitas premium mendorong peningkatan harga beli di tingkat petani dari Rp18.000 menjadi Rp20.000 hingga Rp26.000 per kilogram.

"Dalam satu musim panen, kami menyerap hasil panen petani hingga mencapai Rp3,25 miliar. Strategi kami adalah mengunci pasar (lock market) terlebih dahulu sebelum produksi, sehingga seluruh hasil panen dipastikan terserap," pungkas Rani. (SAT)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar