SURAT KABAR, CIMAHI - Di tengah derasnya arus informasi di ruang digital, literasi sosial-politik Generasi Z, terutama perempuan di Kota Cimahi, masih menghadapi sejumlah persoalan. Kondisi tersebut bukan semata-mata menunjukkan rendahnya kepedulian anak muda terhadap politik.
Persoalannya, derasnya informasi di media sosial belum selalu diikuti pemahaman yang memadai terhadap isu sosial dan politik.
Ketua DPC PPP Kota Cimahi sekaligus Anggota Komisi I DPRD Kota Cimahi, Fitriyani Angelina, mengatakan perhatian perempuan muda dan Gen Z terhadap isu sosial-politik di Kota Cimahi sebenarnya sudah terlihat.
Namun, pemahaman mereka terhadap informasi yang beredar masih perlu diperkuat, terutama dalam memahami persoalan secara lebih mendalam.
"Kalau menurut saya, Gen Z terutama perempuan muda yang ada di Kota Cimahi, mereka sudah cukup peduli dan melek terhadap isu-isu sosial dan politik yang ada di Kota Cimahi," ujar Fitriyani saat diwawancarai Surat Kabar, Minggu (20/9/26).
Fitriyani mengatakan, tantangan literasi politik di kalangan Gen Z tidak hanya berkaitan dengan banyaknya informasi yang diterima, tetapi juga kemampuan untuk memeriksa kebenaran serta memahami konteks informasi tersebut.
Perempuan Gen Z, menurut dia, perlu memiliki kemampuan dalam menyaring informasi yang diperoleh dari media sosial.
"Yang aktivitas di media sosial itu, mereka belum cukup memahami secara mendalam tentang isu-isu politik dan sosial di Kota Cimahi. Tantangannya adalah kita harus memberikan pemahaman kepada mereka mengenai informasi yang mereka terima harus bisa diverifikasi, harus bisa ditelaah," katanya.
Menurut Fitriyani, penguatan literasi sosial-politik Gen Z dapat dilakukan dengan memperluas ruang komunikasi dan dialog secara langsung.
Melalui ruang tersebut, sambungnya, anak muda khususnya perempuan, dapat ikut membahas berbagai isu dan persoalan yang terjadi di lingkungan mereka, bukan hanya menerima informasi secara pasif melalui media sosial.
"Mengatasi tantangan tersebut, ya membuka ruang-ruang komunikasi, membuka ruang dialog secara langsung dengan anak-anak muda terutama perempuan-perempuan muda untuk membahas isu-isu yang sedang dibahas dan permasalahan yang ada di Kota Cimahi," tutur Fitriyani.
Ia menambahkan, pola komunikasi dengan Gen Z juga harus bersifat interaktif. Dengan begitu, literasi politik perempuan Kota Cimahi tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi berkembang menjadi ruang bertukar gagasan dan menyampaikan aspirasi.
"Jangan hanya diberikan informasi, tapi tetap diajak komunikasi, dialog interaktif dengan anak-anak muda," ucapnya.
Upaya tersebut, kata Fitriyani, telah dilakukan melalui kegiatan reses maupun hearing sebagai anggota DPRD Kota Cimahi. Dalam forum tersebut, perempuan dan anak muda diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mendapatkan informasi mengenai kondisi Kota Cimahi.
"Karena reses itu kan tiga kali dalam setahun, hearing juga ada. Di situ saya memberikan kesempatan kepada mereka bukan hanya menyampaikan aspirasi, tetapi saya juga memberikan informasi terkait dengan kondisi Kota Cimahi hari ini," katanya.
Persoalan lain yang turut memengaruhi literasi politik perempuan Gen Z adalah pemahaman yang terbentuk dari pendidikan, kebiasaan, hingga budaya di masyarakat. Fitriyani menyebut masih ada anggapan bahwa politik merupakan ranah laki-laki dan hanya diperuntukkan bagi kelompok tertentu.
"Kalau menurut saya adalah pemahaman, karena pendidikan dan kebiasaan serta budaya selama ini yang dibangun oleh masyarakat bahwa politik itu hanya untuk laki-laki dan kalangan-kalangan tertentu," ujar Fitriyani.
Padahal, menurutnya, perempuan muda memiliki kesempatan yang sama untuk ikut menentukan arah kebijakan politik. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam politik perlu terus dibuka melalui ruang partisipasi yang nyata.
"Padahal perempuan muda juga punya kesempatan yang sama untuk menentukan arah kebijakan politik hari ini untuk masa depan," katanya.
Fitriyani pun mengaku selalu berupaya melibatkan perempuan dan anak muda dalam setiap agenda reses. Tidak hanya mendengarkan aspirasi, tetapi juga mengawal aspirasi tersebut agar dapat diperjuangkan dan direalisasikan.
Di era digital, literasi sosial-politik Gen Z Kota Cimahi juga dinilai tidak bisa dilepaskan dari media sosial. Fitriyani mengatakan edukasi politik harus mengikuti pola komunikasi generasi muda yang sehari-hari dekat dengan platform digital.
"Mau tidak mau anak-anak muda zaman sekarang kan pasti di handphone-nya selalu membuka media sosial. Kita harus bisa memberikan edukasi yang masuk ke dalam kehidupan mereka," tuturnya.
Karena itu, literasi politik Gen Z menurut Fitriyani perlu dikemas dengan cara yang lebih santai dan relevan. Politik, kata dia, jangan hanya muncul ketika momentum pemilu berlangsung.
"Politik itu harus dikemas dengan santai. Politik itu harus dikemas dalam media sosial, jangan hanya melulu pada saat pemilu," katanya.
Isu yang diangkat pun sebaiknya dekat dengan kehidupan sehari-hari Gen Z, mulai dari lapangan pekerjaan, transportasi, persoalan sosial, teknologi hingga media sosial.
"Jadi politik itu harus bisa membahas tentang isu-isu strategis yang dekat dengan anak-anak muda terutama di Kota Cimahi," ujar Fitriyani.
Ia menyebut TikTok, Instagram hingga Facebook dapat dimanfaatkan sebagai ruang edukasi untuk meningkatkan literasi politik perempuan Kota Cimahi, terutama dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
Selain reses dan media sosial, keterlibatan anak muda juga dilakukan melalui komunitas Wargi Fitri atau WiFi. Komunitas tersebut disebut telah berdiri sejak 2017 dan melibatkan banyak anak muda, khususnya di wilayah Cimahi Selatan.
Komunitas Wargi Fitri menjadi salah satu wadah yang mempertemukan anak muda dengan berbagai kegiatan sosial sekaligus membuka ruang keterlibatan generasi muda dalam isu kepemimpinan dan politik.
Dalam pengembangannya, politik dinilai perlu dikemas semenarik mungkin agar Gen Z Kota Cimahi tertarik mencari tahu lebih jauh. Narasi yang digunakan juga diharapkan tidak terlalu rumit sehingga pesan politik dapat diterima dengan lebih mudah oleh generasi muda.
Kehadiran perempuan muda dalam ruang politik juga dinilai dapat menjadi contoh bahwa kepemimpinan politik tidak hanya menjadi ruang bagi laki-laki. Fitriyani sendiri menyebut posisinya sebagai Ketua DPC PPP Kota Cimahi dapat menjadi gambaran bahwa perempuan muda memiliki kesempatan untuk berada di posisi strategis.
"Contohnya, saya hari ini di Kota Cimahi menjadi Ketua DPC PPP Kota Cimahi, itu kan salah satu contoh kepada perempuan-perempuan muda bahwa saya bisa menjadi ketua partai di Kota Cimahi," ucapnya.
Di tengah tantangan literasi sosial-politik Gen Z, Fitriyani berharap perempuan muda di Kota Cimahi tidak lagi ragu menyampaikan gagasan maupun kritik. Menurutnya, keterlibatan perempuan dibutuhkan untuk ikut membangun Kota Cimahi.
Menurutnya, literasi politik tidak sesempit urusan menentukan siapa yang harus dipilih anak muda. Literasi politik, kata Fitriyani, adalah soal kecakapan menimbang mengapa sebuah pilihan diambil, memahami bagaimana kebijakan bekerja dan berdampak pada kehidupan mereka, serta keberanian untuk ambil bagian dalam proses demokrasi.
Ditegaskannya, Gen Z hari ini bukan hanya calon pemilih. Mereka adalah kekuatan yang akan menentukan masa depan Cimahi.
"Pesan dari saya, jangan takut mengenal politik. Politik bukan sekadar soal pemilu, tetapi tentang bagaimana keputusan hari ini menentukan kehidupan kita ke depan. Perempuan muda harus berani hadir, bersuara dan mengambil peran," kata Fitriyani menutup. (SAT)




Posting Komentar