Iklan

Rumah Saudagar yang Pernah Menyambut Soekarno Muda Itu Kini Akan Dijual

Posting Komentar
Rumah Saudagar yang Pernah Menyambut Soekarno Muda Itu Kini Akan Dijual

SURAT KABAR, CIMAHI (FEATURE) - Oleh Waktu dan Keputusan Keluarga, sebuah rumah tua di Baros, Kota Cimahi, kini berada di persimpangan sejarah, dilepas ke pasar, atau bertahan sebagai penanda masa ketika perdagangan, pergerakan nasional, dan perjuangan kemerdekaan bertaut dalam satu halaman kehidupan.

Di tengah hamparan sawah dan kebun kelapa Baros yang sunyi, sebuah rumah bergaya Barat berdiri sejak 1918. 

Bangunan itu bukan sekadar hunian, melainkan saksi hidup dari perjalanan Wongso Abuchaer, seorang perantau dari Kotagede, Yogyakarta, yang menapak dari bakul pasar hingga saudagar besar, dari pelaku ekonomi hingga bagian dari denyut pergerakan nasional.

Kini, lebih dari satu abad kemudian, rumah itu akan dijual. Keputusan tersebut menandai babak akhir dari sebuah warisan yang menyimpan kisah tentang Cimahi sebelum kota ini bernama, tentang perdagangan yang membangun kawasan, dan tentang republik yang lahir dari ruang-ruang pertemuan sederhana.

Dari Lapak Bedeng ke Rumah Bergaya KNIL

Wongso Abuchaer tiba di Cimahi pada 1890-an. Ia memulai hidup sebagai pedagang kecil, menjual sandal kayu dan klompen di Pasar Antri, yang kala itu masih berupa lapak-lapak bedeng. 

Tinggal di Gang Rangsom, ia perlahan memperluas dagangan, membawa batik dari Yogya, hingga menjelma saudagar dengan beberapa titik jualan di pasar yang sama.

Ketika usahanya mapan, Wongso memilih Baros di selatan kawasan Garnisun sebagai tempat membangun rumah permanen di atas lahan seluas 2.000 meter persegi. Arsitekturnya bergaya Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), mencerminkan selera dan posisi sosial seorang saudagar pribumi di era kolonial.

Rumah itu memiliki beranda depan, kamar-kamar tidur di sisi bangunan, serta ruang tengah keluarga dengan tiga kamar berlangit-langit unik menggunakan pelat eser dan papan kayu jati. Bagian belakang (achter galerij) difungsikan sebagai area pembantu, dapur, dan kamar mandi yang terhubung koridor. 

Di sisi kanan berdiri paviliun, sementara di depan pernah ada pendopo yang kerap menjadi tempat pagelaran wayang kulit saat muludan hingga akhirnya dirobohkan pada 1982.

Saudagar, Haji, dan Penggerak Komunitas

Wongso menikah dua kali. Dari pernikahan pertamanya dengan perempuan Kotagede, ia dikaruniai sembilan anak satu di antaranya meninggal saat bayi dan seluruhnya lahir di Cimahi. 

Sepulang haji pada 1938, ia menambahkan nama Abuchaer pada namanya, menandai fase baru dalam hidup dan usahanya.

Bisnis Wongso melesat. Ia menyuplai beras, tepung, dan gula ke tangsi-tangsi tentara. Bahkan, ia mendirikan pasar di seberang rumahnya di Baros. Wongso mengajak saudara dan rekan dari Yogya untuk berdagang, menjadikan Baros sebagai kantong perantau Yogya yang hidup dari aktivitas niaga.

Bersama keluarga Haji Saaran, tukang jagal terkenal yang namanya kini diabadikan sebagai Gang Saaran Wongso membangun jejaring usaha di Pasar Antri dan Baros. Hasil penjualan aset bersama mereka turut digunakan untuk membangun Masjid As Saab di Cipageran, nama yang merupakan gabungan dari Saaran dan Abuchaer.

Rumah yang Menyimpan Jejak Pergerakan

Peran Wongso tidak berhenti pada perdagangan. Ia aktif di Sarekat Islam sebagai bendahara. Rumahnya kerap menjadi tempat singgah tokoh-tokoh pergerakan, termasuk HOS Tjokroaminoto yang beberapa kali bertandang ke kediamannya di Jalan Bapa Ampi.

Dalam catatan keluarga, Soekarno muda pernah bersilaturahmi ke rumah Wongso di Baros, jauh sebelum republik berdiri. Pada masa pendudukan Jepang hingga kembalinya Belanda, anak-anak Wongso, di antaranya Sutjinem, Sutjinah, dan Kartono Abuchaer, turut terlibat dalam perjuangan.

Sutjinem dan Sutjinah aktif di Laswi dan Palang Merah Indonesia, membantu logistik dan perawatan pejuang di tengah kejaran Belanda. Bahkan, salah seorang cucu sempat disandera. Rumah di Baros pun pernah terbakar akibat serangan Belanda. Pada 1948, Wongso ikut hijrah ke Yogyakarta bersama Divisi Siliwangi. Ia wafat di sana pada usia 68 tahun.

Ketika keluarga kembali ke Cimahi, rumah tersebut telah dijarah. Guci-guci besar, lampu kristal, dan berbagai perabot berharga lenyap, meninggalkan bangunan kosong dengan ingatan yang terkoyak.

Warisan yang Kian Rapuh

Harta dan tanah Wongso kemudian dibagi kepada anak-anaknya. Sebagian memperoleh rumah di Jalan Lurah, Gang Rangsom, Gatot Subroto, dan Kebon Sari. Kartono ayah Dewi Indraprasti mendapatkan rumah dan lahan di Baros. Bahkan, lahan tempat Bank BCA Cimahi kini berdiri, dulunya merupakan milik Wongso.

Hari ini, Dewi Indraprasti bersama suaminya, H. Tiswara pensiunan PJKA menjadi satu-satunya penghuni rumah antik tersebut. Usia yang menua dan ketiadaan penerus membuat keluarga besar mengambil keputusan berat, menjual rumah itu.

"Berat sebetulnya, tapi tidak ada yang mau melanjutkan menjaga rumah. Kami sudah sepuh," ujar Dewi.

Rumah ini pernah disinggahi sejumlah tokoh penting. Bupati Bandung dari trah Wiranatakusumah dan Residen Priangan hadir dalam pernikahan putri Wongso. 

Rahmawati Soekarnoputri juga pernah datang dalam rangka napak tilas jejak Bung Karno. Bahkan, Yamaguchi mantan komandan kamp Tjimahi pada masa pendudukan Jepang pernah berkunjung ke rumah tersebut.

Antara Pasar dan Ingatan

Rencana penjualan rumah ini memantik kegelisahan kalangan pelestari sejarah. Ketua Komunitas Tjimahi Heritage, Machmud Mubarok, menilai Wongso Abuchaer layak diabadikan sebagai nama jalan di Cimahi, mengingat kontribusinya dalam membangun perdagangan lokal sekaligus keterlibatannya dalam perjuangan kemerdekaan.

Ia juga mengingatkan bahwa rumah ini pernah menjadi sasaran penjarahan pada masa pendudukan Belanda, sebuah lapisan sejarah yang menambah kedalaman maknanya. 

Pada 2010-an, Rahmawati Soekarnoputri kembali menyambangi rumah ini, mengajak keluarga Wongso mengikuti napak tilas perjuangan Bung Karno ke Banceuy.

Kini, ketika rumah itu bersiap dilepas, pertanyaan yang tersisa bukan semata soal kepemilikan. Apakah jejak Wongso Abuchaer saudagar yang membangun Baros dan mengikatkan hidupnya pada republik akan tetap dirawat sebagai ingatan kolektif, atau perlahan lenyap, tersapu transaksi dan waktu? (SAT)

Related Posts

Posting Komentar